Formula Ajaib dari Seorang Guru

Oleh: Wilis Arif Afandi *)

Para Guru di sekolah sungguh punya formula ajaib. Anak-anak pasti akan menjadi penurut dan patuh gara-gara formula ajaib itu. Contohnya dalam hal melaksanakan Shalat Lima Waktu. Saya melihat anak-anak bisa berubah sangat tertib, untuk ukuran anak-anak tentunya.

Seperti beberapa minggu belakangan ini, saya lagi-lagi dibuat terkejut oleh Nabiel. Pulang sekolah, dia nonton TV seperti biasanya. Belum mandi, belum ganti baju, lepas sepatu langsung memencet tombol TV. Dan biasanya akan terus berlanjut sampai menjelang maghrib. Kalau sang Ibu tidak mengeraskan suaranya anak-anak itu tak beranjak dari depan TV. Perlu energi, butuh suara lantang mengingatkan anak-anak untuk mandi dan shalat maghrib. Padahal di buku-buku Parenting kan diajarkan untuk selalu berbicara lemah lembut yaa pada anak-anak. Susah memang jadi orang tua.

Karena merasa mentok dan sudah sulit bersikap lembut lagi, saya punya cara paling jitu. Tulis saja di BUKU PENGHUBUNG!. Nah pada lembar INFORMASI ORANG TUA saya akan tuliskan permohonan bantuan pada Ustad/Ustadzah agar mengingatkan anak-anak untuk tertib shalat-nya. Dan simsalabim. Entah para guru itu punya formula ajaib apa, begitu pulang sore hari itu juga langsung ada perubahan nyata.

Seperti Nabiel, yang tidak berlama-lama lagi nonton TV. Dia ambil handuk dan segera mandi. Saya perhatikan dari balik pintu yang setengah terbuka. Tanpa ditanya dia berkata “Ma, ini sudah Maghrib?” ….Alhamdulillah. Luar biasa yaa sentuhan para Ustad dan Ustadzah di Sekolah.

“Tadi di sekolah, Ustadzah bilang apa Bil” tanyaku sedikit menyelidik.

“Itu Ma, tadi aku pulang terakhir….”

“Lho kenapa?” potongku pura-pura ingin tahu

“Soalnya aku ga shalat. Jadi aku disuruh shalat dulu sebelum pulang. Makanya aku pulang terakhir. Terus aku disuruh sama Ustadzah, nanti di rumah shalat yaa” jelas Nabiel

“Ooo begitu yaa….” kataku manggut-manggut.

“Sekarang aku mau shalat maghrib!. Ayo Bang kita jama’ah ”

Subhanallah. Saya sunggung bersyukur dengan perubahan ini . Sekaligus sungguh iri, karena begitu mujarabnya ‘formula ajaib para guru itu’. Seandainya saya punya formula itu. Begitu mudahnya membuat anak-anak belajar tertib shalat ketika di rumah. Di sekolah kan sudah dijamin tertib.

Manfaat Buku Penghubung

Hal ini bukan pertama kali ini saja. Meminta bantuan Guru melalui Buku Penghubung didasarkan pengalaman dengan Kakak-kakak-nya Nabiel. Saya punya 2 Putri dan 2 Putra. Dengan anak-anak perempuan saya tak begitu banyak mengalami masalah. Mungkin tabiat anak perempuan yang cenderung lebih penurut dan takut. Meskipun sebagai orang tua tetap rutin ‘mengingatkan’ untuk shalat, anak perempuan biasanya tidak perlu diingatkan berkali-kali. Beda dengan anak saya yang laki-laki. Sangat pandai membuat alasan.

“Ma, kakiku sakit kalau pas ruku’” atau ada lagi

“Kalau buat sujud kepala-ku pusing”….

Belum lagi alasan rebutan sajadah atau rebutan siapa yang jadi Imam, bahkan sampai rebutan posisi berdiri di dekatnya Imam.

Karena sering mengalami keruwetan kalau mau shalat di rumah, dan saya tak sanggup menyelesaikannya sendirian, campur tangan Ustad/Ustadzah sangat dibutuhkan. Dan Buku Penghubung menjadi media yang efektif sekali untuk membantu mengatasi problem semacam ini.

Memang jawaban tulisan dari para Guru sifatnya sangat normatif. Dan bagi anak kelas 1, masih sangat dimaklumi karena baru belajar. Intinya kerjasama dari Orang tua dan Sekolah harus dengan sabar terus dilakukan agar anak-anak tertib shalat. Begitu saja!

Jujur saya tidak begitu percaya. Karena itu saya menduga para Guru pasti punya Formula Ajaib yang membuat anak-anak sangat patuh pada perintah dan nasehat Guru. Meski kita ini terutama para Ibu adalah orang-orang yang melahirkan anak-anak kita sendiri, belum tentu mereka sepatuh ini pada kita. Tetapi pada para Guru, anak-anak itu patuh sekali. Itulah hebatnya menjadi seorang Guru.

Insyaallah anak-anak akan lebih patuh kalau Ustad/Ustadzah juga yang menasehati soal tingkah laku, bagaimana bersikap baik pada saudara atau orang-orang di rumah, bahkan sampai urusan kamar yang selalu berantakan. Orang tua pusing setiap hari mengingatkan untuk beres-beres kamar, meski hanya sebatas merapikan bantal dan selimut. Tapi para Guru itu punya pendekatan yang unik sehingga anak-anak begitu bisa cepat berubah.

Khusus untuk anak-anak yang sudah kelas 3 SD dan seterusnya, perubahan itu memang tidak bisa instan. Dan kadang juga angin-anginan. Begitu tidak mudahnya jadi orang tua, sehingga bantuan dan kerjasama dengan Sekolah terutama para Guru juga mesti kontinu dilakukan. Orang tua perlu rajin melakukan komunikasi melalui Buku Penghubung.

Itulah gunanya Buku Penghubung. Kalau ada apa-apa dan perlu bantuan Guru di sekolah, tulis di buku penghubung saja. Terutama untuk urusan-urusan moral dan perilaku. Semaksimal mungkin kita manfaatkan ‘Formula Ajaib’ para Ustad dan Ustadzah untuk membantu perubahan perilaku yang baik. Sinergi antara Orang Tua dan Sekolah memang keharusan.

*) Penulis adalah walimurid Sekolah Al Hikmah, Ibunda dari : Nadia (IX-H), Icha (IV-D), Ijal (II-A) dan Nabiel (I-D)

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Comments on “Formula Ajaib dari Seorang Guru”

  1. Nuning Says:

    Sama Bu Wilis. Di rumah juga seperti itu. Mungkin perlu forum ya, untuk minta ramuan ajaib pada guru-guru anak kita he he

  2. Acik Said Says:

    Terima kasih Bu Wilis, tulisannya kena sekali dengan yang kami alami. Kadang harus pake teriak-teriak dulu untuk menertibkan anak-anak. jadi kayak Satpol PP anak buah Pak Arif deh he he. Sepertinya perlu kuliah bareng dengan para guru ya.

  3. Rozalina Says:

    Bu Wilis..salam kenal yaa.

    Bener banget bu,suatu hari karena terlambat shalat subuh, maka saya menuliskan tanda – pada kolom shalat subuh pada buku penghubung anak saya (shafiya – kelas 1 C).

    Lalu ustadzah meresponnya dengan menuliskan icon sedih di kolom shalat subuh itu. Seperti ini😦

    Lalu saya sampaikan ke Shafiya, bahwa sang ustadzah sedih Syaffa tidak shalat subuh.

    Kontan setelah itu tidak ada jam jam shalat yang terlewatkan. Subhanallah..semoga menjadi amal jariyah para uztad /uztadzah yaa

  4. wilis Says:

    Terimakasih untuk yang sudah comment tulisan saya. salam kenal juga.
    Kita jadi berkaca yaa, masa kecil dulu kita juga pernah menyulitkan orang tua. Sekarang kita sedang ditunjukan betapa jadi orang tua jaman sekarang sangat besar tantangannya.

  5. wahida Says:

    Hehe memang benar Mbak Wilis, topik ini seringkali juga menghiasi obrolan Ibu-Ibu walimurid kalau sedang ngumpul… banyak sekali cerita muncul tentang betapa ampuhnya kata-kata ustad/zah padahal orangtua yang ngomong sampe berbusa-busa mulutnya saja, belum tentu efektif!😀

    Para asaditiyah memang paling bisa menjadi idola bagi anak-anak… Subhanallah..😀

  6. venni Says:

    Salam kenal, Bu Wilis.. Ternyata permasalahan kita para orang tua ini kayaknya kok sama ya.. jadi satpol PP di rumah masing-masing.. he he Dan emang bener manfaat buku penghubung amatlah besoar.. Saya udah pernah merasakannya, biasalah ya gara-gara anak kami tidak nurut dan masih pegang game boy pada saat azan udah terdengar. Belum lagi kalo pas berebut dan teriak-teriak ama adiknya di rumah.. Saya tinggal tulis aja di buku penghubungnya..Alhamdulillah Diza ( Klas VD udah gede lo padahal..) secara perlahan dia udah ada kemajuan dan perubahan akhlak dan attitudenya.. Terima kasih Ustad/Ustadzah atas formula ajaibnya itu. Dan semoga jadi amalan yang diterima Allah Swt ya Mbak Rosalina.. Amin..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: