Memaknai Idul Qurban

Oleh : Imam Utomo *)

Setiap tahun kita umat Islam di seluruh dunia memiliki ritual atau hari besar memperingati Idul Qurban atau Idul Adha atau hari raya haji karena waktunya bertepatan dengan pelaksanaan puncak ibadah haji yang dilakukan umat Islam di tanah suci. Tetapi ibadah Qurban tersebut hanyalah menjadi sebuah ritual tahunan bagi sebagian besar dari saudara-saudara kita umat Islam, kita belum memaknai maksud yang sesungguhnya yang diajarkan oleh Allah swt melalui nabi Ibrahim as yang mengurbankan anaknya ( Ismail as ) sebagai bentuk pengabdian yang hakiki kepada Sang Pemberi Hidup.

“ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah “ ( Al Kautsar : 2 ).

“ Barangsiapa yang memiliki kelapangan ( harta )dan ia tidak berqurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami “ (H.R.Ahmad & Ibnu Majah ).

Kedua pernyataan diatas sangat jelas sekali bahwa antara shalat dan qurban sangatlah erat sekali hubungannya. Seseorang yang sudah mengerjakan shalat tidak akan diakui shalatnya bilamana dia tidak berqurban. Qurban adalah implementasi dari shalat, apabila kita belum berqurban maka kita belum di anggap mendirikan shalat . Kalau boleh dikatakan bahwa umat Islam saat ini memahami agama hanya dalam konteks ritual saja, antara lain seperti syahadah, shalat, puasa Ramadhan, zakat, Qurban, dzikir dan lain-lain, apabila umat Islam sudah menjalani agama dengan benar tidak hanya sekedar kontekstual saja maka dunia Islam tidak akan menjadi seperti saat ini, dimana banyak pemahaman dan keyakinan dari kalangan Islam sendiri yang tidak sama dalam menyikapi peribadatan dalam agama ini.

Kita ambil satu contoh saja seandainya umat Islam memahami secara hakiki makna Qurban yang sesungguhnya maka tidak ada lagi orang yang meminta-minta sekedar untuk makan, tidak ada lagi orang atau bayi yang mati kelaparan atau kena sakit busung lapar, tidak ada lagi orang yang mencuri karena tidak punya uang untuk keperluan sehari-hari.

Dalam Idul Adha kita diajarkan berqurban untuk orang lain dari apa yang kita miliki saat ini yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain di sekitar kita.Jadi bukan hanya sekedar qurban kambing atau sapi setiap tahun melainkan kita diajarkan untuk selalu setiap saat siap berqurban untuk siapa saja yang membutuhkan pertolongan kita. Hal yang paling sederhana saja kita melihat ada seseorang yang sibuk dengan menginvestasikan uangnya untuk membeli rumah atau mobil padahal dia sudah memiliki semuanya lebih dari cukup, padahal masih banyak orang yang masih bingung mau tinggal dimana, atau besok mau makan apa. Alangkah lebih baik bilamana kita dapat membantu saudara kita yang masih belum punya rumah tinggal atau memberikan santunan kepada orang yang berhak menerimanya. Kadang kala kita hanya terpatok bahwa kita sudah mengeluarkan zakat 2,5 % padahal nilai itu tidak ada artinya dibandingkan harta yang dimiliki. Sebagai seorang hamba Allah yang baik maka kita pasti akan berpikir untuk membelanjakan harta kita yang diamanahi Allah pada kita untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan tanpa terbatas dari 2,5 % tadi.

Apa yang akan kita bawa mati menghadap Allah swt?apakah semua harta yang kita miliki yang akan menemani kita di dalam liang kubur? Sesungguhnya orang yang paling beruntung di sisi Allah adalah orang yang ketika diberi nikmat maka dia bersyukur dan membelanjakan hartanya untuk kepentingan agama Allah di muka bumi ini. Dan perniagaan yang paling menguntungkan adalah apabila kita melakukan perniagaan dengan Allah swt.

Kesimpulannya adalah bahwa ibadah Qurban janganlah dijadikan sebagai simbol saja tetapi implementasi dari ibadah tersebut harus benar-benar kita lakukan sehingga apa yang diinginkan Allah swt agar kita mau mengurbankan harta kita untuk kepentingan orang yang berhak mendapatkannya dapat kita lakukan dengan baik, kita diajarkan untuk menjadi makhluk sosial yang sempurna baik jiwa maupun imannya.Nah selamat berlomba-lomba menanam kebaikan sebagai bekal kita nanti di akhirat.

*) Walimurid dari Nanda (kelas 2A SD Al Hikmah)

About these ads
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Comments on “Memaknai Idul Qurban”

  1. Fathor Rahman Says:

    Reminder yg bagus Pak, insyaALLAH dengan saling mengingatkan seperti ini kita semua dari hari ke hari akan menjadi hamba yang makin baik, amin

  2. wahida Says:

    Subhanallah…ya, berkurban dengan segala yang ada di diri kita untuk Allah…lahir dan batin… memang sedalam itu maknanya!

    Thanx for sharing it.

  3. evi alfiyah Says:

    Kalau menurut pendapat saya, mungkin terlalu ekstrim jika disimpulkan “Seseorang yang sudah mengerjakan shalat tidak akan diakui shalatnya bilamana dia tidak berqurban”. Qurban berbeda dengan zakat yang selalu beriringan dengan perintah Sholat yang ada didalam Rukun Islam, jika kita tidak melaksanankkanya maka kita tidak dianggap sebagai orang Islam, tetapi Qurban lebih merupakan sebuah ketaatan dan kepatuhan seorang hamba kepada Khaliknya sebagaimana dilaksanakan dan ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihissalaamm. Qurban diwajibkan bagi orang yang mampu sebagai wujud ketaatan kepada Allah tanpa ada tanya kenapa harus kambing, kenapa lembu dan kenapa harus sapi bukan ayam atau bebek ??…
    Maha Besar Allah… Dialah yang Tahu dan kita hanya patuh …..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: