Puasa Yang Menyayat Hati

Oleh : Wahida Ariffianti *)

Sebuah pemandangan yang menyayat hati…

Kemarin sore, Abe anak saya yang duduk di kelas 2D terlihat tergeletak lemas, di lantai didepan kamar mandi…

Setiap yang mendekat dan memintanya untuk pindah berbaring ke sofa, tak juga mampu membuatnya bergerak barang sedikitpun. Abe masih lunglai dengan posisi meringkuk miring, dan kedua tangannya ditangkupkan diantara kepala dan lantai, seakan menjadi bantal..

“Pindah ke sofa yuk Abe..”

Tak ada jawaban, baik dalam bentuk kata-kata maupun gerakan. Pandangan matanya sayu, mulutnya mengatup rapat dan dia tetap saja meringkuk tak bergerak.

“Di lantai dingin lho Be.. Apalagi ini didepan kamar mandi…”

Tetap saja, Abe cuma bisa diam lemas. Bujukan apapun tak mempan.

Tak berapa lama kemudian, Bapak pulang dari kerja dan kontan langsung menyebut nama Allah melihat keadaan putra sulungnya ini. Tanpa ba bi bu, dia langsung mengangkat saja tubuh Abe (dirumah ini hanya Bapak yang masih kuat mengangkat Abe seperti itu) dan membaringkannya di sofa.

“Haauuss, Pak….”

Dari tadi siang, memang itu yang dikeluhkannya. Juga lapar. Memang hari itu hari pertama bulan Ramadhan. Dan sore-sore begini, tentulah waktu terberat bagi anak-anak yang sedang berlatih puasa.

“Abe masih puasa?” tanya si Bapak.

“Iya…” jawabnya lemas.

“Oya?? Kamu hebat sekali! Allah pasti semakin sayang sama Abe, sama seperti Bapak dan Ibu sekarang. Sabar ya nak, tahan…sebentar lagi sudah maghrib.”

“Aku hauusss…..” lolong Abe lagi kali ini dengan airmata yang sudah mengambang.

“Atau Abe mau berbuka puasa sekarang??” pancing Ibu (sstt…strategi seperti ini biasanya berhasil dan menjadi tantangan untuk Abe).

Abe menggeleng. (tuh kan?)

Tadi siangnya, ketika dhuhur hal ini juga terjadi. Abe breakdown dan sempat menangis karena lemas, lapar dan haus. Tetapi sesuai dengan rencana yang kami (Abe dan saya) susun sebelumnya, puasa Abe bisa terselamatkan dengan tidur siang.

Yang kami bisa lakukan sore itu hanyalah memeluknya. Erat-erat dan lama. Kami bisa membayangkan bagaimana hausnya dia, orang dewasa saja kadang-kadang merasakan beratnya puasa hari pertama, apalagi Abe. Bergantian saya, suami dan mbak pengasuh menemaninya duduk di sofa itu. Membacakan buku cerita, mengobrol (tentu obrolan satu arah, karena Abe masih tetap lemas membisu), Juga Bea, adik kecilnya yang masih duduk di bangku TK yang dengan cerewet ikut membesarkan hati kakaknya.

Subhanallah…walaupun tersayat hati ini melihat keadaan Abe, hanya satu doa saya melihat keadaan rumah saya sore itu. Semoga Allah SWT tersenyum dengan ridho melihat kami sekeluarga disini. Doa itu yang terus menjadi penguat tekad saya untuk melatih puasa maghrib Abe.

“Aku juga puasa kok Mas Abe!” kata Bea tiba-tiba, seolah ingin ikut berempati dengan kakaknya. Hari itu memang Bea puasa, tapi sudah buka sejak jam 9 pagi!

“Hehe.. Iya, puasanya Bea namanya “Puasa Lucu”, bukanya jam 9 pagi, ya kan Bea?” komentar saya.

“Heheeeeee….iya!! Aku Puasa Lucu!! ” sahut Bea dengan tertawa.

Dan hei, Abe pun ternyata juga ikut tertawa melihat tingkah si adik.

Sebenarnya ini bukan pertama kali Abe puasa maghrib. Tahun lalu ketika masih kelas 1, hari pertama Ramadhan adalah kali pertama dia berhasil puasa sampai maghrib. Subahanllah, sungguh hari itu sangat berat, sekaligus sangat berkesan buat saya. Tetapi di hari ke-2 dan seterusnya, dia merasa kapok, dan tidak mau lagi. Akhirnya model puasa Abe tahun lalu adalah berbuka ketika bedug, kemudian setelah itu puasa dia teruskan lagi sampai maghrib.

Yang membuat saya bangga lagi adalah suami. Kebetulan, saya dulu mulai puasa maghrib secara penuh ketika masih berumur 7 tahun, sedangkan suami cerita kalau dia mulai puasa maghrib ketika berumur sekitar 9-10 tahun. Tahun lalu, ketika saya untuk pertama kalinya mencanangkan program melatih puasa maghrib untuk Abe, kami sempat berbeda pendapat. Suami berpendapat bahwa Abe masih terlalu kecil dan dia mengkhawatirkan kesehatan Abe, biarlah dia puasa sekuatnya dulu, sampai dhuhur atau kalau perlu jam 10 pun diperbolehkan berbuka. Tetapi saya merasa Abe sudah siap.

Saya tidak akan pernah lupa bagaimana beratnya hari itu. Untuk membujuk, mengalihkan perhatian Abe supaya puasanya bisa sampai maghrib. Abe juga terlihat sangat tersiksa, mulai dhuhur hampir setiap jam dia breakdown dan menangis karena lapar dan haus. Dan saya juga tidak akan lupa bagaimana rasa bangga pecah membuncah didalam rumah kami ketika kemudian Abe benar-benar bisa sampai maghrib. Dan yang paling penting, akhirnya suami semakin mantap untuk mendukung Abe berlatih puasa maghrib (dan secara penuh sebulan) untuk tahun ini.

Ramadhan tahun lalu itu, saya memang berusaha untuk mendorong sampai batas kekuatannya, tetapi saya tidak mau memaksakan Abe harus puasa maghrib lagi. Saya tidak mau Abe punya konsep yang negatif tentang puasa (bahwa puasa itu sebuah beban berat dan menyiksa). Mengukur kondisinya ketika itu, akhirnya untuk hari ke-2 dan seterusnya saya pun membolehkan Abe untuk berbuka dhuhur, tetapi kemudian dia setuju ketika saya menawarkan bahwa setelah berbuka dhuhur itu, Abe meneruskan puasanya sampai maghrib.

Tahun ini, saya sangat berbesar hati karena rupanya Allah mulai menjawab doa-doa saya. Abe terlihat jauh lebih siap dan bahkan semangat menyambut puasa. Dan dia sendiri yang bertekad untuk puasa sampai maghrib.

Sejak eberapa hari menjelang Ramadhan, kami berdua (Abe dan saya) sibuk membuat rencana, apa yang akan dilakukan kalau Abe breakdown lagi, menangis lagi karena lapar dan haus?? Dan Abe ternyata datang dengan usulan ide rencana yang dahsyat!

“Pokoknya Ibuk jangan bolehin aku berbuka sebelum maghrib. Kalau aku nangis lapar dan haus, peluk saja aku! Oke??”

Subhanallah…semoga Allah SWT selalu melindungimu dalam kehidupanmu, anakku…

(Sidoarjo, 02 Ramadhan 1429 H)

(Kisah selengkapnya pengalaman Abe berpuasa tahun lalu bisa dibaca disini : “Kejutan di Hari Pertama Ramadhan” )

*) Penulis adalah walimurid Al Hikmah, Ibunda dari Omar Charis Atthabrizi (Abe, kelas 2D) dan Namira Bai’atifa Azzahra (Bea, TK A1)

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

5 Comments on “Puasa Yang Menyayat Hati”

  1. Rozalina Says:

    Subhanallah..mbak ! Aku ya lagi terharu ini….Syaffa (1C) alhamdulillah sudah 2 hari ini puasanya sampe maghrib terus tanpa break!

    Ah…Semoga Allah memudahkan anak-anak kita ya mbak…:)

  2. Pakde Says:

    Subhanallah mbak….Menyentuh sekali dan salut untuk Abe…akhirnya berani dan punya niat untuk puasa sampai magrib. Anak yang Hebat…btw reawrd nya apa nih?
    salam kenal.

  3. wahida Says:

    >>> Mbak Ros : Wah kalo Shafiyya aku wis gak heran pokoke, anak sampeyan itu memang puinter hehehe…semoga Shafiyya juga lancar puasanya ya Nak…salam buat Shafiyya ya🙂 Iya, aminn aminnn🙂

    >>> Pakde : salam kenal juga, alhamdulillah, semua karunia Allah semata Pak, terimakasih🙂

    Rewardnya? Saya suka memulai reward dari dirinya sendiri (misalnya meyakinkan Abe betapa dia harus bangga sama dirinya sendiri ketika berhasil puasa sampai maghrib, dan rasa kebanggaan itu merupakan reward yang berharga buat dirinya sendiri, juga dimata Allah dan kami orangtuanya)…..kalau reward yang begini dirasa kok belum berhasil memberikan kepuasan bagi dia, baru saya memutuskan memberi reward berupa barang. Alhamdulillah khusus untuk puasa, ternyata pelukan kami semua seisi rumah sudah cukup menyunggingkan senyum puas di wajah Abe, jadi ya itu rewardnya😀

  4. wilis Says:

    Mendampingi anak-anak belajar puasa wajib bagi orang tua. Sejak dini dampingi saat-saat mereka berjuang menaklukan ego.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: