Posted November 18, 2008 by keluargaalhikmah
Categories: berita, komite sekolah

Tags:

Glitter Words

Komite Sekolah Al Hikmah, melalui Klub Keluarga Al Hikmah mengadakan Lomba Menulis Kisah Inspiratif Pengalaman Mendidik Anak. Insyaallah, melalui program ini, orang tua berkesempatan untuk saling berbagi inspirasi.

Tujuan Kegiatan

- Turut serta mengembangkan budaya menulis berbasis keluarga bagi wali murid Al Hikmah.

- Sebagai sarana pengumpulan tulisan inspiratif tentang pengalaman mendidik anak untuk selanjutnya akan diterbitkan berupa buku kumpulan tulisan.

- Syiar peringatan Tahun Baru Islam 1430 H, Peringatan 20 Tahun Al Hikmah dan Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009

Ketentuan Penulisan :

- Lomba boleh diikuti oleh seluruh walimurid KB, TK, SD, SMP dan SMA Al Hikmah Surabaya.

- Tulisan merupakan pengalaman nyata orangtua yang unik dan inspiratif dalam mendidik anak. Bukan berupa makalah atau artikel, dan ditulis dengan gaya bahasa ringan dan bebas.

- Panjang tulisan 2 – 5 halaman ukuran A4, diketik 1,5 spasi dengan ukuran font 12 point.

- Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 judul tulisan.

- Tulisan belum pernah dipublikasikan di media massa dan belum pernah menjadi pemenang dalam lomba-lomba karya tulis apapun.

- Tulisan sudah harus diterima panitia paling lambat Hari Sabtu, 27 Desember 2008, jam 12.00 WIB dalam bentuk softcopy dengan dilengkapi identitas diri (nama lengkap, alamat, nomor telepon/hp dan nama siswa yang masih bersekolah di Al Hikmah)

- Tulisan bisa dikirim via email ke alamat humas@alhikmahsby.com atau blog@alhikmahsby.com atau langsung diserahkan ke Ust. SULI di Kantor YLPI Al Hikmah Jl. Gayungsari IV No. 25. Tulisan yang diikutsertakan dalam lomba ini menjadi hal milik panitia.

- Juri bersifat independen dan keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

Pelaksanaan Kegiatan

- Pengumpulan tulisan   : 24 Nopember – 27 Desember 2008.

- Penjurian                            : 2 – 7 Januari 2009

- Pengumuman Pemenang          : Sabtu, 10 Januari 2009

- Launching Buku                    : 2 Mei 2009 (Hardiknas)

Dewan Juri

·        Muhammad Fauzil Adhim (Penulis, Konsultan Pendidikan Anak & Keluarga)

·        Kurniawan Muhammad (Redaktur Pelaksana Jawa Pos)

·        Muhammad Zahri (Kepala Sekretariat YLPI Al Hikmah)

Hadiah Lomba :

·        Penulis Terbaik 1  : Rp 1.000.000,- beserta tropi dan piagam

·        Penulis Terbaik 2   : Rp    750.000,- beserta tropi dan piagam

·        Penulis Terbaik 3     : Rp   500.000,-  beserta tropi dan piagam

·        Penulis Harapan 1     : Rp   250.000,-  beserta tropi dan piagam

·        Penulis Harapan 2     : Rp   250.000,-  beserta tropi dan piagam

Tulisan pemenang, bersama sejumlah tulisan terpilih lainnya, akan diikutkan dalam naskah BUKU yang insyaAllah akan diterbitkan.

Sepaket Anak Kita (Mendampingi Alif Ikut IMC 2008)

Posted November 15, 2008 by keluargaalhikmah
Categories: feature, sharing

Tags: ,

Oleh : Itho Bharata *)

….. Kalo kita mau menerima kelebihan dari anak kita, terimalah mereka dengan segala kekurangannya. Atau mungkin istilah gampangnya terimalah anak-anak kita dalam satu paket……..

100_09911Kebetulan akhir-akhir ini saya diberi kesempatan untuk mengantar dan mengikuti dari dekat kegiatan dari anak kami saat mengikuti kejuaraan Olimpiade Matematika tingkat International. Saya mulai mengikuti kegiatan mereka dari tingkat seleksi awal, karantina sampai mereka berlomba di tingkat Internasional. Dan karena hampir tiap saat bertemu dan bergaul dengan para peserta lomba tersebut, secara tidak sadar saya mulai banyak mengamati tingkah polah mereka.

Ada beberapa kemiripan-kemiripan pada mereka yang membuat saya sering tertawa geli sendiri.. Apalagi kalau mereka sudah saling bertemu . Si Jenius, para jagoan matematika ini, yang kalau kita lihat diluar terlihat seperti anak-anak yang sangat luar biasa hebatnya, yang sering membuat kita sampai terkagum kagum melihatnya karena saling berebutan menjawab soal-soal matematika yang rumit hanya dalam hitungan detik, ternyata kalo sudah tidak di ranah matematikanya, mereka akan kembali seperti anak-anak pada umumnya.

Mungkin karena mereka terlalu sering menggunakan otak kirinya, mereka jadi terlihat tidak luwes untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, hanya untuk masalah menata baju atau pekerjaan rumah yang lain yang sehari-hari biasa kita lakukan, akan terlihat rumit dipikiran mereka. Karena mungkin semua kegiatan itu mereka masukkan ke dalam teori dan logika matematikanya.

Ada beberapa peristiwa yang sering membuat saya lagi-lagi tersenyum geli. Suatu hari pada saat kita semua lagi heboh packing baju karena mau pulang kembali ke tanah air , terlihat Wira si imut, duduk diatas tumpukan baju kotornya, dan didepannya terbuka kopor besarnya yang masih melompong.

“Kenapa Sayang, dari tadi kok belum dimasukkan bajunya?” tanya deputy leadernya. Dengan tetap melihat kopernya dan dengan muka serius, dia menjawab “Iya, soalnya kalo menurut teori, harusnya baju-baju ini ndak mungkin masuk semua ke koper ini…!” hahaha. Kita yang denger pada senyum-senyum semua. “Pake teori lagi deh” kata ibu-ibu yang lain. Makan tuh teori, pikir kita.

Di lain hari, pada saat tour keliling kota Chiang Mai, yang harusnya orang-orang pada santai melihat-lihat keindahan alam Chiang Mai, Alif anak kami terlihat serius, kenapa lagi nih?

“Kenapa Mas, kok serius amat?” tanya deputynya, sambil dengan dahi menekuk, dia jawab “Kalau menurutku Tante, harusnya acaranya ini ndak begini, kalo kita punya waktu cuman sekian jam (sambil menyebutkan angka), harusnya kita kesini dulu (dia menyebutkan suatu tempat), karena kalo kesana dulu, waktunya ndak cukup. Kan jaraknya sekian km (sambil menyebutkan angka), berarti kita butuh waktu (sambil menyebutkan angka) …. .. jadi ……..” Ibu deputy leader hanya tersenyum, karena beliau sudah biasa dan hapal dengan kebiasaan berteori mereka.

Mau tahu seperti apa kamar hotel tempat mereka menginap? Mungkin yang lain sudah bisa menebak. Biar sudah ditulis besar-besar di kamar masing-masing , di briefing sebelum berangkat dari tanah air dan diomeli tiap hari oleh deputynya , tetep aja kamarnya kayak kapal pecah!

100_19851Sepatu satu didepan pintu, satunya lagi di bawah tempat tidur. Baju, buku, kertas hitungan, makanan beserta sampahnya bertebaran dimana-mana. Ibaratnya kita mau duduk aja bingung. Kalo buka lemari bajunya, baju kotor dan baju bersih memang sudah bener beda tempat, tapi sama-sama berupa gundukan baju yang tidak terlipat.

Sampah makanan berceceran dilantai, kalau ditanya, siapa yang buang sampah disini? semua pada lihat-lihatan. Jadi kalau misalnya ada 10 plastik bekas makanan disitu, ternyata juga sampah milik 10 anak yang ada di kamar itu, dan lucunya mereka semua hapal nama pemilik sampahnya. Sering kita kesel rasanya, kenapa kok enggak otomatis sih, kalau habis makan langsung dibuang ditempat sampah, kalau habis pakai baju ditaruh ditas laundry dll. Tapi hebatnya juga mereka bisa tetap belajar dengan enjoy dan tidur dengan nyenyak walaupun dengan kondisi kamar super berantakan dan diatas tumpukan sampah-sampah.

Tapi kalo soal hitung-menghitung jangan ditanya, dalam keadaan apapun langsung nyambung. Mungkin sudah otomatis kali ya. Jadi tanpa dikomando otak kiri mereka langsung bekerja. Pernah seorang Tour Guide kita sampai dibuat tersipu malu. Karena keliatannya anak-anak itu pada cuek tidak memperhatikan, tapi ternyata otaknya mikir.

Suatu hari di bus yang mengantar kita keliling kota Singapura, Si Tour Guide sedang bercerita tentang Negara Singapura, “ Penduduk Singapura itu terdiri dari beberapa ras, ras Melayu …%, ras China …%, ras India …. % ….blablabla ..”

Kita yang mendengarkan sambil ngantuk, karena udah capek ya lebih tertarik untuk melihat pemandangan kota Singapura daripada mendengarkan si Tour Guidenya ngoceh. Tiba-tiba semua kaget dengan pertanyaan dari Alif, “ Lho sisanya yang 17% ras apa dong ?” … Hah, si Tour guidenya kaget sambil malu karena ketahuan salah, hehehe. Dia ndak nyangka kalo ternyata ada yang ngitung.

Belum lagi waktu kita lagi antri mau naik kereta gantung di Sentosa Island. Pada saat kita udah berebut mau naik, Alif langsung melarang. “Sudah cukup itu dulu, keretanya ndak kuat” larangnya sambil dengan cepat berlagak yang ngatur kelompok yang naik lebih dulu. Pikir kita, sok tau amat anak ini. Iseng kita tanya, “Kok Mas bisa ngatur kelompoknya yang berangkat lebih dulu?”. Dia langsung nunjuk tulisan yang ada di kereta gantung. Attention : This train only enough taken a ride by max …. people or ….. kgs. Oh! rupanya diam-diam dia menghitung kira-kira berat badan kita dan langsung dibuatkan kombinasi kelompoknya yang paling maksimal. Si penjaga kereta lagi-lagi tersenyum. “Wow… Good Job Boy!” serunya.

Kalau saya perhatikan lagi, dalam kehidupan sehari-hari mereka cenderung cuek dengan lingkungannya , kalau berkomunikasi suka “ndak jelas” menurut saya (tapi mungkin menurut mereka juga “orang-orang ini kok susah sekali diajak ngomong ya.. “, wah, jadinya ternyata ndak nyambung ya). Kalau bicara secukupnya, tapi kalau kalimatnya panjang suka tumpuk menumpuk berlomba-lomba antara kecepatan otak dan lidahnya, jadi tidak sinkron. Suka berbicara menggunakan bahasa baku dan istilah asing populer (mungkin bagi mereka kalo istilah asing lebih tepat guna dan pas, kalo diterjemahkan lagi malah jadi ndak pas dan mungkin terlalu panjang,.. hehehe). Dan rata-rata mereka terlihat lugu dan cenderung konvensional dalam berpakaian, kalau dandan sekenanya, kadang enggak maching pun mereka pede aja (mereka pikir, ndak penting lah penampilan yang penting isi otaknya). Tapi jangan ditanya, untuk pengetahuan populer, mereka sangat up date, mereka sangat hapal nama-nama atlet, even olahraga, penyanyi maupun tembang hit, aktris dan actor popular tingkat dunia sampai nasional. Kadang kita heran, kapan baca dan liat TV nya ya?

Ya itu tadi sekelumit cerita yang bisa saya sampaikan ke pembaca. Mungkin sekilas bisa memberikan gambaran tentang keunikan dari anak-anak kita, yang bisa membuat dunia ini jadi indah dan berwarna. (Nov 2008)

100_2017

*) Ibunda dari : Alif Akbar Putra Bharata (VI-B), Amira Aulia Putri Bharata (2F), Bei Alhafizh Putra Bharata (TK B2).

Alhamdulillah, Alif Akbar Menang Lagi!!

Posted November 13, 2008 by keluargaalhikmah
Categories: berita

Tags: ,

Reposting dari Website Sekolah.

:::::…..

Alif Akbar Putra Bharata, Siswa SD Al Hikmah yang Dua Kali Juarai International Mathematic Conference (IMC) 2008

Belajar Sejam Sehari, Dapat Nilai Sepuluh


Dua kali sudah Alif meraih medali di International Mathematic Comprtition (IMC) 2008. Bocah 11 tahun yang dulu ”divonis” hiperaktif oleh psikolog itu kini berhasil memberikan kebanggaan kepada sekolah dan keluarganya.


Rumbai-rumbai pita menghiasi pintu masuk SD Al Hikmah, Surabaya, kemarin. Suara riuh siswa siswi kelas enam memadati jalanan masuk tersebut. Beberapa guru tampak menunggu dengan roman wajah yang menyiratkan keriangan. Alif Akbar Bharata akhirnya datang sekitar pukul 09.20. Dia dijemput teman sekelas di rumahnya, Jalan Gayungsari Barat. Perlakuan istimewa kepada Alif bukan tanpa alasan. Itu merupakan penghargaan atas prestasinya karena dua kali memenangi medali di ajang bergengsi bernama International Mathematic Contest 2008.


2511Juli lalu Alif juga memenangi medali perak untuk kontes yang sama. Tahun ini International Mathematic Contest memang diadakan dua kali. Yang pertama di Singapura pada Juli dan yang kedua di Chiang Mai Thailand pada 25-30 Oktober lalu. Di ajang yang pertama Alif membawa pulang medali perak dan yang terakhir membawa pulang perunggu. ”Yang membedakan mungkin jumlah pesertanya. Ajang pertama hanya diikuti 6 negara, sedangkan yang kedua 25 negara,” ujar Alif.

Keikutsertaan Alif tidak disponsori dinas pendidikan. Dia mendaftar secara personal, difasilitasi SD Al Hikmah. Awalnya, dia mengikuti Kompetisi Matematika Nalar Realistik (KMNR) tingkat Jatim pada 27 April 2008. Pihak sekolah yang mengikutsertakan Alif. Di ajang tersebut dia meraih juara dua. Kemudian, ada seleksi lagi untuk tingkat nasional di Bali pada 4-7 Juli. ”Seleksi yang kedua ini saya berhasil meraih juara satu,” ujarnya sambil tersipu malu. Setelah seleksi tersebut, beberapa anak yang menang diseleksi lagi di Sukabumi. Untuk seleksi yang itu pun, siswa pecinta matematika tersebut tetap mendapatkan juara pertama. Alif akhirnya diikutkan lomba IMC di Singapura pada 17-21 Juli.


Sebelum mengikuti lomba, dia dikarantina selama 3 hari, yakni pada 14-16 Juli. Karena Alif diberangkatkan Tim Klinik Pendidikan Matematika dan IPA (KPM), biaya akomodasi di Singapura ditanggung sendiri. Meski demikian, uang tersebut tidak sia-sia karena Alif berhasil meraih medali perak. KPM sendiri saat itu mengirimkan 12 siswa. ”Kami meraih 2 emas dan sisanya perak serta perunggu. Jumlah tepatnya saya lupa,” ujar siswa yang hobi ngemil itu.


Pada kompetisi kedua di Chiang Mai, Thailand, biaya akomodasi ditanggung panitia IMC. Ada beberapa perbedaan antara IMC di Singapura dan Thailand. Salah satu di antaranya adalah pengerjaan soal. Di Singapura, seluruh soal dikerjakan sendiri. Namun, di Thailand ada soal-soal yang dikerjakan secara berkelompok. Sebanyak 16 peserta dari Indonesia dibagi empat kelompok. Masing-masing kelompok diberi sepuluh soal. ”Kami diberi waktu sepuluh menit untuk diskusi pembagian pengerjaan soal,” terangnya.


Setelah waktu habis, tempat duduk masing-masing kelompok dipisahkan lagi. Meski soalnya sulit, Alif mengaku tidak merasa deg-degan seperti saat lomba di Singapura. Maklum, kontes di Singapura merupakan kiprah pertama Alif di tingkat internasional. Sayang, pada ajang yang kedua itu, tim dari Indonesia hanya mampu membawa medali perunggu. Hampir seluruh medali emas diborong Tiongkok. Meski demikian, putra pasangan Bharata Kussatyana Wibowo dan Sri Umi Masithorini itu tetap bersyukur karena mampu menggondol medali perunggu.

Di sela acara kompetisi, panitia mengadakan acara jalan-jalan bersama. Sayang, Alif tidak sempat mengikuti seluruhnya. Dia dan rombongan hanya bisa ikut separo jadwal. Kepala rombongan menyuruh mereka beristirahat agar tidak lelah ketika lomba. ”Jadi, saya cuma ke Chiang Mai Zoo dan Elephant Camp saja. Yang ke Royal Flora Garden dan Queen Sirikit Garden saya tidak ikut,” ujarnya.


Prestasi yang dimiliki Alif tidak datang begitu saja. Sewaktu kecil, Alif adalah anak yang tergolong hiperaktif. Saat mendaftar di TK Al Hikmah, dia diperbolehkan masuk dengan catatan harus diterapi ke psikolog terlebih dahulu. Mengetahui hal itu, ibunya kemudian menyekolahkan Alif ke TK Al Azhar.


Itho’ -panggilan ibu Alif- juga membawa anaknya berkonsultasi ke psikolog. Psikolog tersebut menyatakan bahwa Alif kecil punya energi yang berlebih. Dia harus diberi banyak kegiatan untuk menyalurkan energinya. Itho’ juga berkonsultasi dengan ayahnya (kakek Alif, Red) yang juga berprofesi sebagai psikiater. ”Dari situlah makanya saya mengikutkan Alif ke berbagai les dan kegiatan. Selama itu positif, Alif saya daftarkan,” terangnya.


Bocah penggemar komik itu kemudian ikut les bahasa Inggris, matematika, sempoa, renang, menggambar, dan lainnya. Dari situlah sifat hiperaktifnya mulai berkurang. Alif kecil menikmati saat-saat belajarnya tersebut. Yang paling dia sukai adalah les sempoa.


”Kalau les sempoa atau matematika tanpa disuruh pun dia langsung berangkat. Tapi, kalau les menggambar, masih tawar-menawar dulu,” terang Itho’. Begitu senangnya dengan matematika, putra pertamanya itu beberapa kali menjuarai lomba mental aritmatika tingkat nasional. Dia juga menjadi juara kelas setiap tahun. Nilai matematikanya selalu sepuluh.


Kendati sering menjuarai berbagai lomba, Alif tergolong siswa yang jarang belajar. Dalam sehari, dia hanya belajar sekitar 10 menit hingga 1 jam. ”Tapi, kalau dia belajar terlalu sebentar, pasti saya tegur,” ujar Itho’. Meski demikian, Itho’ terkadang sering heran sendiri. ”Meski belajarnya cuma sebentar, dia sering pulang sambil menunjukkan hasil ujian yang mendapat nilai sepuluh,” imbuh perempuan berjilbab itu.(oni)

Sumber Jawa Pos, Kamis 6 November 2008

Dimuat juga di :

1. Harian Surya

2. Surabaya Pos

3. Suarasurabaya.net

Hasil selengkapnya International Mathematics Competition 2008 (IMC 2008) – Chiang Mai, Thailand 25-30 Oktober 2008 bisa dilihat disini dan disini.

Talk Show “Smart Parent for Smart Student”

Posted November 13, 2008 by keluargaalhikmah
Categories: berita, komite sekolah, Uncategorized

Tags: ,

Sabtu, 25 Oktober 2008 lalu, Klub Keluarga Al Hikmah kembali mengadakan Talkshow Pendidikan Anak. Talkshow kali ini sekaligus diisi acara bedah buku “Smart Parent for Smart Student : Panduan Cerdas bagi Orang Tua Murid” yang ditulis oleh salah satu walimurid yang juga salah satu direktur di Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), Ust. M JINAN, M.Pd.I.

Buku yang menarik karena didalamnya bisa didapati banyak sekali tips yang aplikatif tentang bagaimana kita sebagai orangtua, mendampingi anak-anak kita menjalankan perannya sebagai seorang murid di sekolah. Pembahasan yang cukup detil dan rinci tentang banyak hal menjadikan buku ini menjadi bacaan yang sangat bermanfaat bagi kita para orangtua yang sekaligus menjadi walimurid ini.

Lihat saja bagaimana penulis membahas tentang anak-anak yang cenderung lebih patuh kepada ustadz/ah di sekolah daripada orangtuany dirumah. Ustadz Jinan mengungkapkan, bahwa hal ini merupakan suatu hal yang positif dan tidak perlu ditanggapi secara emosional oleh para orangtua. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa anak-anak ternyata sudah bisa menerima otoritas lain diluar lingkungan keluarga. Jadi yang lebih penting untuk diperhatikan adalah tinggal bagaimana orangtua bisa menjalin kerjasama yang baik dan proporsional dengan pihak ustadz/ah di sekolah.

Bab lain membahas juga tentang betapa Buku Penghubung seakan sebuah pisau bermata dua, bisa menjadi hal yang sangat BERBAHAYA! Kenapa? Contohnya, karena hal-hal berikut ini :

  • Buku penghubung digunakan sebagai sarana untuk menakut-nakuti anak agar mau melakukan tugasnya.
  • Buku penghubung ditulis tidak sesuai dengan kondisi riil anak.
  • Buku penghubung ditulis sesuai dengan permintaan anak.
  • Tidak ada tindak lanjut terhadap informasi yang ada pada buku penghubung.
  • Orangtua atau guru tidak memiliki kepedulian untuk mengisi buku penghubung.

    Selain hal diatas, didalam buku yang sangat handy ini juga dibahas hal-hal praktis, seperti soal uang saku, apa yang mesti dilakukan orangtua jika menghadapi kenyataan anaknya mendapat angka merah di rapor, bagaimana mengoptimalkan metode belajar anak-anak, membentuk karakter pada anak, sampai pada makna ciuman pada anak dan berapa jumlah TV yang baik dirumah kita. Lengkap, praktis, dan sangat pas untuk menjadi salah satu panduan kita sehari-hari.

    Selain Ustadz Jinan, ada pula Ibu Ani Christina, S.Psi.Psi, direktur Lembaga Psikologi Al Hikmah yang juga mantan BK SMA Al Hikmah Surabaya. Kehadiran Bu Ani tentu saja tidak disia-siakan oleh sekitar 125 walimurid yang hadir pagi itu. Walimurid pun berbondong-bondong mengalamatkan “curhat”nya kepada Bu Ani. Tentang apalagi kalau bukan tentang polah tingkah anak-anak dirumah dan juga di sekolah. Dengan jawaban yang lugas dan sangat menarik (karena diselipi cerita-cerita tentang anak-anak yang ditemuinya selama beliau bertugas sebagai BK), Bu Ani sudah membuat suasana talkshow menjadi gayeng dan berlangsung hangat.

    Ada yang menarik ketika salah satu orangtua sempat curhat, memang benar betapa anak-anak ini sangat patuh dan sangat mengidolakan ustadz/ah di sekolah, sampai-sampai sebagai orangtua sempat terjadi sedikit “kecemburuan” karena hal ini. Dengan lugas Bu Ani pun menceritakan, bahwa anak-anak sebenarnya juga sangat mengidolakan orangtuanya. Hanya saja memang anak-anak suka “malu” atau bahkan “gengsi” untuk mengungkapkannya secara langsung. Buktinya, lanjut Bu Ani, ketika anak-anak di sekolah, cerita-cerita yang meluncur dari bibir mereka seringkali juga tentang papa atau mama, tentang apa saja kehebatan orangtuanya dirumah. Hal ini yang mungkin tidak banyak diketahui oleh para orangtua.

    Lebih lanjut, Bu Ani juga mengungkapkan, bahwa ketika diadakan semacam kuis atau polling. tentang profesi apa yang nantinya diminati anak-anak ketika mereka dewasa, ternyata lebih dari 60% anak-anak menjawab ingin menekuni profesi yang sama dengan yang ditekuni orangtuanya. Inilah bukti bahwa sebenarnya, tak ada alasan orangtua untuk “mencemburui” ustadz/ah di sekolah, karena baik orangtua maupun guru, sama-sama merupakan bagian yang penting dan patut menjadi idola dan tauladan bagi kehidupan anak-anak kita. (*)

    (Anda berminat untuk mandapatkan buku “Smart Parent for Smart Student”? Silakan menghubungi Ibu Eka (staf Komite Sekolah) di nomor 031-8290140)

    p1130124 p1130126

    p1130114 p1130136

    p1130137 p1130160

    p1130141 p1130162

    p1130173 p1130151

    Waspada… Narkoba Jenis Baru

    Posted November 11, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Oleh: Aniek Yuliani *)

    Beberapa bulan yll saya menerima email dari kawan saya yang mengingatkan bahwa telah beredar narkoba jenis baru berupa permen di kalangan anak-anak. Tanpa pikir panjang lagi selesai buka email anak-anak saya nasehati untuk berhati-hati dan tidak jajan sembarangan. Waktu berlalu dan alhamdulillah kami tetap dalam lindunganNya.

    Tadi pagi kawan saya yang lain kirim pesan via sms isinya begini : <forwarded from BNN>

    Ass.Wr.Wb. Ini info dari ortu murid Sekolah Internasional Tunas Muda Kebon Jeruk. Ada NARKOBA jenis baru dng nama STRAWBERRY QUICK & STRAWBERRY METH. Waspada! sdh beredar di lingkungan di lingkungan sekolah, NARKOBA CRYSTAL bentuk bulat mirip dng permen POP ROCK rasa dan aroma strawberry kalau dihisap berdesis dalam mulut. Anak2 berfikir bahwa barang tsb adalah PERMEN. Ada rasa coklat, kacang, cola, cery, anggur dan jeruk. Hati2 karena menyebabkan anak masuk RS dan ketagihan. PERINGATKAN anak untuk tidak menerima permen dari orang yg tidak dikenal atau siapapun atau dari teman mereka sekalipun. Tolong info ini disebarkan ke ortu lain. Wass.

    Masya Allah merinding saya membacanya. Mungkin sudah banyak orang tua yang sudah mendapatkan info seperti ini tapi tidak ada salahnya saya tulis kembali agar kita tetap waspada betapa dekatnya bahaya mengancam di sekitar kita.

    Sore pulang sekolah, semua penghuni rumah dari anak-anak dan juga mbak yang membantu di rumah (ayah belum pulang tapi sudah diberitahu via sms) saya beritahukan kembali tentang permen narkoba. Intinya mereka harus waspada, hati-hati, jangan makan sembarangan dan mohon perlindungan Allah SWT. Kalau perlu tidak usah makan permen karena menurut saya kok tidak ada untungnya.

    Ternyata kata si kakak Kiky yang kelas IX , kemaren Ustadzah sudah memberitahu tentang adanya permen jenis itu. Alhamdulillah….sekolah juga cepat tanggap. Dan kami yakin Insya Allah anak-anak telah diberi bekal pendidikan dan akhlak yang baik di Al Hikmah.

    ” Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya “

    *) ortu dari Kiky (IX-E) , Erry (III-F) , Eggy.

    Mereka Adalah Anak-Anak Kita

    Posted November 2, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: sharing

    Tags: ,

    Oleh : Fathor Rahman*)

    :::::…..

    Berita wafatnya Ibunda anak-anak kita Fitri (SD kelas 2) dan Fikri (SD kelas 6) seharusnya menjadi pelajaran yang amat berharga bagi kita semua, sungguh besar ujian ALLAH buat mereka berdua yang dalam usia sekecil itu harus rela kehilangan Ayah Bundanya, semoga semua ini kelak akan menjadikan mereka insan pilihan ALLAH yang tangguh mengibarkan panji-panji Islam, amin ya robbal alamin.

    Anak-anak kita adalah amanah ALLAH yang harus kita jaga dengan sepenuh hati, mengantar dan mendampingi mereka menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa adalah salah satu tugas utama kita di dunia, dan itulah motivasi utama menyekolahkan anak-anak kita di Al-Hikmah untuk mempersiapkan mereka menjadi pewaris nabi dan pembawa risalah Ilahi.

    InsyaALLAH semua akan kita laksanakan amanah tersebut dengan senang hati, jangankan harta nyawapun akan kita pertaruhkan.

    Tapi siapakah yang akan menjaga Fitri dan Fikri, merawat, menemani, membelai dan mendekapnya ketika galau menyelimuti hatinya. Siapakah yang akan mengusap air matanya kala kerinduan akan Bundanya memenuhi rongga dadanya. Apa yang terjadi pada Fitri dan Fikri bukan tidak mungkin terjadi pada anak kandung kita, entah besok, lusa, setiap saat jika sudah waktunya tidak ada satupun yang bisa mencegahnya.

    Fitri dan Fikri adalah sosok nyata yang barangkali akan menjadi ujian ALLAH bagi kita semua untuk meneruskan amanah-Nya, meneruskan perjuangan Ayah Bundanya untuk mencetak kader-kader Islami. Mereka adalah anak-anak kita semua yang berhak mendapatkan kasih sayang sebagaimana kita menyayangi anak-anak kandung kita.

    Melalui forum ini saya mengajak semua wali murid Al-Hikmah, Komite Sekolah dan YPI Al-Hikmah untuk bersama-sama memikirkan dan mewujudkan pembentukan suatu forum atau lembaga yang memberikan pendampingan pada kasus-kasus seperti di atas.

    Semoga ALLAH menjadikan kita manusia yang mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang kita hadapi, amin.

    :::::…..

    *)Penulis adalah wali murid Sekolah Al Hikmah, ayahanda dari Kio (kelas 2C)

    Skenario Untuk Fitri dan Fikri

    Posted October 27, 2008 by keluargaalhikmah
    Categories: berita, sharing

    Tags: ,

    Tulisan dibawah adalah reposting dari salah satu blog walimurid milik Ibu Wahida. Postingan aslinya bisa dilihat disini.

    :::::…..

    Fitri adalah salah satu teman seangkatan Abe di sekolah sejak TK A dulu sampai sekarang kelas 2 SD. Sedangkan Fikri adalah satu-satunya kakak Fitri dan sekarang duduk di kelas 6 SD. Dan tulisanku ini, adalah cerita tentang sepasang kakak beradik yang –insyaAllah- akan menjadi anak-anak yang dekat dan sangat disayangi Rasulullah.

    Ketika dulu sekolah baru saja mulai untuk Abe di TK A (pertengahan 2005), waktu-waktu itulah kami (para walimurid angkatan itu) mulai mengenal Mbak Laila, ibunya Fitri. Seorang wanita cantik yang menyenangkan. Dan baru beberapa bulan juga ketika kita semua dikejutkan dengan berita tentang meninggalnya sang suami. Tak hanya terkejut, kami semua juga tak kuasa menahan airmata setiap kali melihat sosok Fitri yang waktu itu masih berumur 4 tahun.

    Dan yang kami lihat dari Mbak Laila waktu itu hanyalah ketegaran, ketabahan dan keikhlasan seorang istri yang ditinggal suami dengan 2 anak yang masih kecil.

    Beberapa saat kemudian, setelah lama nggak muncul di sekolah, Mbak Laila muncul dengan beberapa tester kue kering. “Aku bikin-bikin kue mbak, siilakan cicipi, dan kalo berminat telpon saja aku ya” katanya. Dia sempat bercerita kepada seorang teman, betapa dia sangat memerlukan kesibukan itu. Harta peninggalan almarhum suaminya yang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tidak membuatnya lantas berleha-leha. Konon dia memang termasuk wanita yang tidak betah duduk diam.

    Diam-diam, kami para walimurid sering rasan-rasan betapa Mbak Laila memang wanita yang tegar. Dan ketegarannya itu, kembali dia buktikan kepada kami semua.

    Sekitar 2 tahun lalu, kami mendengar bahwa dia menikah lagi. Tentu semua turut berucap syukur untuknya. Apalagi menurut cerita-cerita, suami yang sekarang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak. Beberapa kali kami juga melihat si bapak ini menjemput Fitri dan Fikri di sekolah. Life seems back to ‘normal’ for Mbak Laila, Fikri dan Fitri.

    Tetapi, rupanya memang hidup ‘normal’ hanyalah untuk orang-orang yang ‘normal’. Hidup normal bukanlah untuk manusia-manusia pilihan Allah yang luar biasa. Manusia-manusia seperti Mbak Laila, juga Fitri dan Fikri.

    Luar biasanya, Mbak Laila ternyata sempat juga ‘mencurangi’ kami semua. Ketika suatu hari seorang teman datang membawa berita bahwa Mbak Laila sakit dan harus menjalani kemoterapi, kami cuma bisa istighfar dan melongo. Istighfar karena ternyata sudah beberapa bulan dia dinyatakan terkena kanker getah bening, dan tak ada satupun dari kami mengetahuinya. Melongo karena bahkan hanya beberapa hari sebelumnya, seorang teman masih melihat Mbak Laila menjemput anak-anak sekolah, dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit parah. Dia masih ceria dan menyenangkan seperti biasanya.

    Astaghfirullah…

    Akhirnya, bergantian kami menjenguknya. Siapa yang sempat, datang membezuk bergantian dalam selang waktu tertentu. Aku pribadi, setelah sekali membezuknya, selama setahun terakhir ini tidak pernah lagi membezuk. Alasan klasik yang membuatku malu sendiri, yaitu kesibukan. Beberapa kali dengan beberapa teman aku juga sempat janjian untuk menjenguknya, tapi nggak tahu kenapa, belum terlaksana juga.

    Sampai Kamis malam kemarin, datanglah sms pilu itu..

    “Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker, Mbak Laila akhirnya menghadap Allah, Rabu malam dan langsung dimakamkan jam 23.00 WIB”

    Mbak Laila, bahkan kaupun tak mengijinkan kami untuk meratapimu di hari pemakamanmu… Hari Kamis malam kami semua baru mendengar kabar duka itu, padahal Rabu malam jenazah Mbak Laila sudah dimakamkan.

    Ya Allah…kami sadar hanya atas ijin dan kuasaMu sajalah yang bisa membuat ini semua terjadi. Tapi tak urung, sangat pilu hati kami membaca sms itu. Sebagai seorang ibu, yang langsung terlintas di pikiranku tentulah Fitri dan Fikri. Ampunilah kami karena kali ini kami hanya bisa menyaksikan skenarioMu dengan hati yang hancur dan pilu.

    Jumat pagi 24 Oktober 2008 kemarin, akhirnya ramai-ramai kami bertakziah kerumah duka. Dan kepiluan kami pun bertambah dengan cara yang tak bisa kami bendung lagi. Apalagi ketika dari lantai 2 muncul seorang anak 7 tahun yang cantik dan masih tersenyum ceria, yang kemudian bersalaman dengan kami semua satu per satu… Diantara tangis air mata pilu kami dan neneknya, kami hanya bisa menyebut nama Allah tanpa henti. Bertambah menusuk pagi itu ketika kemudian satu persatu cerita meluncur dari ibunda Mbak Laila dan suaminya…

    “Laila tidak pernah mengeluh, sudah lama dia merasa siap apapun yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah pasrah sama Allah. Dia hanya akan sedih ketika mengingat anak-anak… Kami selalu bilang, jangan lah kamu sedih dan khawatir, banyak yang akan menjaga anak-anak. Dan terutama, Allah akan menjaga mereka. “

    Sebelum meninggal, mbak Laila sempat koma selama 3 hari. Dan setiap kali Fitri dan Fikri datang, setiap kali itu juga bulir airmata selalu menetes dari matanya yang tertutup. Si nenek juga cerita bahwa yang paling mengagumkan adalah Fikri. Bocah laki-laki 11 tahun itulah yang selalu mengelus tangan ibunya selama koma, membisikkan kata sayang dan ikhlas kalaupun Allah akan memanggil sang bunda. Kata nenek, nafas terakhir Mbak Laila terhembus beriringan dengan setetes airmata dari mata yang tertutup koma, tepat ketika Fikri menyelesaikan bacaan Yasinnya untuk sang bunda…

    Nenek bilang, pantaslah alm ayah Fikri wanti-wanti berwasiat bahwa anak-anak harus terus bersekolah di AL Hikmah (sekolah Islam). Almarhum tak lagi menginginkan apa-apa selain Fiktri dan Fikri menjadi anak-anak sholih/sholihah yang akan terus mendoakan orangtuanya. Untuk itulah dia percaya bahwa salah satu caranya adalah terus menyekolahkan anak-anak di sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Dan apa yang dilakukan Fikri di saat-saat terakhir Mbak Laila, rasanya sungguh menjadi jawaban atas doa dan keinginan almarhum ayahbundanya…

    Dalam tangis pilu, kami hanya bisa turut berdoa,

    Untuk almarhum Mbak Laila, teman yang telah menunjukkan pada kami pelajaran terdalam..

    Tentang ketegaran dalam menjalani hidup, bagaimanapun skenarionya..

    Juga keikhlasan dalam menerima skenario hidup kita masing-masing…

    Semoga semua amal ikhlas dan ibadahmu diterima oleh Allah

    Dan diampukan semua kesalah dan dosa…

    Juga untuk Fikri dan Fitri,

    Kami percaya pemilik semua skenario hanyalah Allah semata…

    Kami juga percaya bahwa Allah juga yang Maha Penjaga…

    Semoga kalian berdua menjadi anak sholih/ah yang selalu berdoa untuk ayahbunda…

    Banyaklah berdoalah Nak, karena sungguh kami percaya, doa-doa anak sholih dan anak-anak yatim, akan selalu dijawab oleh Allah SWT…

    Aminn

    T_T

    :::::…..

    (Cat : Ibu Wahida adalah walimurid dari Abe – 2D dan Bea – TKA1)


    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.