Talk Show “Smart Parent for Smart Student”

Posted November 13, 2008 by keluargaalhikmah
Categories: berita, komite sekolah

Tags: ,

Sabtu, 25 Oktober 2008 lalu, Klub Keluarga Al Hikmah kembali mengadakan Talkshow Pendidikan Anak. Talkshow kali ini sekaligus diisi acara bedah buku “Smart Parent for Smart Student : Panduan Cerdas bagi Orang Tua Murid” yang ditulis oleh salah satu walimurid yang juga salah satu direktur di Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), Ust. M JINAN, M.Pd.I.

Buku yang menarik karena didalamnya bisa didapati banyak sekali tips yang aplikatif tentang bagaimana kita sebagai orangtua, mendampingi anak-anak kita menjalankan perannya sebagai seorang murid di sekolah. Pembahasan yang cukup detil dan rinci tentang banyak hal menjadikan buku ini menjadi bacaan yang sangat bermanfaat bagi kita para orangtua yang sekaligus menjadi walimurid ini.

Lihat saja bagaimana penulis membahas tentang anak-anak yang cenderung lebih patuh kepada ustadz/ah di sekolah daripada orangtuany dirumah. Ustadz Jinan mengungkapkan, bahwa hal ini merupakan suatu hal yang positif dan tidak perlu ditanggapi secara emosional oleh para orangtua. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa anak-anak ternyata sudah bisa menerima otoritas lain diluar lingkungan keluarga. Jadi yang lebih penting untuk diperhatikan adalah tinggal bagaimana orangtua bisa menjalin kerjasama yang baik dan proporsional dengan pihak ustadz/ah di sekolah.

Bab lain membahas juga tentang betapa Buku Penghubung seakan sebuah pisau bermata dua, bisa menjadi hal yang sangat BERBAHAYA! Kenapa? Contohnya, karena hal-hal berikut ini :

  • Buku penghubung digunakan sebagai sarana untuk menakut-nakuti anak agar mau melakukan tugasnya.
  • Buku penghubung ditulis tidak sesuai dengan kondisi riil anak.
  • Buku penghubung ditulis sesuai dengan permintaan anak.
  • Tidak ada tindak lanjut terhadap informasi yang ada pada buku penghubung.
  • Orangtua atau guru tidak memiliki kepedulian untuk mengisi buku penghubung.

    Selain hal diatas, didalam buku yang sangat handy ini juga dibahas hal-hal praktis, seperti soal uang saku, apa yang mesti dilakukan orangtua jika menghadapi kenyataan anaknya mendapat angka merah di rapor, bagaimana mengoptimalkan metode belajar anak-anak, membentuk karakter pada anak, sampai pada makna ciuman pada anak dan berapa jumlah TV yang baik dirumah kita. Lengkap, praktis, dan sangat pas untuk menjadi salah satu panduan kita sehari-hari.

    Selain Ustadz Jinan, ada pula Ibu Ani Christina, S.Psi.Psi, direktur Lembaga Psikologi Al Hikmah yang juga mantan BK SMA Al Hikmah Surabaya. Kehadiran Bu Ani tentu saja tidak disia-siakan oleh sekitar 125 walimurid yang hadir pagi itu. Walimurid pun berbondong-bondong mengalamatkan “curhat”nya kepada Bu Ani. Tentang apalagi kalau bukan tentang polah tingkah anak-anak dirumah dan juga di sekolah. Dengan jawaban yang lugas dan sangat menarik (karena diselipi cerita-cerita tentang anak-anak yang ditemuinya selama beliau bertugas sebagai BK), Bu Ani sudah membuat suasana talkshow menjadi gayeng dan berlangsung hangat.

    Ada yang menarik ketika salah satu orangtua sempat curhat, memang benar betapa anak-anak ini sangat patuh dan sangat mengidolakan ustadz/ah di sekolah, sampai-sampai sebagai orangtua sempat terjadi sedikit “kecemburuan” karena hal ini. Dengan lugas Bu Ani pun menceritakan, bahwa anak-anak sebenarnya juga sangat mengidolakan orangtuanya. Hanya saja memang anak-anak suka “malu” atau bahkan “gengsi” untuk mengungkapkannya secara langsung. Buktinya, lanjut Bu Ani, ketika anak-anak di sekolah, cerita-cerita yang meluncur dari bibir mereka seringkali juga tentang papa atau mama, tentang apa saja kehebatan orangtuanya dirumah. Hal ini yang mungkin tidak banyak diketahui oleh para orangtua.

    Lebih lanjut, Bu Ani juga mengungkapkan, bahwa ketika diadakan semacam kuis atau polling. tentang profesi apa yang nantinya diminati anak-anak ketika mereka dewasa, ternyata lebih dari 60% anak-anak menjawab ingin menekuni profesi yang sama dengan yang ditekuni orangtuanya. Inilah bukti bahwa sebenarnya, tak ada alasan orangtua untuk “mencemburui” ustadz/ah di sekolah, karena baik orangtua maupun guru, sama-sama merupakan bagian yang penting dan patut menjadi idola dan tauladan bagi kehidupan anak-anak kita. (*)

    (Anda berminat untuk mandapatkan buku “Smart Parent for Smart Student”? Silakan menghubungi Ibu Eka (staf Komite Sekolah) di nomor 031-8290140)

    p1130124 p1130126

    p1130114 p1130136

    p1130137 p1130160

    p1130141 p1130162

    p1130173 p1130151

    Waspada… Narkoba Jenis Baru

    Posted November 11, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Oleh: Aniek Yuliani *)

    Beberapa bulan yll saya menerima email dari kawan saya yang mengingatkan bahwa telah beredar narkoba jenis baru berupa permen di kalangan anak-anak. Tanpa pikir panjang lagi selesai buka email anak-anak saya nasehati untuk berhati-hati dan tidak jajan sembarangan. Waktu berlalu dan alhamdulillah kami tetap dalam lindunganNya.

    Tadi pagi kawan saya yang lain kirim pesan via sms isinya begini : <forwarded from BNN>

    Ass.Wr.Wb. Ini info dari ortu murid Sekolah Internasional Tunas Muda Kebon Jeruk. Ada NARKOBA jenis baru dng nama STRAWBERRY QUICK & STRAWBERRY METH. Waspada! sdh beredar di lingkungan di lingkungan sekolah, NARKOBA CRYSTAL bentuk bulat mirip dng permen POP ROCK rasa dan aroma strawberry kalau dihisap berdesis dalam mulut. Anak2 berfikir bahwa barang tsb adalah PERMEN. Ada rasa coklat, kacang, cola, cery, anggur dan jeruk. Hati2 karena menyebabkan anak masuk RS dan ketagihan. PERINGATKAN anak untuk tidak menerima permen dari orang yg tidak dikenal atau siapapun atau dari teman mereka sekalipun. Tolong info ini disebarkan ke ortu lain. Wass.

    Masya Allah merinding saya membacanya. Mungkin sudah banyak orang tua yang sudah mendapatkan info seperti ini tapi tidak ada salahnya saya tulis kembali agar kita tetap waspada betapa dekatnya bahaya mengancam di sekitar kita.

    Sore pulang sekolah, semua penghuni rumah dari anak-anak dan juga mbak yang membantu di rumah (ayah belum pulang tapi sudah diberitahu via sms) saya beritahukan kembali tentang permen narkoba. Intinya mereka harus waspada, hati-hati, jangan makan sembarangan dan mohon perlindungan Allah SWT. Kalau perlu tidak usah makan permen karena menurut saya kok tidak ada untungnya.

    Ternyata kata si kakak Kiky yang kelas IX , kemaren Ustadzah sudah memberitahu tentang adanya permen jenis itu. Alhamdulillah….sekolah juga cepat tanggap. Dan kami yakin Insya Allah anak-anak telah diberi bekal pendidikan dan akhlak yang baik di Al Hikmah.

    ” Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya “

    *) ortu dari Kiky (IX-E) , Erry (III-F) , Eggy.

    Mereka Adalah Anak-Anak Kita

    Posted November 2, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Oleh : Fathor Rahman*)

    :::::…..

    Berita wafatnya Ibunda anak-anak kita Fitri (SD kelas 2) dan Fikri (SD kelas 6) seharusnya menjadi pelajaran yang amat berharga bagi kita semua, sungguh besar ujian ALLAH buat mereka berdua yang dalam usia sekecil itu harus rela kehilangan Ayah Bundanya, semoga semua ini kelak akan menjadikan mereka insan pilihan ALLAH yang tangguh mengibarkan panji-panji Islam, amin ya robbal alamin.

    Anak-anak kita adalah amanah ALLAH yang harus kita jaga dengan sepenuh hati, mengantar dan mendampingi mereka menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa adalah salah satu tugas utama kita di dunia, dan itulah motivasi utama menyekolahkan anak-anak kita di Al-Hikmah untuk mempersiapkan mereka menjadi pewaris nabi dan pembawa risalah Ilahi.

    InsyaALLAH semua akan kita laksanakan amanah tersebut dengan senang hati, jangankan harta nyawapun akan kita pertaruhkan.

    Tapi siapakah yang akan menjaga Fitri dan Fikri, merawat, menemani, membelai dan mendekapnya ketika galau menyelimuti hatinya. Siapakah yang akan mengusap air matanya kala kerinduan akan Bundanya memenuhi rongga dadanya. Apa yang terjadi pada Fitri dan Fikri bukan tidak mungkin terjadi pada anak kandung kita, entah besok, lusa, setiap saat jika sudah waktunya tidak ada satupun yang bisa mencegahnya.

    Fitri dan Fikri adalah sosok nyata yang barangkali akan menjadi ujian ALLAH bagi kita semua untuk meneruskan amanah-Nya, meneruskan perjuangan Ayah Bundanya untuk mencetak kader-kader Islami. Mereka adalah anak-anak kita semua yang berhak mendapatkan kasih sayang sebagaimana kita menyayangi anak-anak kandung kita.

    Melalui forum ini saya mengajak semua wali murid Al-Hikmah, Komite Sekolah dan YPI Al-Hikmah untuk bersama-sama memikirkan dan mewujudkan pembentukan suatu forum atau lembaga yang memberikan pendampingan pada kasus-kasus seperti di atas.

    Semoga ALLAH menjadikan kita manusia yang mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang kita hadapi, amin.

    :::::…..

    *)Penulis adalah wali murid Sekolah Al Hikmah, ayahanda dari Kio (kelas 2C)

    Skenario Untuk Fitri dan Fikri

    Posted October 27, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: berita, sharing

    Tags: ,

    Tulisan dibawah adalah reposting dari salah satu blog walimurid milik Ibu Wahida. Postingan aslinya bisa dilihat disini.

    :::::…..

    Fitri adalah salah satu teman seangkatan Abe di sekolah sejak TK A dulu sampai sekarang kelas 2 SD. Sedangkan Fikri adalah satu-satunya kakak Fitri dan sekarang duduk di kelas 6 SD. Dan tulisanku ini, adalah cerita tentang sepasang kakak beradik yang –insyaAllah- akan menjadi anak-anak yang dekat dan sangat disayangi Rasulullah.

    Ketika dulu sekolah baru saja mulai untuk Abe di TK A (pertengahan 2005), waktu-waktu itulah kami (para walimurid angkatan itu) mulai mengenal Mbak Laila, ibunya Fitri. Seorang wanita cantik yang menyenangkan. Dan baru beberapa bulan juga ketika kita semua dikejutkan dengan berita tentang meninggalnya sang suami. Tak hanya terkejut, kami semua juga tak kuasa menahan airmata setiap kali melihat sosok Fitri yang waktu itu masih berumur 4 tahun.

    Dan yang kami lihat dari Mbak Laila waktu itu hanyalah ketegaran, ketabahan dan keikhlasan seorang istri yang ditinggal suami dengan 2 anak yang masih kecil.

    Beberapa saat kemudian, setelah lama nggak muncul di sekolah, Mbak Laila muncul dengan beberapa tester kue kering. “Aku bikin-bikin kue mbak, siilakan cicipi, dan kalo berminat telpon saja aku ya” katanya. Dia sempat bercerita kepada seorang teman, betapa dia sangat memerlukan kesibukan itu. Harta peninggalan almarhum suaminya yang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tidak membuatnya lantas berleha-leha. Konon dia memang termasuk wanita yang tidak betah duduk diam.

    Diam-diam, kami para walimurid sering rasan-rasan betapa Mbak Laila memang wanita yang tegar. Dan ketegarannya itu, kembali dia buktikan kepada kami semua.

    Sekitar 2 tahun lalu, kami mendengar bahwa dia menikah lagi. Tentu semua turut berucap syukur untuknya. Apalagi menurut cerita-cerita, suami yang sekarang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak. Beberapa kali kami juga melihat si bapak ini menjemput Fitri dan Fikri di sekolah. Life seems back to ‘normal’ for Mbak Laila, Fikri dan Fitri.

    Tetapi, rupanya memang hidup ‘normal’ hanyalah untuk orang-orang yang ‘normal’. Hidup normal bukanlah untuk manusia-manusia pilihan Allah yang luar biasa. Manusia-manusia seperti Mbak Laila, juga Fitri dan Fikri.

    Luar biasanya, Mbak Laila ternyata sempat juga ‘mencurangi’ kami semua. Ketika suatu hari seorang teman datang membawa berita bahwa Mbak Laila sakit dan harus menjalani kemoterapi, kami cuma bisa istighfar dan melongo. Istighfar karena ternyata sudah beberapa bulan dia dinyatakan terkena kanker getah bening, dan tak ada satupun dari kami mengetahuinya. Melongo karena bahkan hanya beberapa hari sebelumnya, seorang teman masih melihat Mbak Laila menjemput anak-anak sekolah, dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit parah. Dia masih ceria dan menyenangkan seperti biasanya.

    Astaghfirullah…

    Akhirnya, bergantian kami menjenguknya. Siapa yang sempat, datang membezuk bergantian dalam selang waktu tertentu. Aku pribadi, setelah sekali membezuknya, selama setahun terakhir ini tidak pernah lagi membezuk. Alasan klasik yang membuatku malu sendiri, yaitu kesibukan. Beberapa kali dengan beberapa teman aku juga sempat janjian untuk menjenguknya, tapi nggak tahu kenapa, belum terlaksana juga.

    Sampai Kamis malam kemarin, datanglah sms pilu itu..

    “Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker, Mbak Laila akhirnya menghadap Allah, Rabu malam dan langsung dimakamkan jam 23.00 WIB”

    Mbak Laila, bahkan kaupun tak mengijinkan kami untuk meratapimu di hari pemakamanmu… Hari Kamis malam kami semua baru mendengar kabar duka itu, padahal Rabu malam jenazah Mbak Laila sudah dimakamkan.

    Ya Allah…kami sadar hanya atas ijin dan kuasaMu sajalah yang bisa membuat ini semua terjadi. Tapi tak urung, sangat pilu hati kami membaca sms itu. Sebagai seorang ibu, yang langsung terlintas di pikiranku tentulah Fitri dan Fikri. Ampunilah kami karena kali ini kami hanya bisa menyaksikan skenarioMu dengan hati yang hancur dan pilu.

    Jumat pagi 24 Oktober 2008 kemarin, akhirnya ramai-ramai kami bertakziah kerumah duka. Dan kepiluan kami pun bertambah dengan cara yang tak bisa kami bendung lagi. Apalagi ketika dari lantai 2 muncul seorang anak 7 tahun yang cantik dan masih tersenyum ceria, yang kemudian bersalaman dengan kami semua satu per satu… Diantara tangis air mata pilu kami dan neneknya, kami hanya bisa menyebut nama Allah tanpa henti. Bertambah menusuk pagi itu ketika kemudian satu persatu cerita meluncur dari ibunda Mbak Laila dan suaminya…

    “Laila tidak pernah mengeluh, sudah lama dia merasa siap apapun yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah pasrah sama Allah. Dia hanya akan sedih ketika mengingat anak-anak… Kami selalu bilang, jangan lah kamu sedih dan khawatir, banyak yang akan menjaga anak-anak. Dan terutama, Allah akan menjaga mereka. “

    Sebelum meninggal, mbak Laila sempat koma selama 3 hari. Dan setiap kali Fitri dan Fikri datang, setiap kali itu juga bulir airmata selalu menetes dari matanya yang tertutup. Si nenek juga cerita bahwa yang paling mengagumkan adalah Fikri. Bocah laki-laki 11 tahun itulah yang selalu mengelus tangan ibunya selama koma, membisikkan kata sayang dan ikhlas kalaupun Allah akan memanggil sang bunda. Kata nenek, nafas terakhir Mbak Laila terhembus beriringan dengan setetes airmata dari mata yang tertutup koma, tepat ketika Fikri menyelesaikan bacaan Yasinnya untuk sang bunda…

    Nenek bilang, pantaslah alm ayah Fikri wanti-wanti berwasiat bahwa anak-anak harus terus bersekolah di AL Hikmah (sekolah Islam). Almarhum tak lagi menginginkan apa-apa selain Fiktri dan Fikri menjadi anak-anak sholih/sholihah yang akan terus mendoakan orangtuanya. Untuk itulah dia percaya bahwa salah satu caranya adalah terus menyekolahkan anak-anak di sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Dan apa yang dilakukan Fikri di saat-saat terakhir Mbak Laila, rasanya sungguh menjadi jawaban atas doa dan keinginan almarhum ayahbundanya…

    Dalam tangis pilu, kami hanya bisa turut berdoa,

    Untuk almarhum Mbak Laila, teman yang telah menunjukkan pada kami pelajaran terdalam..

    Tentang ketegaran dalam menjalani hidup, bagaimanapun skenarionya..

    Juga keikhlasan dalam menerima skenario hidup kita masing-masing…

    Semoga semua amal ikhlas dan ibadahmu diterima oleh Allah

    Dan diampukan semua kesalah dan dosa…

    Juga untuk Fikri dan Fitri,

    Kami percaya pemilik semua skenario hanyalah Allah semata…

    Kami juga percaya bahwa Allah juga yang Maha Penjaga…

    Semoga kalian berdua menjadi anak sholih/ah yang selalu berdoa untuk ayahbunda…

    Banyaklah berdoalah Nak, karena sungguh kami percaya, doa-doa anak sholih dan anak-anak yatim, akan selalu dijawab oleh Allah SWT…

    Aminn

    T_T

    :::::…..

    (Cat : Ibu Wahida adalah walimurid dari Abe – 2D dan Bea – TKA1)

    Bekal Anak Ke Sekolah

    Posted October 20, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags:

    Oleh: Ny. Wilis Arif Afandi*)

    Sejak anak-anak masuk sekolah after liburan lebaran, Ma dipaksa bekerja secara sungguh-sungguh menjadi seorang Ibu. Tidak usah ditangisi ketidakhadiran si Bibi yang sampai gini hari masih sibuk mencari anaknya yang ngabur gara-gara mau dijodohin…konon begitu…iiih kayak sinetron saja.

    Sejak Senin ini tiap pagi Ma bangun lebih pagi. After morning pray, terus bekerja banting tulang sampai keringat bercucuran:

    - Memasak air untuk teh and kopi

    - Mencuci beras terus ditanak pakai rice cooker

    - Berlari kesana kemari sambil masukin cucian ke mesin cuci

    - Nyiapin sarapan

    - Menyiapkan bekal sekolah anak-anak: ada yang minta roti tawar isi. Ada yang maunya nasi goreng. Dua gadis minta sup krim.

    - Jangan lupa buat susu untuk dua jagoan, kalau tidak susah bangun.

    - Eh jangan lupa anak-anak dibawa-in minum

    - Jadi 4 bekal kue, 4 bekal lauk, 4 botol air minum

    - Whoaaaaaaa….susahnya belajar jadi ortu yang bertanggung jawab…whoaaaaa

    - Whoaaaaaaa…tampang Ma jadi jelek sekali, keringat bercucuran….whoaaaaaa

    - Whoaaaaaaa…kapan si Bibi mbalik yaa…whooaaaaa…ampuni hamba Ya Allah, susah bener jadi orang tua yang baik, aduh ampuuuuun

    Pukul 06.00 : Sarapan pagi mesti sudah ready. Ada yang sibuk mandi dan teriak minta handuk. Ada yang ribut nyariin kaos dalam. Si Gendhut paling santai. Pa kebagian tugas tanda tangan Buku Penghubung.

    Pukul 06.30 : Anak-anak itu harus segera berangkat. Segera disiapkan moda tranportasi untuk mengirim mereka. Ada yang sibuk nyari sepatu. Sibuk antri tanda tangan BP. Sibuuuuuk semua.

    Yang dandanan sekolahnya paling rapi selalu si Abang Ijal. Nabiel harus dibantu pakai baju kalau ga benar-benar seperti anak yang ngga keurus. Tampang si Icha n Nadia sangat mengerikan, karena mereka kadang sengaja ga mau sisir rambut. Katanya kan pake jilbab!. Mungkin itu termasuk mode baru, anti kemapanan lah.

    Jangan lupa uang saku. Tiga anak sudah paham bahasa uang. Sudah tahu matematika. Tapi si Gendhut masih harus dibawa-in uang pecah seribuan. Kalau diberi uang utuh lima ribu misalnya, si nabiel belum paham bahwa kalau beli dua ribu mesti ada kembalian tiga ribu rupiah “di sekolahku beli minum harganya lima ribu!” katanya….Tentu saja tidak, Nabiel saja yang belum paham. Seperti Icha dulu waktu kelas 1. Saya tanya “uangnya untuk apa Nak?”

    Kemudian dengan bangga Icha menjawab “tadi aku infaq Ma”

    “Wah semua? Rp 5.000?” tanyaku agak terkejut

    “Iya aku infaq 5000 tadi” jawabnya sungguh-sungguh

    “Jadi Icha ga beli jajan hari ini?” kasihan kataku dalam hati

    “Lho tadi aku beli mie, Ma”

    “Lho katanya uangnya diinfaq-in Rp 5000????” aku jadi bingung sendiri

    “Iya aku infaq Rp 5000. Terus aku dikasih uang sama Ustadah Empat Ribu. Terus aku beli mie” katanya dengan santai

    “Ooo jadi infaqnya cuma seribu yaa”

    “Nggak Ma, aku infaq Lima ribu!!!” Icha menyanggah dengan serius sekali

    “???????!!!!!!!!!” nah kan debat kusir

    Jadi untuk anak-anak kelas 1 siapkan uang seribuan saja, daripada debat kusir. Ingat yaa tidak lebih dari enam ribu rupiah.

    Mereka pun masuk mobil dan begitu mesin berbunyi segera pengiriman pun berlangsung. Seketika rumah sunyiiiiiiiiiiiiiii.

    Segera berbenah diri dan menyerahkan urusan anak-anak pada Sang Maha Penjaga

    “Ya Allah aku serahkan penjagaan anak-anakku hanya pada-Mu. Jagalah mereka selagi ada di jalan, di sekolah, di rumah tanpa aku. Jagalah mereka dalam penjagaan-Mu yang kokoh. Anugerahilah mereka kesehatan. Jadikanlah mereka anak-anak yang cerdas dan berilmu. Jadikan mereka anak-anak yang selalu mendoakan ke dua orang tuanya.”

    Tiap hari Senin s/d Jumat, pagi hari yang ramai seketika bisa tergantikan oleh kesenyapan…tanpa suara anak-anak. Rumah pun kembali pada rutinitas: dilap, disapu, dipel. Rumah akan segera nampak rapi dan bersih. Tapi sunyiiiiiii sekali. Membosankan kata sang rumah. Bahkan untuk sepuluh jam berikutnya.

    Jadi pilih mana? Bersih, indah dan sunyi. Apa berantakan, ramai tapi menyenangkan?!

    Surabaya, 14 oktober 08

    *) Ibu dari Nadia (IX H), Icha (IV-D), Ijal(II-A) dan Nabiel (I-D)

    Halal Bi Halal “AsMaRa”

    Posted October 20, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: berita

    Tags: ,

    Pengajian Ibu-Ibu Walimurid Sekolah Al Hikmah “AsMaRa” bulan ini bersamaan dengan momen Halal Bi Halal. Karena itu, tema ceramah yang dipilih pun menyangkut review arti puasa, khususnya Puasa Ramadhan.

    Ust. Said Yasna, yang mengisi ceramah pagi itu mengungkapkan bahwa target yang harus kita kejar selama Puasa Ramadhan adalah 4 L :

    - LEBAR : Selesai Ramadhan, pesan moral puasa menjadikan kita manusia yang lebih luas wacana keagamaan dan ketakwaannya.

    - LEBUR : Selesai Ramadhan, leburlah semua dosa-dosa kita dimasa yang lalu.

    - LABUR : Labur artinya ‘menutup’. Ramadhan adalah kesempatan kita untuk memperbanyak amal sholih yang nantinya bisa menutupi kejelekan-kejelekan yang kita perbuat.

    - LUBER : Setelah Ramadhan, manusia harus menjadi hamba yang selalu berlebih (meluber) rejekinya. Artinya, seberapapun banyaknya (atau sedikitnya) harta dan rezeki kita, tetap harus menyisihkan sebagian untuk berbagi kepada yang lain yang lebih membutuhkan.

    Lebih lanjut Ust. Said Yasna juga mengatakan bahwa Puasa Ramadhan juga salah satu yang bisa dipakai untuk membentuk dan memperkuat “7 PILAR MANUSIA MUSLIM”. Ketujuh pilar tersebut adalah :

    1. Jujur.

    2. Tanggungjawab. Bagaimana kita mempertanggungjawabkan keimanan kita di hadapan Allah SWT? Salah satunya adalah dengan melaksanakan ibadah puasa.

    3. Visioner.

    4. Kerjasama.

    5. Disiplin.

    6. Adil.

    7. Peduli Sosial.

    (Rujukan tema : QS. Ali Imron:112, 133-136, dan QS. Ibrahim:34)

    :::::…..

    Apa jadinya bila…???

    Posted October 12, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Reposting dari blog Ibu Agustin, salah seorang walimurid Sekolah Al Hikmah. Postingan aslinya bisa dilihat disini.

    :::::…..

    Sudah sekitar jam 2 siang tadi ketika aku, Shiel, Olive dan Luki janjian nonton di Sutos.

    Keluar dari kompleks perumahan (ku) yang berjarak sekitar 300 meter dari SD Al Hikmah, dari dalam mobil aku melihat seorang bocah berseragam berjalan sendiri. Dia masih sangat kecil, dan dari seragamnya, aku pastikan dia satu sekolah dengan Shafa (di SD Al Hikmah).


    Aku langsung berfikir, sudah jam segini ini anak kok belum pulang ? (kebetulan ini hari pertama sekolah masuk, setelah libur panjang lebaran, dan anak-anak hanya sekolah setengah hari, pulang jam 1 siang). Melihatnya (dari spion mobil), aku bingung dan memutuskan untuk berbalik arah. Aku panik dan bertanya ke Shiel, kira2 menurutnya anak itu bingung nggak.


    Sekali lagi aku melihat dari kaca spion….. Anak itu sudah nggak terlihat lagi! Akhirnya kami pun sepakat untuk kembali. Persis seperti yang aku duga, ketika aku sudah berbalik arah, bocah itu sedang menyeberangi jalan yang sama sekali tidak sepi

    Ya Allah, anak siapa ini….???

    Ketika Shiel turun dari mobil dan menanyakan kenapa kok belum pulang, si bocah yang ternyata memang satu sekolah dengan Shafa dan baru kelas 1 itu (terlihat dari betsnya), dia menjawab.. “Nunggu papa.”

    Akupun langsung geram mendengarnya.
    “Kenapa kok nggak nunggu di sekolah, atau tunggu di perpus aja sayang?” tanya Shiel lagi.
    “Udah tutup,” jawabnya dengan wajah sedikit melas ( tapi tampak bocah laki2 ini pemberani).
    Akhirnya Shiel pun menanyakan nomer telepon papa, mama, dan rumah si bocah.
    Oh ya bocah ini bernama Thole (bukan nama sebenarnya-red).
    Dengan sigap Thole memberikan no tlp yang diminta (hebat ya bocah ini, dia sangat hafal nomor-nomor telefon yang kami minta).

    Sambil menelfon kedua orang tuanya (yang nggak ada jawaban), kami antar Thole kembali ke
    sekolah (yang sudah sangat sepi), serta menitipkannya ke satpam sekolah, dan memberinya nasihat agar nggak keluar dari sekolah sampai papanya datang.

    Di dalam gedung bioskop, aku nggak terlalu bisa konsentrasi ke film yang aku tonton karena
    kepikiran si Thole. Hatiku masih miris.


    Apa jadinya kalau yang menemukan Thole tadi adalah orang yang sakit jiwanya?
    Apa jadinya kalau yang memasukkan Thole ke dalam mobil adalah orang jahat yang gemar
    menyakiti anak-anak?
    Ya Allah…Thole mudah sekali ikut dengan orang yang nggak dia kenal tanpa curiga akan di bawa kemana dia dan siapa yang membawanya.

    Karena terus kepikiran, akhirnya sepulang dari nonton, kembali Shiel dan Olive menghubungi orang tua Thole untuk menanyakan apakah Thole sudah ada di rumah. Tak lupa juga menceritakan kronologis kejadian siang tadi yang dialami Thole.

     

    Dan apa kata ibunya….?

    “Thole itu memang nakal kok!”
    Mendadak kepalaku pening…..

    Aku menghitung, untuk jalan kaki dari sekolah ke rumahku dalam keadaan terik cukuplah
    melelahkan (untuk anak seumur Thole). Tapi Thole cukup tangguh melakukannya.

    Duh ibu-ibu, bapak-bapak, janganlah biarkan anak-anak kita menunggu jemputan terlalu lama. Apalagi dalam kasus Thole, dia masih kelas 1 SD! Kalaupun memang tidak bisa segera menjemputnya, bicarakan hal ini kepada pengajar atau petugas sekolah. Dan yang paling penting, memberi nasihat kepada anak-anak kita untuk tidak terlalu jauh dari lokasi sekolah. Bukan tidak mungkin sekolah anak-anak kita adalah incaran para penjahat.

    :::::…..

    Jadikanlah Ramadhan ini terindah…

    Posted September 25, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Oleh : Bunda Shafiya*)

    “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, dimana Allah melimpahruahkan didalamnya dengan keberkatan, menurunkan rahmat, mengampuni dosa-dosa kamu, memakbulkan doa-doa kamu, melihat di atas perlombaan kamu untuk memperoleh kebaikan yang besar dan berbangga mengenai kamu dihadapan malaikat-malaikat.

    Maka tunjukkanlah kepada Allah Ta’ala kebaikan dari kamu. Sesungguhnya orang yang bernasib malang ialah dia yang dinafikan daripada rahmat Allah pada bulan ini”

    Ramadhan kali ini menjadi begitu berbeda bagi keluarga kami. Karena tahun ini Shafiya sudah kelas 1 SD, dan bagi kami saatnya lah untuk melatih untuk mulai berpuasa secara full (maghrib). Ramadhan kali ini, perjuangan besar terjadi. Baik bagi saya, si Bapak maupun Shafiya sendiri (saya yakin dia berjuang amat keras menahan rasa haus *terutama* dan laparnya).

    Sebenarnya sudah sejak usia 5 tahun (TK-B), Shafiya mulai kami latih berpuasa. Dimulai dari puasa sampai pukul 10 pagi dan di 2 minggu terakhir Ramadhan lalu, dia berhasil puasa sampai dengan dhuhur. Tepatnya, hanya si Bapak yang saat itu berjuang keras dalam melatih Shafiya karena saya, Sang Bunda sedang berada di Waingapu- pada Ramadhan lalu dalam rangka pengabdian dokter PTT spesialis disana.*Hiks*

    Menjelang Ramadhan ini, ketika menginjak pertengahan bulan Syaban, saya sudah mulai melancarkan obrolan tentang keutamaan Ramadhan kepada Shafiya. Sambil mengajaknya untuk membuat berbagai prakarya untuk menghiasi Ramadhan kali ini. Dia memilih membuatkan kartu-kartu HAPPY RAMADHAN untuk para ibu guru di TKnya dan ustad-ustadzahnya di SD.

    Untuk memotivasi Syaffa agar bersemangat dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhannya, saya dan Bapak berusaha mengirit pengeluaran bulan -bulan sebelum Ramadhan agar ketika Ramadhan Shafiya bisa mempunyai 1 kado (betapapun kecil dan murahnya) untuk dibuka setiap harinya!


    Adalah suatu kenikmatan besar bagi kami, ketika Syaffa berbinar-binar melihat “calon hadiah”nya pada hari itu. Hadiah tersebut benar-benar memotivasinya untuk menunaikan puasa Ramadhannya di hari itu.

    Bagian yang tersulit, ketika Ramadhan ini bagi Syaffa adalah menahan rasa haus dan laparnya. Mengingat Syaffa memang sangat suka minum dan suka makan, maka ini menjadi bagian dengan tantangan besar baginya.
    Ada satu saat
    (pada hari kedua Ramadhan ini), setelah Dhuhur, berulang kali Syaffa menanyakan kapan jam untuk berbuka.
    “Kurang berapa jam lagi Bun??”
    “Aduh….kok di dapur wanginya enak banget. Beduk maghrib jam berapa Bun?”

    Kalau sudah begini, tugas saya hanya mengajaknya tidur-tiduran (setelah kami sama-sama melihat “kejutan hadiah” hari ini) sambil membacakan berbagai buku cerita yang dimiliki (sambil dipilih yang bernafas Islami) dan menanamkan keutamaan puasa dan ibadah di bulan Ramadhan untuknya. Ajaibnya, trik ini (sampai saat ini) selalu berhasil! Syaffa jadi melupakan rasa lapar dan hausnya.

    Setiap hari bersama Syaffa, bagi kami adalah suatu proses pembelajaran. Ada saja pelajaran yang dipetik untuk hari itu. Seperti ketika Syaffa pada saat sahur, minumnya agak sedikit (karena terlalu ngantuk), akibatnya bangun dari shalat subuh, dia sudah menangis kehausan.
    Kalau sudah begitu, kami akan mengijinkannya minum sepuasnya
    (biasanya air mineral botolan 600 ml sanggup dihabiskannya !) dan melanjutkan puasa hari itu sampai maghrib tanpa kendala rasa haus yang berarti.

