Bekal Anak Ke Sekolah

Oleh: Ny. Wilis Arif Afandi*)

Sejak anak-anak masuk sekolah after liburan lebaran, Ma dipaksa bekerja secara sungguh-sungguh menjadi seorang Ibu. Tidak usah ditangisi ketidakhadiran si Bibi yang sampai gini hari masih sibuk mencari anaknya yang ngabur gara-gara mau dijodohin…konon begitu…iiih kayak sinetron saja.

Sejak Senin ini tiap pagi Ma bangun lebih pagi. After morning pray, terus bekerja banting tulang sampai keringat bercucuran:

- Memasak air untuk teh and kopi

- Mencuci beras terus ditanak pakai rice cooker

- Berlari kesana kemari sambil masukin cucian ke mesin cuci

- Nyiapin sarapan

- Menyiapkan bekal sekolah anak-anak: ada yang minta roti tawar isi. Ada yang maunya nasi goreng. Dua gadis minta sup krim.

- Jangan lupa buat susu untuk dua jagoan, kalau tidak susah bangun.

- Eh jangan lupa anak-anak dibawa-in minum

- Jadi 4 bekal kue, 4 bekal lauk, 4 botol air minum

- Whoaaaaaaa….susahnya belajar jadi ortu yang bertanggung jawab…whoaaaaa

- Whoaaaaaaa…tampang Ma jadi jelek sekali, keringat bercucuran….whoaaaaaa

- Whoaaaaaaa…kapan si Bibi mbalik yaa…whooaaaaa…ampuni hamba Ya Allah, susah bener jadi orang tua yang baik, aduh ampuuuuun

Pukul 06.00 : Sarapan pagi mesti sudah ready. Ada yang sibuk mandi dan teriak minta handuk. Ada yang ribut nyariin kaos dalam. Si Gendhut paling santai. Pa kebagian tugas tanda tangan Buku Penghubung.

Pukul 06.30 : Anak-anak itu harus segera berangkat. Segera disiapkan moda tranportasi untuk mengirim mereka. Ada yang sibuk nyari sepatu. Sibuk antri tanda tangan BP. Sibuuuuuk semua.

Yang dandanan sekolahnya paling rapi selalu si Abang Ijal. Nabiel harus dibantu pakai baju kalau ga benar-benar seperti anak yang ngga keurus. Tampang si Icha n Nadia sangat mengerikan, karena mereka kadang sengaja ga mau sisir rambut. Katanya kan pake jilbab!. Mungkin itu termasuk mode baru, anti kemapanan lah.

Jangan lupa uang saku. Tiga anak sudah paham bahasa uang. Sudah tahu matematika. Tapi si Gendhut masih harus dibawa-in uang pecah seribuan. Kalau diberi uang utuh lima ribu misalnya, si nabiel belum paham bahwa kalau beli dua ribu mesti ada kembalian tiga ribu rupiah “di sekolahku beli minum harganya lima ribu!” katanya….Tentu saja tidak, Nabiel saja yang belum paham. Seperti Icha dulu waktu kelas 1. Saya tanya “uangnya untuk apa Nak?”

Kemudian dengan bangga Icha menjawab “tadi aku infaq Ma”

“Wah semua? Rp 5.000?” tanyaku agak terkejut

“Iya aku infaq 5000 tadi” jawabnya sungguh-sungguh

“Jadi Icha ga beli jajan hari ini?” kasihan kataku dalam hati

“Lho tadi aku beli mie, Ma”

“Lho katanya uangnya diinfaq-in Rp 5000????” aku jadi bingung sendiri

“Iya aku infaq Rp 5000. Terus aku dikasih uang sama Ustadah Empat Ribu. Terus aku beli mie” katanya dengan santai

“Ooo jadi infaqnya cuma seribu yaa”

“Nggak Ma, aku infaq Lima ribu!!!” Icha menyanggah dengan serius sekali

“???????!!!!!!!!!” nah kan debat kusir

Jadi untuk anak-anak kelas 1 siapkan uang seribuan saja, daripada debat kusir. Ingat yaa tidak lebih dari enam ribu rupiah.

Mereka pun masuk mobil dan begitu mesin berbunyi segera pengiriman pun berlangsung. Seketika rumah sunyiiiiiiiiiiiiiii.

Segera berbenah diri dan menyerahkan urusan anak-anak pada Sang Maha Penjaga

“Ya Allah aku serahkan penjagaan anak-anakku hanya pada-Mu. Jagalah mereka selagi ada di jalan, di sekolah, di rumah tanpa aku. Jagalah mereka dalam penjagaan-Mu yang kokoh. Anugerahilah mereka kesehatan. Jadikanlah mereka anak-anak yang cerdas dan berilmu. Jadikan mereka anak-anak yang selalu mendoakan ke dua orang tuanya.”

Tiap hari Senin s/d Jumat, pagi hari yang ramai seketika bisa tergantikan oleh kesenyapan…tanpa suara anak-anak. Rumah pun kembali pada rutinitas: dilap, disapu, dipel. Rumah akan segera nampak rapi dan bersih. Tapi sunyiiiiiii sekali. Membosankan kata sang rumah. Bahkan untuk sepuluh jam berikutnya.

Jadi pilih mana? Bersih, indah dan sunyi. Apa berantakan, ramai tapi menyenangkan?!

Surabaya, 14 oktober 08

*) Ibu dari Nadia (IX H), Icha (IV-D), Ijal(II-A) dan Nabiel (I-D)

About these ads
Explore posts in the same categories: sharing

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Comments on “Bekal Anak Ke Sekolah”

  1. wahida Says:

    hihihihi saya geli baca tulisan mbak wilis ini…

    perasaan yang sama ya, kalo ada anak-anak suka pusing karena rame dan hebohnya (saya yang biang keroknya cuma 2 saja udah kaya gini apalagi mbak wilis punya 4???)
    tapi giliran anak-anak nggak ada, jadi thingak thinguk pela-pelo kesepian… :-D

    thx for sharing this story mbak, jadi inget sebuah cerita inspiratif berikut ini : http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/20/Kisah_Karpet

  2. Fathor Rahman Says:

    Salut deh buat ibu-ibu, saya sendiri sudah nyoba sekali ngurusi anak saat libur, sungguh luar biasa, kerjaan dikantor terasa lebih ringan walaupun harus lembur sampai larut.


  3. Wah Bu, tulisan-nya sungguh sangat tepat menggambarkan situasi “panic in the morning”. Empat anak ? wuaah memang ruwet, karena tiga saja (yang kecil belum ikutan sekolah tapi ikut rame)kami sudah sepusing Bu Wilis. Belum lagi nanti ngurus Ibu – Ibu PKK ya Bu …, tambah puyeng dong …
    Semoga amalan Bu Wilis mendapatkan Ridho-Nya dan adik – adik jadi anak yang sholeh dan sholehah, amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: