Kisah Ikan Salem

Oleh : Wahida Ariffianti *)

Salem merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan salem sebenarnya menetas di sungai (air tawar), tetapi kemudian setelah berusia 3 bulan dia pergi dan menghabiskan hidupnya di lautan (air asin). Terkadang sampai jauh ditengah samudera yang luas. Kira-kira 4 tahun kemudian, ketika tiba waktunya bertelur dia akan kembali lagi ke sungai tempat kelahirannya.

Tentu ini unik dan cukup mengherankan, bagaimana ikan salem bisa menemukan arah untuk kembali ke sungai tempat kelahirannya padahal dia sudah lama menghabiskan hidupnya di tengah lautan yang maha luas?? Salem tidak tersesat dan bahkan sama sekali tidak kebingungan.

Seperti halnya Qobil yang belajar bagaimana cara menguburkan jenazah Habil saudaranya dari sepasang burung gagak, maka sebenarnya ikan salem juga menunjukkan satu pelajaran kepada kita semua, bahkan di dunia darat yang sudah modern sekarang ini…

Sekarang mari kita lihat anak-anak kita. Mereka terlahir di tengah-tengah kita keluarganya di rumah. Ketika nantinya cukup umur, merekapun masuk ke sekolah dan menghabiskan sebagian kecil waktunya (atau sebagian besar, kalau sekolahnya full-day) di tengah-tengah teman sekolahnya, guru-guru dan karyawan sekolahnya yang lain.

Lingkungan sekolah sedikit banyak pasti berbeda dengan lingkungan di rumah. Di sekolah, misalnya, anak-anak kita bergaul dengan banyak teman yang relatif seusia. Sementara dirumah, mungkin yang ada hanya adik/kakak yang tentu saja berbeda usia. Di sekolah anak-anak harus tertib berbaju seragam lengkap sementara dirumah dia bisa lebih bebas memakai baju bermain yang dia suka. Perbedaan-perbedaan seperti ini adalah perbedaan yang absolut, tidak bisa dihindari dan tidak bisa disangkal.

Seperti berbedanya air sungai dan air laut…

Yang sangat perlu menjadi perhatian kita adalah betapa beruntungnya si ikan salem. Ikan jenis yang lain umumnya tidak akan mampu menghadapi perbedaan air sungai dan air laut. Bahkan ikan air tawar bisa-bisa mati bila dicemplungkan ke air asin, begitu juga sebaliknya. Tetapi ikan salem tidak. Ikan salem serasa mempunyai dua “rumah” yang sama-sama nyaman untuknya. Kapanpun dia merasa perlu untuk pergi kepada salah satunya, dia tidak menemui kesulitan. Tidak tersesat tidak juga kebingungan.

Betapa beruntungnya anak-anak kita bila bisa seperti ikan salem ya? Dimanapun dia berada, di sekolah maupun dirumah, dia akan tetap merasa bahagia. Tidak tersesat dan tidak juga kebingungan. Yang masih menjadi pertanyaan adalah : bagaimana caranya salem bisa menemukan jalan kearah sungai tempat kelahirannya? Salem memang bisa mengenali/mencium bau sungai tempat kelahirannya, tetapi bagaimanapun ketika dia berada jauh di tengah-tengah samudera luas, dia tetap memerlukan pedoman yang bisa dia pakai untuk mengenali arah muara/pantai dekat sungai kelahirannya itu.

Banyak ilmuwan kemudian menyimpulkan bahwa ternyata salem menggunakan satu benda yang merupakan pedoman tertinggi di alam ini, yaitu matahari! Dari posisi matahari lah dia bisa menentukan kemana arah sungai tempat kelahirannya berada. Salem tidak akan salah arah karena selain matahari berada ditempat yang sangat tinggi (sehingga bisa dilihat baik dari sungai maupun lautan), matahari juga berputar dengan sangat konsistennya. Pagi muncul dari timur, petang tenggelam di barat. Setiap hari sepanjang tahun. Tak ada seharipun matahari berbalik arah maupun menolak untuk muncul. Ketika salem ada di sungai, matahari tetap terbit dari timur dan tenggelam di barat. Ketika salem ada di lautan pun, sama, matahari juga tetap terbit dari timur dan tenggelam di barat.

Sekarang mari kita kembali ke anak-anak kita. Belajar dari kisah ikan salem diatas, kalau memang menginginkan anak-anak kita tidak tersesat dan kebingungan diantara 2 lingkungan (rumah dan sekolah), ternyata jelas, pedoman yang dipakai di 2 tempat itu harus sama dan konsisten. Sama, maksudnya pedoman yang dipakai di sekolah juga harus sama dengan yang dipakai di rumah. Hal ini akan menjamin bahwa anak akan mendapat ajaran tentang VALUE (nilai-nilai dalam kehidupan) dan ETIKA yang sama. Konsisten, artinya pedoman yang sama tersebut harus diterapkan kedua belah pihak (sekolah dan rumah) secara terus-menerus, tetap, mantap dan tidak berubah-ubah.

Saya pun jadi sibuk bertanya-tanya sendiri, sudah samakah pedoman yang dipakai keluarga kami dengan sekolahnya anak-anak? Dan sudah konsistenkah kami (orangtuanya) dengan pedoman tersebut? Karena kalau memang belum, betapa malangnya anak-anak saya…

**********

*) Penulis adalah walimurid Sekolah Al Hikmah, ibunda dari Omar Charis Atthabrizi (kelas 2D) dan Namira Bai’atifa Azzahra (TK A1) dan juga Ketua Kompartemen KB-TK Komite Sekolah Al Hikmah Surabaya.

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Comments on “Kisah Ikan Salem”

  1. pakarfisika Says:

    assalaamu’alaikum wr. wb.

    senang menemukan blog ini, semoga barokah menyertai kita semua, amien…19x.

    wassalaamu’alaikum wr. wb.


  2. waalaikumsalam
    amin
    terimakasih Pak Ar silakan sering-sering mampir🙂

  3. A. Dzarrin al-Hamidy Says:

    Memang biasanya sekolah-sekolah unggulan seperti lembaga pendidikan Islam al-Hikmah memiliki wali murid seperti Ibu yang nota bene well educated. Tidak seperti sekolah-sekolah non unggulan yang pokoknya ‘anak saya’ bisa sekolah yang semurah-murahnya. Jadi akhirnya, pihak sekolah ya asal-asalan pengelolaannya. Untuk ini, saya mohon ibu berbagi pengalaman, bagaimana dalam situasi atau sistem yang belum tertata baik, anak-anak kita khususnya “terselamatkan” dari pergaulan yang tidak sehat. Juga bagaimana, mengkondisikan wali murid ‘kelas bawah’ itu untuk selalu memberi perhatian yang cukup terhadap pendidikan anak-anaknya?. Syukran ‘ala’tina’ikum.

  4. wahida Says:

    >>> Bpk Dzarrin :

    Salam kenal dan ukhuwah, terimakasih atas apresiasinya. Pertama, tulisan ini saya buat memang untuk kepentingan majalah sekolah kami Pak, jadi memang konteksnya mungkin lebih khusus untuk walimurid di sekolah Al Hikmah.

    Dalam kondisi tertentu, memang suatu hal yang sangat sulit untuk melakukan sinergi yang optimal antara walimurid dan sekolah. Seperti yang Bapak bilang, tanpa mengurangi rasa hormat, bahkan walimurid yang well-educated saja masih banyak kok yang begitu saja menyerahkan pendidikan anak-anak kepada pihak sekolah. Bahkan mungkin terkadang karena mereka sudah merasa membayar mahal, mereka pun jadi merasa pantas untuk mengharapkan hasil yang diinginkan “hanya” dari sekolah itu.

    Padahal dunia anak terpusat di 2 tempat itu, keluarga dan sekolah.

    Inilah yang sebenarnya menjadikan peran Komita Sekolah sangat krusial. Kalau tidak salah (cmiww) pemerintah sudah mencanangkan program ini untuk semua sekolah di seluruh Indonesia. Mohon maaf, saya sendiri kurang paham dan pengalaman tentang bagaimana Komite Sekolah di sekolah lain, tetapi dengan dicanangkannya program ini secara nasional, mestinya pemerintah sudah memberikan komitmen tersendiri untuk concern pada pentingnya peran aktif orangtua dalam pendidikan sekolah.

    Semoga…doa kita semua untuk terwujudnya dunia pendidikan yang lebih baik lagi bagi semua anak-anak Indonesia ya Pak..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: