Mari Berbagi Mobil Untuk Anak-Anak Kita

Oleh : Fathor Rahman *)

Dua puluh tahun lalu ketika saya memulai kuliah saya di Surabaya, sungguh saya merasa tidak dapat memahami kenapa di sekolah-sekolah tertentu hampir setiap anak diantar oleh mobil pribadi yang berakibat setiap jam masuk dan pulang sekolah timbul antrian dan kemacetan.

Saya juga tidak dapat mengerti alasan para orang tua/wali murid yang mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan demi keamanan dan keselamatan si anak, dan tentu hal tersebut sebagai perwujudan kasih sayang orang tua kepada buah hatinya. Berbagai perasaan timbul, mulai dari mengapa mereka lebih rela mengeluarkan biaya untuk transportasi semacam itu dibandingkan dengan memberikannya pada fakir miskin, tidakkah hal tersebut akan mempertajam kecemburuan sosial dimana sebagian orang harus berpanas-panas dan berdesakan diangkutan umum sementara sebagian yang lain berenak-enakan dengan mobil pribadi yang tanpa disengaja malah merampas hak pemakai jalan yang lain dengan kemacetan yang ditimbulkan, dan berbagai fikiran lain yang bermuara pada ketidaksetujuan terhadap situasi yang ada.

Tapi lain dulu lain sekarang, rahmat Allah membawa saya pada kenyataan bahwa kami menyekolahkan anak kami di Al-Hikmah yang nota bene sebagian besar siswanya diantar dengan mobil pribadi walaupun ada juga yang memakai jasa antar jemput, bahkan saya membelikan mobil untuk istri dengan tujuan utama sebagai antar jemput anak kami sekolah karena tidak mungkin saya antar sendiri mengingat kantor saya tidak searah dan jam pulang kerja yang sangat tidak beraturan.

Saya dan istri sepakat untuk tidak mengikutkan anak kami dengan mobil antar-jemput karena khawatir terlalu pagi saat berangkat dan terlalu sore/malam sampai di rumah, ujung-ujungnya adalah kasihan pada anak, walaupun kami setuju bahwa sisi positif mengikutkan anak antar-jemput yaitu melatih kemandirian dan sosial.

Sungguh ironi melihat kenyataan bahwa kami termasuk kontributor timbulnya kemacetan di beberapa ruas jalan ketika jam masuk dan pulang sekolah, suatu kondisi yang kami tidak setujui sebelumnya.

Dua tahun kami melakukan itu ketika anak kami masih di bangku TK, dan sejak setahun yang lalu istri saya sepakat dengan wali murid yang lain untuk bergantian mengantar dan menjemput anak-anak kami. Alhamdulillah sampai sejauh ini semua berjalan dengan baik, tempat duduk yang terisi penuh tidak membuat anak-anak kami merasa tidak nyaman, bahkan kami mendapatkan keuntungan diantaranya, biaya transport berkurang dan yang paling membahagiakan anak-anak kami menjadi lebih akrab dan selalu timbul suasana ceria didalam mobil sepanjang perjalanan pulang.

Sungguh senang melihat mereka saling care antara satu dengan yang lain, ketika salah satu diantara mereka belum berkumpul untuk pulang mereka kemudian berpencar mencari, di kesempatan lain semua harus sabar menunggu jika salah seorang diantara mereka belum keluar kelas, dalam hati saya berdoa “Ya Allah jadikan mereka semua pribadi-pribadi yang peduli dengan saudara-saudaranya sesama muslim yang akan memberi warna pada bangsa ini di masa depan, generasi yang mampu menjadikan Islam sebagai cahaya yang bisa mengayomi keberagaman suku, bangsa dan agama serta menjadikan bangsa ini sebagai bangsa bermartabat dan bermoral, amin”.

Untuk itu saya mengajak semua wali murid Al Hikmah untuk bersama-sama memikirkan hal ini, bukankah akan lebih baik jika kelebihan anggaran transport kita disisihkan untuk saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Semoga Allah SWT akan selalu membimbing langkah kita dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

*) Penulis adalah ayahanda dari Tifano Muhammad Noor Isykio (KIO), siswa 2C SD Al Hikmah Gayungsari Surabaya.

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Comments on “Mari Berbagi Mobil Untuk Anak-Anak Kita”

  1. wilis Says:

    Anak pertama saya lebih cepat mandiri dan mudah bergaul. Sejak TK s/d kelas 6 SD ikut antar jemput. Yang penting mengajari anak mudah beradaptasi dan peka dengan lingkungan.
    Berbagi mobil, ide yang patut diacungi jempol.

  2. Rozalina Says:

    ide yang baguss.. Siapa ya yang rumahnya Pondok Tjandra :))

  3. abdul Hamid Says:

    mmm ide yang bagus pak…. mungkin kedepan bukan hanya berbagi mobil… kita sebagai orang islam perlu mencontoh sekolah2 non muslim, sebab disana mereka menerapkan subsidi silang untuk siswa yang kurang mampu, yang terkadang siswa tersebut adalah anak dari keluarga muslim (baca: saudara seiman kita), dari sana mereka memasukkan nilai2 non islam kepada “anak saudara kita”. kalau setelah lulus sekolah mereka berpindah agama…. siapa yang paling bertanggung jawab??? di sisi lain, sekolah2 islam (sekolah idaman ) terus menerus menaikkan biaya sekolah hingga keluarga dibawah garis kemiskinan (realita kondisi umat islam saat ini) tidak bisa menikmati sekolah yang berkualitas….. kepada siapa mereka mengadukan kebutuhan anaknya untuk sekolah?? semoga allah membuka hati kita untuk berbagi, amien
    Hamid
    pemerhati pendidikan
    webmaster http://www.majelistasbih.com

  4. wahida Says:

    wah saya malah sudah lama membicarakan ide ini dengan suami, hehehe terimakasih sudah menulisnya Pak Fathor…

    >>> Mbak Ros : setahu saya, banyak lho mbak walimurid yang tinggal di Pondok Tjandra hehe…

  5. wahida Says:

    >>> Bpk Abdul Hamid : sebelumnya salam kenal🙂 membahas tentang subsidi silang, saya pernah menulis tentang plus minusnya…(dan iya, ternyata ide subsidi silang memang ada minusnya juga)

    silakan ikut rembug disini : http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/90/Sambungan_Sekolah_Sayang_Sekolah_Ma…hal..

  6. Fathor Rahman Says:

    Bpk Abdul Hamid, terima kasih banyak atas tanggapan dan sarannya, hal yang sama tentang subsidi silang biaya pendidikan dan mahalnya sekolah Islam yang berkualitas sempat saya tanyakan pada salah satu forum silaturahmi YDSF. Mendidik guru-guru dan pengurus pendidikan Islam adalah salah satu kontribusi yang insyaALLAH sampai saat ini terus dilakukan, diharapkan dengan demikian sekolah-sekolah Islam dapat meningkatkan kualitasnya, sehingga kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas dapat dinikmati oleh semua tataran ekonomi. Pada intinya saya sangat setuju dengan ide Bpk, semoga kedepan semakin banyak lagi lembaga-lembaga kredibel seperti YDSF agar nikmat ALLAH lebih terdistribusi dengan baik, atau bagaimana kalau wali murid Al-Hikmah bersama Al-Hikmah membentuk YAYASAN DANA SOSIAL AL-HIKMAH ??????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: