Matamorfosis Sang Juara

Posted March 18, 2009 by keluargaalhikmah
Categories: sharing

Tags:

(Inilah tulisan yang menjadi pemenang Juara 2 pada Lomba Menulis Kisah Inspiratif  Walimurid Al Hikmah)

n1570308770_70391_8947 Metamorfosis Sang Juara

Oleh : Itho Bharata *)

Dalam salah satu gerbong kereta api Ekspres Agro Anggrek Surabaya-Jakarta. Tidak terasa air mataku menetes satu demi satu , saat ku baca lagi pesan singkat dari Deputy leader anakku, “Alhamdulillah! Ananda mendapat Silver Medals”. Aku memang nekat berangkat ke Jakarta malam itu, dengan karcis terakhir yang tersisa di loket. Aku ingin menjemput sendiri anakku yang baru kembali dari Olimpiade Matematika di Singapura. Subhanallah …. Aku ingin menyambutnya dengan senyuman termanisku. Karena aku ingin dia tahu betapa aku sangat bangga padanya. Karena memang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, bahwa anakku “yang sekarang”, sudah bisa mengharumkan nama Bangsa, Negara dan Agamanya …………


Bagaimana mendidik anak supaya jadi juara? Bagaimana supaya anak gemar Matematika? Kursus-kursus apa saja yang harus diikuti supaya bisa berprestasi? Bagaimana cara mengetahui bakat anak sejak dini? dan lain lain. Pertanyaan itulah yang selalu berulang kali ditanyakan hampir semua orang yang kutemui, juga wartawan saat wawancara, maupun dalam talk show yang mengundang kami sebagai bintang tamu, setelah anakku berhasil memenangkan beberapa kompetisi yang diikutinya . Malu rasanya aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aku merasa belum pantas untuk menjawabnya. Aku bukan orang pandai yang punya beribu teori dalam mendidik anak. Aku juga bukan ibu yang sudah punya banyak pengalaman. Bagaimana kalau caraku mendidik anak ternyata salah? Bagaimana kalau jawabanku justru menjerumuskan orang tua lain? Aku tanyakan ke suamiku, dan sering kupaksa dia untuk ikut menemaniku menjawab pertanyaan mereka. Sungguh aku merasa tidak pede. Aku takut salah berteori, takut salah bicara dan sebagainya. Dan dengan berbagai alasan, suamiku selalu menolak, karena dia merasa tidak terjun langsung mendidik anak-anak. “Trus aku harus ngomong apa Pah?” Suamiku hanya berkata : “Ceritakan saja pengalamanmu apa adanya”.

Kucoba mengingat kembali peristiwa 11 tahun lalu, dan mungkin orang tidak akan percaya kalau kuceritakan bahwa anakku yang mereka lihat sekarang ini sangat berbeda dengan masa kecilnya dulu. Anakku yang saat balitanya adalah anak yang sangat aktif (cenderung hiperaktif), manja , tidak sabaran, susah konsentrasi, menang sendiri, tidak mau kalah dan sebagainya, sekarang sudah banyak “berubah”. Dan perubahan itu ternyata mengalir begitu saja, walaupun awalnya aku sendiri juga gamang, apakah aku bisa membuat anakku berubah? harus kumulai darimana dulu untuk merubahnya? Dan dengan cara bagaimana?

Sejak dinyatakan positif hamil oleh dokter, aku menyambutnya dengan perasaan gembira. Walaupun saat itu aku masih bekerja di salah satu bank BUMN di Surabaya, kehamilanku tidak membuatku jadi bermalas-malasan. Aku malah semakin rajin melakukan sholat dan puasa, dari yang wajib sampai yang sunah, juga membaca Al Quran. Aku sendiri juga heran, kenapa waktu hamil yang pertama ini aku rajin sekali beribadah. Kalau ditanya makanan apa saja yang kumakan selama hamil? aku lupa, tapi yang kuingat, aku tidak ada masalah dengan makanan. Tidak ada ngidam. Semua makanan kumakan, malahan saat itu, bila aku masih terlintas kepingin makanan tertentu, tiba-tiba makanan itu sudah ada di depanku (tiba-tiba menu rantangan makan siangku sesuai dengan yang kuinginkan, rombong makanan keliling yang tidak pernah lewat rumah tiba-tiba lewat ketika kuinginkan, buah yang bukan musimnya juga tersedia di toko buah dan kebetulan-kebetulan lainnya). Dan ternyata sampai bulan kesembilan kehamilanku, hasil USG masih memperlihatkan kalau bayiku dalam posisi sungsang. Akhirnya dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi. Di bulan Ramadhan, tanggal 14 Januari 1997, pukul 08.30, anakku lahir dengan selamat. Kata dokter yang mengoperasi, ternyata tali pusatnya pendek, sehingga membuat si bayi tidak bisa berada pada posisi normal. Tapi lucunya ada juga orang tua yang bilang ke aku, kalau kepercayaan kuno dulu, anak yang terlahir sungsang, pertanda kalau nantinya akan jadi Tabib (orang pandai pada jaman dulu atau istilah sekarang, dokter), karena sejak dalam kandungan, si jabang bayi sudah bersemedi dengan posisi kepala terbalik. Amin. Wallahualam.

Mungkin karena di dalam perut dia tidak bisa banyak bergerak (karena ada kelainan pada tali pusatnya), sehingga setelah diluar, dia bagaikan lepas dari belenggu. Kebetulan anakku yang pertama, saat itu adalah cucu pertama dari keluarga suamiku. Sehingga nenek dan kakeknya, juga tante-tantenya sangat memanjakannya (diawal menikah aku masih tinggal serumah dengan mertua). Jadi bagaikan raja kecil dengan dayang-dayangnya (1 baby sitter dan 2 orang pembantu), anakku tidak pernah bisa diam, bergerak kesana-kemari seperti tidak kenal lelah, minta ini itu cuma menunjuk dan berbicara dengan bahasa planetnya (anakku baru bisa bicara pada saat usia 2,5 tahun), dan rasanya dia juga belum puas kalau seluruh rumah belum dijelajahi dan dibuatnya berantakan. Kalau bermain dengan teman atau saudara (yang sedang berkunjung) ujung-ujungnya pasti menangis, kalau tidak berantem gara-gara berebut mainan atau anakku tidak mau kalah kalau sedang bermain. Dan karena sangat aktifnya anakku sering tidak bisa tidur hingga larut malam. Ada saja yang dikerjakannya, padahal yang menjaga sudah pada ketiduran karena kelelahan mengikuti dia seharian.

Dulu aku sering malu rasanya kalau mengajak dia bepergian keluar rumah atau ke berbagai pertemuan, karena hampir semua orang yang melihat tingkah polah anakku akan mengatakan kalau anakku “nakal sekali” (hanya beberapa orang yang mengerti bahasa psikologi akan mengatakan kalau anakku sangat aktif). Dia selalu membuat ulah yang membuat aku ingin cepat-cepat angkat kaki dari tempat tersebut, karena malu. Awalnya kupikir semuanya itu masih dalam batas wajar, namanya juga anak-anak, pikirku, tetapi lama-lama karena banyak yang mengatakan begitu, membuatku kepikiran juga.

Sejak kecil dia memang sudah terlihat cerdas. Saat usia 2,5 tahun, setelah mulai lancar berbicara, dia langsung hapal luar kepala angka, abjad, warna, nama binatang dll (dalam bahasa Inggris dan Indonesia), memasang puzzle hanya dalam hitungan detik, juga kemampuan lainnya. Sehingga saat itu, karena kuanggap sudah mampu, di usia 3 tahun sudah kumasukkan ke play group. Tapi ternyata aku salah, walaupun mungkin dia mampu mengikuti semua kegiatan, tapi emosinya tetap tidak bisa dipaksa. Sehingga waktu dia tidak dinaikkan tingkat di kelompok play groupnya, aku sempat protes , Anakku kan mampu? kenapa tidak boleh naik? dan setelah mereka menjelaskan bahwa anakku memang menonjol di hampir semua aspek, tapi emosinya masih belum stabil, baru aku bisa mengerti. Tapi saat itu aku belum menangani “masalah” anakku secara serius (karena saat itu aku masih bekerja, hingga waktuku sangat terbatas).

Aku baru bener-bener tersentak setelah anakku tidak diterima masuk ke sekolah Taman Kanak-kanak yang kami inginkan. Dan mereka memberikan catatan khusus tentang perilaku anakku pada berkas test masuknya. Sejak saat itu, baru aku sadar bahwa anakku punya masalah serius. Saat itu aku sedih sekali. Bukan karena tidak diterima di sekolah tersebut, tapi aku merasa bersalah karena tidak menyadari lebih dini apa yang terjadi padanya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, dan kebetulan aku juga baru melahirkan anak kedua, akhirnya kuputuskan aku keluar dari tempat kerjaku supaya aku lebih bisa berkonsentrasi memperhatikan keluarga. Apalagi aku juga sudah mulai diingatkan orang tuaku, “Anakmu yang satu ini harus lebih kamu perhatikan, karena dia anak yang pinter, kalau tidak diarahkan yang bener, dia akan jadi nakal dan bisa lebih berbahaya dari anak yang rata-rata” Akhirnya kumasukkan anakku ke TK Islam lain yang kuanggap baik juga. Dan aku terus berkonsultasi dengan guru kelasnya, untuk mengikuti perkembangannya. Selain itu, aku mulai banyak berkonsultasi ke orang-orang yang paham ilmu psikologi. Aku juga mulai membaca buku-buku tentang psikologi anak, dan juga banyak berkomunikasi dengan ibu-ibu yang mempunyai anak “bermasalah”. Dan kesimpulannya, sebenarnya anakku tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan, tapi memang dia sangat aktif (energinya berlebih) dan mereka menyarankan memberikannya banyak kegiatan yang dapat menyalurkan energinya.

Kucoba mulai mencari informasi beberapa kegiatan yang kira-kira sesuai dengan kemampuannya dan yang menarik minatnya. Awalnya kucoba memasukkannya ke kursus aritmatika (sempoa), dan ternyata dia suka. Kemudian berlanjut ke kursus bahasa Inggris, kursus menggambar, dan dirumah juga dibantu oleh guru privat yang menemaninya belajar dan bermain. Hari Minggunya kuajak dia kursus berenang. Sejak itu, tiada hari tanpa kegiatan untuk anakku. Orang yang melihat mungkin tidak tega. Bahkan aku disalahkan oleh beberapa orang, yang tidak setuju dengan perlakuanku. Ada yang bilang, aku terlalu mengekploitasi anakku sendiri, aku berambisi dan beberapa omongan lainnya. Aku sedih mendengarnya. Kalau mau jujur, sebenarnya aku juga nggak tega melihatnya seperti itu. Tapi demi kebaikannya juga, aku harus sabar dan mencoba bertahan. Aku hanya bisa berdoa, Semoga apa yang aku lakukan tidak salah dan berharap suatu saat pasti berbuah hasil..

Tapi boleh percaya boleh tidak, ternyata dengan semua kegiatannya itu, anakku tidak pernah mengeluh, dia melakukannya dengan senang. Bahkan kalau tidak bisa masuk dia sangat kecewa dan malah menangis karena takut ketinggalan dengan temannya. Memang kadang dia juga merajuk tidak mau berangkat (biasanya karena ada yang “lebih menarik” di rumah), tapi itu jarang sekali terjadi. Dan Alhamdulillah, secara perlahan anakku mulai banyak berubah. Tidurnya mulai lebih awal, anaknya mulai tenang, mulai focus pada kegiatan yang dilakukan dan konsentrasinya meningkat. Juga kemampuan lainnya mulai mengikuti dan berkembang dengan baik. Dan karena ketekunannya dalam berlatih, ternyata dia bisa berprestasi di semua tempat kursusnya. Di kursus sempoanya, bahkan selalu terpilih untuk mewakili lomba di tingkat Nasional (sejak duduk di TK sampai kelas 5).

Walaupun kegiatannya sangat padat, pelajaran sekolahnya tidak pernah terganggu (Alhamdulillah di kelas dia anak berprestasi). Padahal awalnya aku juga khawatir, karena dia juga mulai masuk sekolah full day. Tapi Subhanallah., Maha suci Allah yang telah membuat otak dan tubuh kita sedemikian hebatnya. Memang sering kita meremehkan dan memanjakan kemampuan otak dan tubuh seorang anak kecil. Takut mereka capek, takut jatuh sakit, takut sekolahnya terganggu dan sebagainya. Padahal kalau kita tahu, kemampuannya ternyata sangat luar biasa. Karena sebenarnya otak kita juga sama dengan anggota tubuh yang lain, yang bila dilatih sejak kecil lama-lama akan menjadi “tough” (kuat dan tangguh) . Seperti juga seorang olahragawan, karena otot mereka terbiasa diberikan latihan berat, akhirnya mereka tidak akan merasa lelah lagi ketika disuruh lari berapa ribu meter atau mengangkat beban berat sekalipun. Memang tidak ada yang instan, semuanya perlu latihan dan kesabaran.

Teori tersebut mungkin tidak bisa diberikan kepada semua anak. Terbukti teori tersebut tidak bisa kami terapkan ke anak kami yang lain. Tapi aku hanya ingin mengubah pandangan orang tua yang sering pesimis dengan kemampuan anaknya . Karena sekarang, banyak yang bilang ke aku, “Enak ya mbak anaknya pinter, jadi ndak repot kayak kita”. Sebenarnya kalau mau dibilang, anakku juga bukan anak yang sangat jenius dengan IQ 150, bahkan mungkin anak yang lebih pandai dari anakku juga sangat banyak. Mungkin mereka hanya melihat anakku sudah seperti sekarang, bukan yang dulu. Dan mungkin dulupun aku juga pernah berpikir seperti mereka bila melihat anak orang lain bisa sukses. Tapi sebenarnya kalau kita mau sabar mengarahkan anak kita, dengan pendekatan yang disesuiakan dengan karakter masing-masing anak, Insya Allah tidak ada yang tidak bisa berubah.

Aku juga selalu mencoba membangun semangat anakku untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik. Mencoba menjadikan kekurangannya menjadi suatu kelebihan yang dia miliki. Misalnya anakku mempunyai sifat tidak mau kalah (kalau bermain dengan teman, dia akan marah kalau kalah dan selalu minta jadi yang nomer satu), bagaimana caranya sisi negative itu menjadi positif? bagaimana memberi pengertian kepadanya tentang bersaing yang sehat? bagaimana menumbuhkan jiwa sportifitasnya?. Misalnya dengan sering mengikutkannya ke berbagai kompetisi. Memang awalnya dia akan kecewa kalau kalah. Tapi lama-lama dia akan terbiasa menerima kekalahan dan kemenangan. Dia akan tahu bahwa dalam suatu kompetisi, “Siapa yang lebih siap, akan menjadi yang terbaik”.

Alhamdulillah anakku saat ini sudah banyak mengalami perubahan, walaupun masih jauh dari “sempurna”. Tapi setidaknya banyak perubahan kearah yang lebih baik. Anakku masih perlu banyak belajar dan masih panjang perjalanannya. Dan biarlah proses itu dijalani secara bertahap dan aku hanya berdoa semoga berakhir dengan sempurna. Bak seekor ulat kecil yang nakal, yang harus mengalami metamorfosa menjadi kepompong dulu, supaya bisa menjadi seekor kupu-kupu yang “Indah”, yang dapat membuat senang dan kagum orang yang melihatnya, Amin.

*) Ibunda dari Alif Akbar PB-6B, Amira Aulia PB-2F, Bey Alhafizh- TK B2


Suatu Pagi Di Pasar Kaget

Posted March 13, 2009 by keluargaalhikmah
Categories: sharing

Tags: ,

(Inilah tulisan yang menjadi pemenang Juara 1 Lomba Menulis Kisah Inspiratif  Walimurid Al Hikmah)

evie-maulana


4

4

Suatu Pagi di Pasar Kaget

Oleh : Evie S. Maulana *)

Anak-anak baru saja pulang dari menunaikan sholat subuh di masjid dekat rumah. Namun tidak seperti biasanya, mereka tidak pergi tidur. Ada kegiatan yang cukup mengambil perhatian mereka setelah subuh ini. Yakni menyiapkan dagangannya untuk dipasarkan dipasar kaget setiap minggu pagi.

Setiap minggu pagi setelah subuh mereka berkemas menata barang dagangannya ke dalam mobil. Kemudian kami antar mereka berdua ke pasar yang kami sebut pasar kaget. Mengapa disebut pasar kaget? Karena pasar ini adanya hanya hari minggu saja. Beroperasinya dari setelah subuh sampai kira-kira jam 10 pagi sudah bubar. Pasar ini sangat besar menurut ukuran kami, karena pasar ini tempatnya di dua jalur jalan sebuah perumahan di Sidoarjo. Panjang jalan yang ditempati untuk areal pasar ini kira-kira 2 km. masing-masing jalan ditempati para pedagang dua ruas kiri kanan. Total 4 ruas dari dua jalan ini yang dipakai pasar kaget ini sepanjang 2 km! luar biasa! Lalu apa yang diperdagangkan di sini. Kami menyebutnya pasar global, karena yang diperdagangkan disini sangat beraneka ragam. Dari bawang merah sampai almari dijual disini. Makanan?, tergantung selera kita. Dari mie kocok sampai sate klopo tersedia. Dari yang harganya seribu lima seperti kelereng, sampai 10 juta sebatang seperti gelombang cinta juga ada. Atau mau yang lebih keren diatas 10 juta seperti sepeda motor bermerekpun ada. Pokoknya komplit! Plit! Konon, para pedagangnyapun bukan dari pedagang local, namun berasal dari berbagai kota di Jawa Timur. Amboi!

Disitulah anak-anak saya berdagang. Ketika matarahari masih belum terbit itulah semangat mereka membara untuk berniaga. Ketika hawa subuh masih menyisakan dinginya, mereka menata dagangannya berbaur dengan para pedagang yang entah berasal dari mana. Berbekal tikar dan beberapa kursi kecil-kecil warna-warni yang kami sebut ‘dingklik’ mereka menyusun binatang-binang yang akan mereka jual. Yah! Mereka berjualan bermacam-macam binatang peliharaan yang lucu-lucu. Seperti hamster dari berbagai jenis, kelinci dan marmot dari berbagai jenis, kura-kura dan kelomang dari berbagai ukuran. Mereka juga melengkapi dagangannya dengan menjual makanan dari binatang-binatang yang mereka jual. Makanan ini sengaja mereka kemas kecil-kecil supaya mempunyai nilai jual yang mudah. Hal ini dilakukan untuk mempermudah para pelanggan mereka merawat binatang-binatangnya. Namun ada yang menarik untuk dicermati dua anak lelaki saya ini dalam berdagang. Mereka tak segan berbagi ilmu dan perekembangan teknologi dalam pemeliharaan binatang-binatang lucu ini. Selain itu tak ketinggalan pula mereka menyediakan pula kandang-kandang mungil untuk para hamster, kelinci, kura-kura itu.

Dua anak lelaki kami yang sedang menginjak remaja itu memang sedang belajar berniaga. Usia mereka terpaut 3 tahun. Kakaknya, saat itu sudah duduk dikelas VII SMP Al Hikmah, sedang adiknya yang merupakan anak kedua kami sudah duduk di kelas V SD Al Hikmah. Banyak yang bertanya, mengapa kami ‘tega’ melakukan ini kepada mereka?

Cerita ini bermula juga dari daratan Al Hikmah. Tepatnya di SMP Al Hikmah. Ketika itu kami di undang mengikuti ‘Parenting Class’ yang di adakan sekolah.. Salah satu bahasan dari pertemuan itu adalah bagaimana seorang remaja usia taklif (16 th–18 th) seharusnya sudah mempunyai salah satu kecakapan yang sangat penting. Yaitu kemampuan mentasaharufkan harta, yakni kemampuan untuk membelanjakan hartanya dengan baik. Lalu bapak Fauzil Adhim yang berbicara pada saat itu menyebutkan dan mencotohkan bahwa Rasulullah saw dan beberapa para sahabat sudah sangat mandiri pada usia tersebut. Lalu beliau menceritakan dirinya sendiri bahwa ketika beliau memasuki usia SMU, orang tua beliau sudah membelajari dengan sesuatu yang luar biasa. “Zi, kamu sekarang sudah dewasa. Bapak sudah tidak mempunyai tanggung jawa apa-apa padamu. Urusan bapak sekarang hanyanya menasehatimu dan mendoakan saja. Kalau sampai sekarang bapak masih mengirimi mu uang, nilainya tidak lebih dari uang yang ada di kotak masjid….” Amboi!!

Lalu saya berpikir, bisakah saya mengatakan hal itu ketika anak saya sudah memasuki usia taklif? Namun jujur saya katakan, bahwa saya belum membekali apa-apa.

Kami belum memberikan pembelajaran apapun selain memfasilitasi mereka dengan banyak hal yang menurut kami hal itu adalah kewajiban kami dan hak mereka. Sepertinya kami sudah memberikan banyak hal untuk memulian mereka. Yang ternyata ada satu hal penting yang kami abaikan. Yakni membekali mereka kecakapan mengelola diri pada usia taklif.

Lalau saya mengembara jauh kebelakang dengan pikiran saya…..

Apa yang sudah saya lakukan dengan ke tiga anak lelaki saya. Tidak mungkin rasanya saya bisa mengatakan seperti yang dikatakan bapaknya Fauzil Adhim ketika usia anak saya menginjak usia 16 th-18 th. Tidak mungkin saya katakan demikian dengan tiba-tiba.

Ada sesuatu yang harus kami lakukan sebelum usia itu tiba. Namun sulit rasanya menemukan cara yang membuat mereka berproses dalam urusan yang mendewasakan. Karena kami adalah orang kebanyakan. Suami saya adalah seorang pegawai, yang mendapatkan penghasilannya dengan bekerja diperusahaan orang lain. Pastinya anak-anak tidak bisa terlibat dengan pekerjaan seperti ini. Sedangkan saya adalah seorang wirausaha yang bergerak dibidang jasa dan perdagangan. Dan ini pun tidak bisa melibatkan mereka secara langsung karena saya hanya memantau proses usaha ini berlangsung. Kalaupun bisa, biasanya waktunya adalah pagi sampai sore hari pada saat mereka sekolah.

Alhamdulillah Allah melapangkan kami dalam hal ini. Kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan anak-anak untuk terhadap apa yang mereka ingin lakukan. Karena anak-anak sangat menyukai binatang peliharaan, maka keluarlah ide untuk berdagang binatang peliharaan ini. Tidak tanggung-tanggung, ketika keputusan untuk berdagang sudah bulat, mereka rela untuk mengambil sebagaian besar tabungannya untuk berbagi modal.

Awalnya, tidak mudah untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan ini. Tidak mudah ‘mengantongi ego’ itu ketika pertama kali kami harus turun kepasar bebas ini. Lebih mudah menata barang dagangan di dingklik-dingklik kecil itu dari pada menata hati kami. Sangat berantakan. Tapi hal baik ini harus dimulai…..

Kami mulai dengan mengantar mereka ‘kulakan’, belanja binatang-binatang imut ini di pusat perdaganan binatang hias, yakni di Jalan Irian Barat Surabaya. Belanja keperluan-keperluan dagangan yang lain seperti, kandang, makanan, serabut kayu, plastik kemasan dan lain-lain. Kami mulai dengan menginvestasikan waktu dan tenaga kami untuk mensuport mereka. Karena tanpa investasi hal ini sangatlah tidak mungkin terjadi. Kami juga harus menginvestasikan sabarnya. Karena kami tahu upaya ini perlu kesabaran yang panjang dan istiqomah di dalamnya. Dan akhirnya, bismilahi tawakaltu……..

Kata orang bijak, waktu tanam tidak bersamaan dengan waktu panen. Demikian pula kami. Proses yang mereka lalui tidaklah mudah. Ketika matahari sudah mulai tinggi, mereka harus bertahan dari rasa haus dan lapar karena mereka berangkat memang belum waktu sarapan. Emosi mereka tanpa sengaja diaduk-aduk oleh pembeli yang sepertinya mau membeli dagangannya. Mereka harus melayani begitu banyak karakter calon pembeli. Yang judes, yang baik, yang rewel, yang super pelit, atau kadang mereka harus menghadapi kompetitor sesama pedagang yang merasa tersaingi. Lengkap! Namun mereka berdagang dari minggu ke minggu……

Satu dua tiga kali kami dampingi mereka, kali ke empat, mereka sudah sangat menikmati pekerjaannya. Omset yang mereka dapatkan cukup lumayan besar untuk ukuran anak-anak yakni kisaran Rp. 400.00 – Rp. 500.000 setiap kali berdagang. Hasil yang didapatkan sangatlah luar biasa. Bukan hanya dari segi nominalnya. Namun lebih kepada proses yang dilalui anak-anak remaja ini. Banyak hal yang mereka dapatkan selama dilapangan, yang menjadikan mereka memiliki kecakapan dalam mengelola diri. Bukan hanya mengelola keungannya, namun mereka mempunyai kesempatan pula untuk mengasah kecerdasan intelektualnya, kecerdasan emosialnya serta kecerdasan spiritualnya. Dan sungguh, kami sanggat bersyukur anak-anak lelaki kami ini diberi kesempatan untuk mengalami hal yang sangat mahal ini. Tujuan kami untuk mengajarkan mereka bagaimana mereka bisa membelanjakan hartanya, InsyaAllah tertunaikan. Cukup mengharukan bagi kami kalau mereka sudah mampu memetakan keuangan sendiri. Dengan diam-diam dari hasil mereka berjualan, mereka membeli peralatan sekolah, seragam tim basket, hobby juga sodaqoh…. Subhanallah!

Minggupun berganti bulan, pasar kaget telah memberi pembelajara yang luar biasa. Sekarang mereka telah bisa mengembangkan usahanya dengan beternak hamster. Mereka tidak lagi menjual eceran dipasar, tapi kini mereka bisa menawarkan penjualan partai.

Ada pet shop besar sebagai pelanggan tetap mereka yang secara berkala mengambil hamster imut itu untuk dijual di pet shop tersebut. Disamping mereka juga melayani penjualan eceran untuk kalangan pecinta binatang lucu.

Minggu pagi di pasar kaget itu, anak-anak kami pernah menganyam pendidikan yang tidak mereka dapatkan dirumah maupuan disekolah. Kami berharap sesuatu yang kecil yang telah mereka lakukan itu, kelak menjadi sesuatu yang berguna ketika mereka menapaki kehidupan ketika kami telah tiada. Sejenak kami teringat nasihat Ali Bin Abi Thalib ra. Bahwa kita mendidik anak bukan untuk masa kita ada, namun untuk masa kita tiada…..Wallahu’alam bishowab.

*) Ibunda dari Maudy Rizky Maghfirlana (VIII B) dan Mauza Khalif Farabi (VI A)

Pengumuman Lomba Menulis Inspiratif Walimurid Al Hikmah

Posted March 11, 2009 by keluargaalhikmah
Categories: feature

Tags:

wahida1Oleh : Wahida Ariffianti *)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah SWT dan segenap sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

Alhamdulillah, pada hari Sabtu 7 Maret 2009 kemarin, akhirnya diumumkanlah para pemenang Lomba Menulis Walimurid Sekolah Al Hikmah dengan tema “Pengalaman Unik dan Inspiratif dalam Mendidik Anak”.

Selama dua bulan lebih sejak lomba diumumkan, jumlah naskah yang masuk menjadi peserta lomba adalah 70 buah. Jumlah peserta adalah 45 orang (terdiri dari 3 orang walimurid TK, 36 orang walimurid SD, 3 orang walimurid SMP dan 1 orang walimurid SMA).

Terimakasih kepada banyak pihak yang telah mendukung kami dalam mengadakan Lomba Menulis Walimurid ini, a.l:
1. Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah
2. Komite Sekolah Al Hikmah dan Klub Keluarga Al Hikmah
3. Seluruh Tim Humas YLPI Al Hikmah
4. Segenap walimurid Sekolah Al Hikmah

Rasa bangga dan penghargaan yang setinggi-tingginya harus saya ucapkan kepada semua walimurid yang telah mengirimkan naskah untuk disertakan dalam lomba. Walaupun selama ini banyak komentar “Saya tidak bisa menulis” ataupun “Saya punya banyak cerita tetapi tidak biasa saya tulis” yang saya dengar dari teman-teman walimurid, tetapi begitu naskah satu per satu masuk kepada kami, itu adalah cerita yang lain. Subhanallah, ternyata tulisan Bapak/Ibu sungguh luar biasa. Banyak diantaranya yang kemudian membuat kami sangat terinspirasi, terharu bahkan menitikkan air mata. Beberapa juga membuktikan, sesederhana dan sekecil apapun suatu peristiwa dalam mendidik anak, jika diresapi dan dimaknai dengan hati yang penuh tulus, ternyata bisa menjelma menjadi suatu tulisan yang (sekali lagi) luar biasa.

Terimakasih juga kepada dewan juri yang telah menilai hasil karya tulisan walimurid yaitu :
1. Bpk. Faudzil Adhim (konselor parenting Sekolah Al Hikmah)
2. Bpk. Kurniawan Muhammad (walimurid Al Hikmah yang juga wartawan senior Jawa Pos)
3. Bpk. M. Zahri (YLPI Al Hikmah)

Dan berikut ini daftar para pemenang lomba :

JUARA I :
Judul Tulisan “Suatu Pagi Di Pasar Kaget” oleh Ibu Evie S. Maulana, Ibunda dari Maudy Rizqi Maghfirlana (VIIIB) dan Mauza Khalif Farabi (6A).

JUARA II :
Judul Tulisan “Metamorfosis Sang Juara” oleh Ibu Itho Barata, Ibunda dari Alif Akbar Putra Barata (6B), Amira Aulia PB (2F) dan Bey Alhafizh PB (TK B2)

JUARA III :
Judul Tulisan “Peran Seorang Ibu” oleh Ibu Tutik Umiati, Ibunda dari Khairiyah Nur Aisyah (VIII D)

JUARA HARAPAN I :
Judul Tulisan “Hak dan Kewajiban Mendidik Anak” oleh Bpk. Edi Kuswantoro, Ayahanda dari Nihdati Imamah Billah (5E)

JUARA HARAPAN II :
Judul Tulisan “Dibalik Kesimpulan Si Kecil” oleh Ibu Barid Anna Sophia, Ibunda dari Denaya Zahira (TK A2)

PESERTA DENGAN TULISAN TERBANYAK (5 tulisan) : Bpk. Jussaq Noor Hamdhani, SH, Ayahanda dari Zakia Alya Noor Azizah (6E)

Tulisan para pemenang dan peserta lainnya, secara bertahap insyaAllah bisa dibaca di blog ini, dan selanjutnya, beserta tulisan-tulisan yang selama ini dimuat di blog walimurid kita, akan kami ikutkan dalam naskah yang nanti akan kami ajukan kepada pihak penerbit untuk dikompile dan diterbitkan dalam sebuah buku. InsyaAllah, bila berjalan lancar ini akan menjadi buku pertama di Indonesia yang berisi kumpulan cerita walimurid dari suatu sekolah. Untuk itu kami mohon doa restu dan dukungannya semoga proyek ini dimudahkan, bermanfaat dan diridloi oleh Allah SWT, amin yaa robbal alamiin.

Sementara itu, marilah terus menulis. Terus kirimkan karya Bapak/Ibu walimurid ke blog kita ini. Dengan menulis kita belajar, dengan menulis kita berekspresi, dengan menulis kita saling berbagi, dan dengan menulis kita saling menginspirasi. Wabillahi taufik wal hidayah.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

*) Ketua Panitia Lomba dan admin blog walimurid, Ibunda dari Omar Charis Atthabrizi (2D) dan Namira Bai’atifa Azzahra (TK A1)

Talkshow “Seni Memotivasi Anak” dan Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Walimurid

Posted March 11, 2009 by keluargaalhikmah
Categories: berita, komite sekolah

Tags: , , ,

Sabtu, 7 Maret 2009 kembali Komite Sekolah Al Hikmah mengadakan Talkshow untuk walimurid. Kali ini bekerjasama dengan Pocari Sweat, talkshow bertemakan “Seni Memotivasi Anak”. Narasumber yang diundang adalah Ibu Dra. Dewi Retno Suminar, M.Si (dosen Psikologi Perkembangan Universitas Airlangga) dan M. Nafik (pengajar dan trainer di The Naff).

Talkshow berlangsung sangat atraktif dan seru karena disajikan melalui berbagai media pembelajaran. Peserta pun secara gratis bisa mendapatkan banyak trik dan tips bagaimana menjadi orangtua yang juga motivator bagi keluarga.

Selain talkshow, acara yang juga ditunggu-tunggu hari itu adalah pengumuman pemenang Lomba Menulis Inspiratif Walimurid Sekolah Al Hikmah. Selamat kepada para pemenang.

Keterangan Foto (foto by Ust. Muhtar) :

1. Bpk. Zainul dari Komite Sekolah memberikan kata sambutan

2. Ust. Shiddiq Baihaqi yang menggawangi acara talkshow

3. Ibu Dewi Suminar yang berhasil membawakan materinya dengan sangat atraktif

4. Dari Pocari Sweat

5. Bpk. Zainul menerima bingkisan dari Pocari

6. Ibu Wahida Ariffianti, Ketua Panitia Lomba Menulis mengumumkan pemenang lomba

7. Bpk. Nur Hidayat dari Pengurus YLPI Al Hikmah, menyerahkan hadiah dan piagam kepada para pemenang

8. Bpk. Nur Hidayat berfoto dengan ke-6 pemenang Lomba Menulis

9. “Mama menang!! Bangganya aku!!!”

1 21 3

4567891

Harap Tenang, Ada Ujian

Posted January 6, 2009 by keluargaalhikmah
Categories: sharing

Tags: ,

Musim ujian telah tiba. Tulisan ini reposting (sebagian) dari salah satu blog walimurid. Postingan selengkapnya, silakan baca disini.

HARAP TENANG, ADA UJIAN

Oleh : Wahida Ariffianti *)

harap-tenang1

“Harap Tenang, Ada Ujian”. Ini bunyi poster yang seminggu kemarin dipampang di tembok-tembok depan kelas di SD Al Hikmah. Dengan kelegaan yang diam-diam, aku pun mengucap syukur karena ternyata Ujian Kenaikan Kelas (UKK) yang pertama buat Abe, anak saya yang waktu itu duduk di kelas 1, sudah selesai hari Kamis (19/06/08 ) kemarin.

Kenapa saya menyebut “kelegaan yang diam-diam??” Karena ketegangan “yang sebenarnya” sudah setengah mati saya bungkus dan samarkan menjadi ketegangan yang “diam-diam” saja. Bukan rahasia lagi kalau musim ujian anak-anak menjadi saat yang sangat menegangkan bagi semua Ibu-Ibu (dan sebagian Bapak-Bapak, mungkin? :-D). Begitu menegangkannya, sampai mengakibatkan segala macam ganggaun kesehatan, dari jerawat (nggak tahu deh, ada yang sampe bisulan juga nggak ya?) sampe segala macam gangguan pencernaan tujuh rupa (susah BAB, sama sekali nggak bisa BAB, terlalu lancar BAB, warna BAB berubah dari biasanya, tekstur BAB berbeda dari biasanya..aduh banyaknya hehe).

Sedangkan anak-anak yang menjadi pelaku utama di ujian, seringkali malah bertindak sangat ironis. Mereka..cuek…santai…cool…seepp…dunia berputar dengan tenang… Atau lebih parah lagi, mereka menunjukkan sikap malas-malasan, dan cenderung susah nurut pada perintah. Dan mudah ditebak akibatnya, akhirnya kelakuan anak-anak ini dijamin bakalan bikin ketegangan di pihak Ibu2 tambah terasa nyeng-nyeng lagi…

Ada seorang teman (sesama walimurid) yang ternyata bukan hanya gemas pada anaknya, tapi juga gemas gara-gara melihat saya yang tampak santai-santai saja padahal anak-anak sedang UKK. “Kok iso tho? Anake ujian tapi sik santai-santai wae??”

Hmm…yang terjadi dirumah saya kebetulan memang agak beda dengan deskripsi di awal tulisan tadi. Mungkin karena selama ini, alhamdulillah, urusan pelajaran Abe tidak pernah terlalu merepotkan. Dalam arti, nilai-nilainya selalu memuaskan kami (atau mungkin karena saya dan suami sendiri memang berkomitmen tidak mematok standar terlalu tinggi untuk urusan nilai pelajaran kepada Abe -misalnya harus sempurna 10 atau 90- yah hanya untuk menghindari tekanan berlebihan atas dia saja, bagi kami dia bisa bersekolah dengan gembira dan menjadi anak berbudi, itu yang lebih penting).

Dalam banyak hal, Abe sangat mengingatkan pada masa kecil saya sendiri, termasuk urusan belajar. Dulu saya pun juga tidak pernah punya waktu khusus belajar (maksudnya belajar dengan cara berkutat dengan buku paket) ketika dirumah. Kecuali seputar mengerjakan tugas dan PR (yang justru tidak banyak dialami Abe karena sekolahnya memang tidak memberikan PR buat siswanya kecuali tugas akhir pekan).

Rasanya istilah buku paket memang tidak boleh selalu disamakan dengan belajar ya. Saya dan suami percaya bahwa selama kami bisa memberikan kegiatan yang baik dan berguna ketika Abe dirumah, maka intinya ketika itulah dia akan belajar. Mempelajari benda langit, tak harus dari buku paket IPA, tapi bisa dengan duduk-duduk bersama di teras samping sambil menikmati bintang dan main kartu kwartet bersama-sama. Atau browsing ke website-website yang keren dan informatif. Belajar tentang matematika tak harus dari buku paket matematika, tetapi bisa dari bermain pasar-pasaran (jual beli) atau langsung membeli snack dan susu kotak di minimarket dekat rumah. Tema pembelajarannya toh bisa disesuaikan dan disinkronisasikan dengan tema yang sedang dipelajari di sekolah.

Intinya, belajar tentang apapun dirumah (atau diluar sekolah), syaratnya satu : tidak dari buku

paket! Kenapa? Karena toh Abe sudah seharian penuh berkutat dengan buku-buku paket ketika di sekolah. Rasanya kok dia sudah tidak membutuhkannya lagi dirumah ya. Selain itu, saya nggak mau waktu berkumpul kami dirumah yang sangat berharga itu habis justru untuk urusan buku paket. (Sekali lagi ini yang terjadi dirumah kami lho, saya percaya bahwa setiap rumah mempunyai cara sendiri-sendiri yang dirasa terbaik sesuai dengan karakter keluarga dan anak-anaknya).

Jujur, yang saya takutkan adalah, bahwa ketika orangtua (terutama Ibu) mengalami ketegangan berlebihan menjelang anaknya ujian, itu akan berdampak sangat luas. Suasana rumah akan berubah (jadi lebih tegang tentunya), dan perubahan ini akan mempengaruhi cara semua orang bersikap. Si Ibu mungkin menjadi lebih sensitif, agak lebih mudah ngomel, dll. Si bapak mungkin ikutan tegang (karena liat si Ibu sensitip, hihi), apalagi si anak. Radar anak-anak akan langsung menangkap perubahan suasana ini, dan akhirnya menjadi beban tersendiri buat dia. Saya khawatir bahwa beban yang dirasakan anak-anak bisa jauh lebih besar dari yang kita semua kira. Dan beban berat ini bisa-bisa akan menjadi efek yang unproductive bagi kinerja otak, misalnya kemampuan recall memorinya ketika hari-H ujian.

Yang paling saya takutkan lagi, saya percaya bahwa kata-kata adalah doa, dan doa yang paling dahsyat adalah doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Jangankan kata-kata yang keluar dari mulut, yang masih ada di dalam hati pun, bisa menggoyang ‘Arsy Allah untuk segera terkabulkan. Percaya atau tidak, ketika hati si ibu penuh dengan kata “jangan-jangan” (jangan2 si Eneng nggak akan bisa jawab, jangan2 si Otong dapet angka merah, jangan2 si Genduk nanti nggak naik kelas, dll dll), maka itu akan menjadi energi yang terkumpul dan tanpa sadar melayang keatas ‘Arsy Allah menjadi sebuah doa…. Nah loh!!

Oya, balik lagi sama poster diatas…

“Harap Tenang, Ada Ujian”.

Saya jadi mikir. Sebenarnya sekolah pasang poster ini kira-kira untuk siapa ya?

Anak-anak (biar nggak rame dikelas)??….ataukah…kita Ibu2nya…? :-D

:::::…..

*) Penulis adalah ibu dari Omar Charis Atthabrizi (Abe) kelas 2D dan Namira Bai’atifa Azzahra (Bea) kelas TK A1.

Deadline Lomba Menulis Diperpanjang

Posted January 6, 2009 by keluargaalhikmah
Categories: Uncategorized

Pengumuman :

Assalamualaikum wr. wb.

Dengan ini kami umumkan bahwa batas akhir pengumpulan naskah Lomba Menulis Inspiratif  “Pengalaman Unik Mendidik Anak” DIPERPANJANG sampai dengan Hari Sabtu, Tanggal 24 Januari 2009. Untuk ketentuan lainnya, tidak ada perubahan.

Silakan terus kirimkan tulisan sebanyak-banyaknya, dan manfaatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam proyek penerbitan buku kumpulan cerita walimurid. InsyaAllah yang pertama di Indonesia.

Wassalamualaikum wr. wb.

Panitia

Memaknai Idul Qurban

Posted December 9, 2008 by keluargaalhikmah
Categories: Uncategorized

Tags: ,

Oleh : Imam Utomo *)

Setiap tahun kita umat Islam di seluruh dunia memiliki ritual atau hari besar memperingati Idul Qurban atau Idul Adha atau hari raya haji karena waktunya bertepatan dengan pelaksanaan puncak ibadah haji yang dilakukan umat Islam di tanah suci. Tetapi ibadah Qurban tersebut hanyalah menjadi sebuah ritual tahunan bagi sebagian besar dari saudara-saudara kita umat Islam, kita belum memaknai maksud yang sesungguhnya yang diajarkan oleh Allah swt melalui nabi Ibrahim as yang mengurbankan anaknya ( Ismail as ) sebagai bentuk pengabdian yang hakiki kepada Sang Pemberi Hidup.

“ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah “ ( Al Kautsar : 2 ).

“ Barangsiapa yang memiliki kelapangan ( harta )dan ia tidak berqurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami “ (H.R.Ahmad & Ibnu Majah ).

Kedua pernyataan diatas sangat jelas sekali bahwa antara shalat dan qurban sangatlah erat sekali hubungannya. Seseorang yang sudah mengerjakan shalat tidak akan diakui shalatnya bilamana dia tidak berqurban. Qurban adalah implementasi dari shalat, apabila kita belum berqurban maka kita belum di anggap mendirikan shalat . Kalau boleh dikatakan bahwa umat Islam saat ini memahami agama hanya dalam konteks ritual saja, antara lain seperti syahadah, shalat, puasa Ramadhan, zakat, Qurban, dzikir dan lain-lain, apabila umat Islam sudah menjalani agama dengan benar tidak hanya sekedar kontekstual saja maka dunia Islam tidak akan menjadi seperti saat ini, dimana banyak pemahaman dan keyakinan dari kalangan Islam sendiri yang tidak sama dalam menyikapi peribadatan dalam agama ini.

Kita ambil satu contoh saja seandainya umat Islam memahami secara hakiki makna Qurban yang sesungguhnya maka tidak ada lagi orang yang meminta-minta sekedar untuk makan, tidak ada lagi orang atau bayi yang mati kelaparan atau kena sakit busung lapar, tidak ada lagi orang yang mencuri karena tidak punya uang untuk keperluan sehari-hari.

Dalam Idul Adha kita diajarkan berqurban untuk orang lain dari apa yang kita miliki saat ini yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain di sekitar kita.Jadi bukan hanya sekedar qurban kambing atau sapi setiap tahun melainkan kita diajarkan untuk selalu setiap saat siap berqurban untuk siapa saja yang membutuhkan pertolongan kita. Hal yang paling sederhana saja kita melihat ada seseorang yang sibuk dengan menginvestasikan uangnya untuk membeli rumah atau mobil padahal dia sudah memiliki semuanya lebih dari cukup, padahal masih banyak orang yang masih bingung mau tinggal dimana, atau besok mau makan apa. Alangkah lebih baik bilamana kita dapat membantu saudara kita yang masih belum punya rumah tinggal atau memberikan santunan kepada orang yang berhak menerimanya. Kadang kala kita hanya terpatok bahwa kita sudah mengeluarkan zakat 2,5 % padahal nilai itu tidak ada artinya dibandingkan harta yang dimiliki. Sebagai seorang hamba Allah yang baik maka kita pasti akan berpikir untuk membelanjakan harta kita yang diamanahi Allah pada kita untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan tanpa terbatas dari 2,5 % tadi.

Apa yang akan kita bawa mati menghadap Allah swt?apakah semua harta yang kita miliki yang akan menemani kita di dalam liang kubur? Sesungguhnya orang yang paling beruntung di sisi Allah adalah orang yang ketika diberi nikmat maka dia bersyukur dan membelanjakan hartanya untuk kepentingan agama Allah di muka bumi ini. Dan perniagaan yang paling menguntungkan adalah apabila kita melakukan perniagaan dengan Allah swt.

Kesimpulannya adalah bahwa ibadah Qurban janganlah dijadikan sebagai simbol saja tetapi implementasi dari ibadah tersebut harus benar-benar kita lakukan sehingga apa yang diinginkan Allah swt agar kita mau mengurbankan harta kita untuk kepentingan orang yang berhak mendapatkannya dapat kita lakukan dengan baik, kita diajarkan untuk menjadi makhluk sosial yang sempurna baik jiwa maupun imannya.Nah selamat berlomba-lomba menanam kebaikan sebagai bekal kita nanti di akhirat.

*) Walimurid dari Nanda (kelas 2A SD Al Hikmah)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.