    Nah, disini kami mengambil pelajaran bahwa minum air dalam jumlah banyak ketika sahur sangat penting untuk Syaffa. Karena itu, betapapun mengantuknya dia, kami selalu mengingatkan untuk minum air dalam jumlah yang banyak agar tidak kehausan nantinya.

    Ramadhan kali ini, lebih banyak waktu yang saya sisihkan agar kami dapat menikmati setiap detik di Bulan Ramadhan kali ini. Jadwal praktek yang saya ubah (tidak ada praktek sesudah jam 17 selama Ramadhan), membuat kesempatan saya bersama Syaffa menjadi lebih banyak dan insha Allah bermakna.

    Seiring dengan nuansa kebersamaan yang lebih dan ditambah dengan semaraknya hadiah di bulan Ramadhan ini, kami juga mencoba mengisi jiwa Syaffa dengan menjadikan Ramadhan bulan untuk memperbanyak kebajikan.
    Ketika ada rejeki berlebih, dan kebetulan
    forum komunikasi alumni ESQ tempat Bapak menjadi ketua korda bergerak untuk membagikan berbagai paket Ramadhan, Syaffa pun turut terlibat.

    Kegiatan ini membuatnya sangat riang gembira. Syaffa terlihat sangat enjoy, ketika berhasil menunaikan tugas mengisi paket takjil itu dengan buah kurma yang terbungkus dalam plastik. Subhanallah..inilah yang disebut SPIRITUAL HAPPINESS. Bahkan anak kelas 1 SD pun bisa merasakan.

    Membuat bibir saya senantiasa memanjatkan doa, agar bagaimana pun kondisi Syaffa ketika besar nanti, semoga dia tetap terus berbagi.

    Semoga Allah memudahkan Syaffa, nak..

    Semoga Allah senantiasa memberikanmu kekuatan dan kemudahan dalam melaksanakan ibadah di bulan suci ini dan dalam roda kehidupanmu kelak.

    Menyiapkan 30 hadiah ramadhan dengan jenis yang berlainan (walaupun hampir semuanya tidak lebih dari Rp.10.000) adalah hal yang membutuhkan “effort” khusus bagi saya dan Bapak yang sama sama bekerja.Effort dalam hal ini terutama ialah  waktu  untuk mencari, membeli dan membungkus hadiah itu.

    Menyisihkan waktu untuk lebih banyak bermain, membujuk ketika lapar dan haus, serta menggendong Syaffa ( BB saat ini sudah 30 kg ! Badannya memang bongsor untuk usianya) ke meja makan kami dengan mata separuh terpejam, bukan hal yang mudah untuk tulang tua seusia kami (Bapak yang usianya 36 thn, dan Bunda yang 32 tahun – wis balung tuwek- kata Bapak)

    Ah…mungkin memang butuh energi ekstra untuk itu semua..

    Mungkin perlu lebih ketat, mengatur keuangan di bulan-bulan sebelum Ramadhan..

    Mungkin perlu manajemen waktu yang lebih baik, dan berupaya menyelesaikan amanah pekerjaan di Kampus dan Rumah Sakit dengan lebih cepat agar lebih banyak punya waktu di bulan Ramadhan..

    Karena pinta kami hanya satu…

    Menjadikan Ramadhan, suatu memori yang indah dan tak terlupakan di hati Shafiya.

    Semoga Allah memudahkannya. Amin…

    *) Penulis adalah Rozalina L Zulkarnain, walimurid Sekolah Dasar Al Hikmah, ibunda dari Shafiya Fildza Nisrina (kelas 1 C) yang juga Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Departemen Ilmu Kesehatan Mata).

    Muhasabah Komputer

    Posted September 25, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Oleh : Muhammad Rizal Altway *)

    Ngelamun mode : ON

    Suatu saat di hari pengadilan yang paling adil di akhirat, seorang hamba Alloh dihisab, awalnya timbangan miring ke kanan, tapi suatu saat terus bergerak miring ke kiri

    Hamba Alloh : kenapa kok miring ke kiri? Padahal saya kan selalu berbuat baik, membagikan ilmu yang bermanfaat, puasa romadhon dll, bahkan saya punya blog yang isinya memberi ilmu dan menfaat pada banyakk orang.

    Malaikat : Kamu bekerja pake sarana apa?

    Hamba Alloh : Komputer

    Malaikat : Komputer yang kamu pake memang halal, tapi program di dalam komputer itu kan bajakan semua, membajak itu kan sama dengan mencuri. Sedangkan kegiatan yang dilakukan dengan sarana barang curian tidak ada pahalanya. Peringatan sudah diberikan, MUI negaramu juga sudah membuat fatwa yang mengharamkan bajakan. Belum lagi kamu belikan anak anakmu komputer dengan program bajakan, mereka belajar denngan memakai barang haram dari kamu, jadi dosamu mengalahkan pahalamu. Lagipula kamu orang yang mampu, uangmu kan cukup untuk membeli program yang halal tapi kamu malah milih membajak alias mencuri dengan pertimbangan lebih murah. Belum lagi anda menyarankan pada suatu lembaga pendidikan islam memakai program komputer bajakan, jadi nambah lagi dosamu dibanding pahalamu……….

    Ngelamun mode : OFF

    Semoga khayalan itu tidak terjadi pada kita semua, pada bulan Romadhon salah satu usaha untuk menyucikan diri adalah dengan melakukan evaluasi diri (muhasabah) terhadap tindakan kita. Sebagai manusia yang sering berhubungan dengan komputer maka sarana tersebut tidak luput dari perlakuan muhasabah terutama dibulan yang suci ini.

    85% masayrakat Indonesia ditengarai menggunakan program bajakan pada komputer mereka, karena masyarakat Indonesia 90% beragama Islam maka diasumsikan (Insya Alloh salah) sekitar 85% dari mereka mengunakan program komputer bajakan. Membajak tak ubahnya dengan mencuri, dengan pemikiran yang sederhana saja bahwa mengambil sesuatu dengan tidak membayar maka itu adalah prinsip dasar dari pencurian. Maka memakai program bajakan adalah suatu bentuk pencurian.

    Karena sebagian besar masyarakat melakukan pembajakan maka seakan akan hal tersebut boleh dilakukan karena toh orang lain juga melakukan. Padahal hukum Alloh berlaku dalam segala situasi, biarpun orang se dunia ini maling semua , Allloh tidak rugi dan hukum mencuri tidak akan dirubah oleh Alloh, yang rugi ya manusia itu sendiri.

    Dalam bulan puasa seperti ini dimana kita berlomba lomba melakukan kebaikan tapi bila kita memakai barang curian dalam kegiatan sehari hari …..apakah amalan yang kita usahakan tersebut diterima oleh Alloh? Ngetik menggunakan komputer dengan program bajakan walaupun dalam melakukan kebaikan tetap tidak akan berpahala…..jangan – jangan malah bertambah dosa kita. Bayangkan kalo kita ngetik atau atau menggunakan mouse untuk program bajakan maka setiap tuts dan klik yang kita kerjalan akan mendapat dosa…..lha sudah berapa kali tuts dan klik dilakukan…..tinggal dikalikan saja, 100 atau 1000, belum lagi dikalikan hari kita melakukannya, dikalikan bulan, terus berapa tahun dilakukan?. Wah ngeri jadinya membayangkan dosa tersebut.

    Apakah kita sudah mengevaluasi komputer yang kita pakai dirumah? Programnya bajakan atau tidak? Bagaimana dengan tempat kerja kita? Apakah komputernya pake program bajakan atau tidak? Apakah ada yang pernah menanyakan di sekolah ananda apakah komputer yang dipakai programnya bajakan atau tidak? Bagaimana kalo ananda yang kita sayangi mendapat ilmu dari komputer yang menggunakan program bajakan? Apakah kita rela? Apakah itu akan barokah? Atau akan jadi musibah dikemudian hari? Lebih ngeri kalo hal tersebut jadi pertanyaan di akhirat ……. :(

    Dalam dunia komputer tidak ada kata yang tidak bisa atau mahal, bila kita tidak mampu membeli program yang asli masih banyak program yang memang disediakan secara gratis alias open source. Dan itu juga sama aplikasinya dengan yang berbayar. Sebagian besar pemilik komputer apalagi laptop adalah orang yang mampu atau lembaga yang mampu, jadi tidak ada masalah dalam hal biaya membeli program legal, yang jadi masalah adalah kemauan hati untuk tetap berada dijalan yang benar. Ini bukan masalah murah atau mahal, tetapi halal atau haram. Kalo kita melakukan dengan alasan program itu mahal maka apakah kita boleh mencuri rumah atau mobil karena harganya mahal ? Kalo dengan alasan yang jual kan orang kafir, nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan kita boleh mencuri dari orang kafir, bahkan hutang kepada orang kafir aja tetap dibayar oleh beliau.

    Yang mebuat kita membajak atau mencuri program tersebut adalah hawa nafsu kita, manusia sangat bernafsu mencuri agar uangnya tetap utuh tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Semoga di bulan yang suci ini kita bisa melakukan evaluasi terhadap diri kita dengan baik, merubah perilaku kita jadi lebih baik dan memperbaiki perilaku kita dalam menggunakan komputer agar lebih islami……..Amin

    *) Penulis adalah Walimurid Al Hikmah, ayahanda sikembar M. Fadhil 6B dan Fadhilah 6D

    Bingkisan Lebaran Untuk Guru dan Karyawan Sekolah

    Posted September 10, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: komite sekolah, sharing

    Tags:

    Oleh : Pahalani Operaningrum *)

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Setiap tahun, di bulan Ramadhan, Komite Sekolah Al Hikmah mengadakan program pengumpulan bingkisan lebaran untuk guru dan karyawan di lingkungan Sekolah Al Hikmah. Program ini diadakan sebagai salah satu bentuk perhatian dan terimakasih kita (walimurid) kepada para guru dan karyawan yang telah dengan ikhlas ikut mendidik dan mengasuh anak-anak kita selama di sekolah.

    Tahun lalu, melalui program yang sama, dari seluruh walimurid Sekolah Al Hikmah (dari KB, TK, SD, SMP dan SMA) telah terkumpul bingkisan berupa uang sejumlah Rp. 270.594.000,- dan telah dibagikan kepada 533 orang (terdiri dari guru dan karyawan Sekolah Al Hikmah, petugas keamanan sekolah (satpam), juga penjaga rel kereta api dan pasukan kuning yang berada di lingkungan sekitar Sekolah Al Hikmah).

    Tahun ini, pengumpulan bingkisan dilakukan pada tanggal 8 – 17 September 2008. Pengumpulan dilakukan di pos panitia yang berada di tiap jenjang sekolah, dari KB, TK, SD, SMP sampai SMA Al Hikmah. Di pos-pos panitia ini, setiap harinya akan ada beberapa walimurid yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjadi relawan dan akan membantu Bapak/Ibu walimurid dalam mengumpulkan bingkisan tersebut. InsyaAllah, jumlah penerima bingkisan untuk tahun ini adalah 579 orang.

    Pada kesempatan ini, kami menghimbau kepada segenap walimurid untuk mendukung sepenuhnya program ini, semoga kita semua termasuk kedalam orang-orang yang selalu memuliakan mereka yang berjuang dijalan Allah. Aminn Yaa Robbal Alamiin. Jazakillah khoiron khatsiro.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    *) Penulis adalah Pengurus Komite Sekolah dan Ketua Panitia Pengumpulan Bingkisan Lebaran 2008, Ibunda dari Gilang Baswara Anggaraputra (VIII-A), Bagas Dewangkara (6A) dan Bening Septandhayu Putri (4F).