Ketika Anak Kita Mengingatkan

Oleh: Kurniawan Muhammad *)

Setiap kali berada di kamar mandi, saya sering rengeng-rengeng menyanyi. Jadi, sambil jebar-jebur, biasanya beberapa lagu saya nyanyikan.

Suatu ketika, begitu keluar dari kamar mandi, saya langsung dicegat anak saya Muhammad Shindid Maulana yang sekarang duduk di kelas 2 E.

”Ayah…menyanyi di kamar mandi itu nggak boleh…,” kata dia setengah berteriak. Saya kaget, lantas berusaha bertanya. ”Kata siapa Ndid?,”. ”Kata ustadz-nya Shindid di sekolah,”.

Biasanya, saya selalu bertanya alasan dan sumbernya secara detail setiap kali saya diberitahu seseorang. Tapi, ketika saya dilarang menyanyi di kamar mandi, dan yang melarang adalah anak saya, dan anak saya bersumber dari ustadz-nya di sekolah, maka saya pun memilih manut. Saya tidak akan tanya ke Shindid lebih jauh, apa dasar hukumnya melarang orang bernyanyi di kamar mandi. Karena bagi saya, anak seumuran Shindid pasti masih polos. Ketika dia ngomong itu bersumber dari ustadz-nya, pastilah itu memang benar dari ustadz-nya. Dan pasti, Pak Ustadz punya dasar atas larangan tersebut.

Sejak itu, saya tidak lagi menyanyi di dalam kamar mandi, meski hanya rengeng-rengeng, dan meskipun nggak ada Shindid.

Saya harus menjadi orang tua yang konsisten. Shindid saya sekolahkan ke Al Hikmah, agar pengetahuan agamanya mumpuni. Dan ketika dia mulai menerapkan ajaran yang diterimanya dari sekolah ke lingkungan terkecil (keluarga), seperti menegur saya yang punya kebiasaan tak baik tadi, maka itu harus dihargai, sekaligus diikuti.

Kebiasaan saya yang juga direspons Shindid, adalah saat membersihkan wajah. Saya punya kebiasaan, sebelum

tidur, saya selalu membersihkan wajah dengan kapas yang saya basahi dengan sedikit air. Rupanya, kebiasaan saya itu diperhatikan Shindid.

Suatu ketika, dia memberi saran kepada saya. ”Ayah…kata ustadz-nya Shindid, kalau ingin wajah terlihat cerah dan bersinar, sebelum tidur berwudhu dulu,” katanya.

Mendengar ini, saya kembali tercengang. Sebab, saya ”diajari” anak saya lagi. Tapi, saya bangga. Dan saya melihat, Shindid memang menerapkan ajaran yang diterimanya dari ustadznya itu. Sebelum tidur, dia hampir selalu berwudhu dulu.

***

Peristiwa di atas, menunjukkan betapa kita sebagai orang tua, seringkali mengabaikan hal-hal kecil, yang itu sebenarnya kebiasaan tidak baik. Ketika itu kita lakukan, Allah punya banyak cara untuk mengingatkan. Salah satunya, melalui anak-anak kita.

Karena itu, ketika saya diingatkan Shindid, saya merasa bukan Shindid yang mengingatkan saya, tapi Allah. Dan Shindid bisa mengingatkan saya, karena dia menerimanya dari ustadz di sekolah. Di sinilah sebenarnya sinergi antara sekolah dan rumah itu terjadi. Sinergi yang efektif, akan menjadi harmoni. Salah satu yang membuat sinergi menjadi efektif, adalah sikap konsisten dan lapang dada orang tua.

Ketika anak di sekolah didisiplinkan agar selalu mengerjakan salat lima waktu, maka orang tua di rumah harus konsisten dengan kewajibannya melaksanakan juga salat lima waktu. Jika itu yang terjadi, terciptalah sinergi yang harmoni, baik di sekolah maupun di rumah. Tapi, jika orang tua di rumah salatnya bolong-bolong, atau (naudzubillah mindalik) malah sama sekali tidak salat, sinergi itu tidak akan terjadi.

Arus sinergi tidak hanya dari sekolah ke rumah. Tapi, bisa juga dari rumah ke sekolah. Karena itu, saya merasakan betul manfaat dari buku penghubung. Setiap kali saya dan isteri menemui problem di rumah terkait Shindid, selalu kami tulis di buku penghubung. Semoga saja, buku penghubung itu istiqomah fungsinya sebagai media untuk menjadikan sinergi antara sekolah dan rumah menjadi efektif.

***

*) Penulis adalah walimurid Al Hikmah dan salah satu redaktur di Harian Jawa Pos

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Comments on “Ketika Anak Kita Mengingatkan”

  1. yasin Says:

    thanks sharing nya mas yang cukup bagus…..

    salam kenal dari arek Kauman-Sel Jombang

  2. ann Says:

    Untuk keperluan data tesis S-2 sy,
    sy memberikan penawaran bagi ibu…”
    jika ibu dng syarat :
    – wanita, usia 50-65 tahun
    – ada penawaran pemeriksaan Dexa (standart WHO unt periksa keropos tulang)+ logam berat dalam darah hanya 350rb. harga normalnya 850rb.
    – yg terlihat nanti TULANG BELAKANG+ TULANG PANGGUL.

    -pendaftaran sebelum tgl 15 aprl09; tgl pemeriksaan 20/21 aprl09
    -kami bersedia menjemput untuk ke lokasi pemeriksaan RS Mitrakelrga Sby
    -jika berminat, dpt menghubungi sy.nita 08179339455.
    trimks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: