Apa jadinya bila…???

Reposting dari blog Ibu Agustin, salah seorang walimurid Sekolah Al Hikmah. Postingan aslinya bisa dilihat disini.

:::::…..

Sudah sekitar jam 2 siang tadi ketika aku, Shiel, Olive dan Luki janjian nonton di Sutos.

Keluar dari kompleks perumahan (ku) yang berjarak sekitar 300 meter dari SD Al Hikmah, dari dalam mobil aku melihat seorang bocah berseragam berjalan sendiri. Dia masih sangat kecil, dan dari seragamnya, aku pastikan dia satu sekolah dengan Shafa (di SD Al Hikmah).


Aku langsung berfikir, sudah jam segini ini anak kok belum pulang ? (kebetulan ini hari pertama sekolah masuk, setelah libur panjang lebaran, dan anak-anak hanya sekolah setengah hari, pulang jam 1 siang). Melihatnya (dari spion mobil), aku bingung dan memutuskan untuk berbalik arah. Aku panik dan bertanya ke Shiel, kira2 menurutnya anak itu bingung nggak.


Sekali lagi aku melihat dari kaca spion….. Anak itu sudah nggak terlihat lagi! Akhirnya kami pun sepakat untuk kembali. Persis seperti yang aku duga, ketika aku sudah berbalik arah, bocah itu sedang menyeberangi jalan yang sama sekali tidak sepi

Ya Allah, anak siapa ini….???

Ketika Shiel turun dari mobil dan menanyakan kenapa kok belum pulang, si bocah yang ternyata memang satu sekolah dengan Shafa dan baru kelas 1 itu (terlihat dari betsnya), dia menjawab.. “Nunggu papa.”

Akupun langsung geram mendengarnya.
“Kenapa kok nggak nunggu di sekolah, atau tunggu di perpus aja sayang?” tanya Shiel lagi.
“Udah tutup,” jawabnya dengan wajah sedikit melas ( tapi tampak bocah laki2 ini pemberani).
Akhirnya Shiel pun menanyakan nomer telepon papa, mama, dan rumah si bocah.
Oh ya bocah ini bernama Thole (bukan nama sebenarnya-red).
Dengan sigap Thole memberikan no tlp yang diminta (hebat ya bocah ini, dia sangat hafal nomor-nomor telefon yang kami minta).

Sambil menelfon kedua orang tuanya (yang nggak ada jawaban), kami antar Thole kembali ke
sekolah (yang sudah sangat sepi), serta menitipkannya ke satpam sekolah, dan memberinya nasihat agar nggak keluar dari sekolah sampai papanya datang.

Di dalam gedung bioskop, aku nggak terlalu bisa konsentrasi ke film yang aku tonton karena
kepikiran si Thole. Hatiku masih miris.


Apa jadinya kalau yang menemukan Thole tadi adalah orang yang sakit jiwanya?
Apa jadinya kalau yang memasukkan Thole ke dalam mobil adalah orang jahat yang gemar
menyakiti anak-anak?
Ya Allah…Thole mudah sekali ikut dengan orang yang nggak dia kenal tanpa curiga akan di bawa kemana dia dan siapa yang membawanya.

Karena terus kepikiran, akhirnya sepulang dari nonton, kembali Shiel dan Olive menghubungi orang tua Thole untuk menanyakan apakah Thole sudah ada di rumah. Tak lupa juga menceritakan kronologis kejadian siang tadi yang dialami Thole.

 

Dan apa kata ibunya….?

“Thole itu memang nakal kok!”
Mendadak kepalaku pening…..

Aku menghitung, untuk jalan kaki dari sekolah ke rumahku dalam keadaan terik cukuplah
melelahkan (untuk anak seumur Thole). Tapi Thole cukup tangguh melakukannya.

Duh ibu-ibu, bapak-bapak, janganlah biarkan anak-anak kita menunggu jemputan terlalu lama. Apalagi dalam kasus Thole, dia masih kelas 1 SD! Kalaupun memang tidak bisa segera menjemputnya, bicarakan hal ini kepada pengajar atau petugas sekolah. Dan yang paling penting, memberi nasihat kepada anak-anak kita untuk tidak terlalu jauh dari lokasi sekolah. Bukan tidak mungkin sekolah anak-anak kita adalah incaran para penjahat.

:::::…..

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

8 Comments on “Apa jadinya bila…???”

  1. wahida Says:

    aduh ngeri ya kalau sampe anak kita yang masih kelas 1 bisa kelayapan sejauh itu sepulang sekolah….??

    beda dengan TK, karena cukup banyaknya murid, di SD memang guru pengajar tidak akan bisa sepenuhnya mengawasi ananda sepulang sekolah… orangtua mestinya menyadari hal itu dan anak-anak ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan, mereka kan masih kecil?? wong masih kelas 1 SD gitu…?

    menurut saya, tanggungjawab memang sepenuhnya ada dipundak orangtua, dalam hal ini kalau memang ortu bakalan telat menjemput, toh bisa menghubungi walikelas/sekolah sebelumnya, sehingga sekolah bisa membantu menjaga si murid sebelum dijemput…

    saya juga punya pengalaman sendiri…
    suatu sore, sekitar jam 6.30 malam, kebetulan saya lewat depan SD Al Hikmah
    betapa terkejutnya saya ketika di lapangan basket depan sekolah, masih saya dapati 2-3 anak yang belum dijemput! padahal sekolah sudah usai jam 4 sore tadinya kan??

    kemudian saya juga mampir di swalayan sekolah…
    ketika saya ungkapkan keterkejutan saya tentang masih adanya siswa yang belum pulang jam segitu, tanggapan mbak2 karyawan swalayan malah lebih membuat saya kliyeng2 tak habis pikir..

    “oh iya Bu, memang tiap hari mereka begitu, baru dijemput jam 7 malam, pernah juga sampai jam 7.30 baru jemputannya datang!”

    Ya Allah!!

    anak-anak yang sudah sekolah full-day sampai sore begitu, masih harus menunggu jemputan sampai semalam itu??
    dalam hati saya cuma bisa nyebut, sambil berharap, semoga saja para ortu mereka itu punya alasan yang SANGAT AMAT BAGUS sampai bisa-bisanya membiarkan anak-anak mereka menunggu jemputan sampai semalam itu!!

    wallahu a’lam bishawab

  2. agustin Says:

    bukan berarti kalau anak kita bisa mengaji, sholat dengan benar, dan sedikit bekal akhlak
    dari sekolah, lantas anak2 ini dapat menyelesaikan masalahnya sendiri diluar rumah dan sekolahnya (di luar jam sekolah).

    saya pernah mendengar seorang wali murid protes kepada kepsek bahwa tidak perlu ada libur di hari Sabtu karena kalau dirumah anaknya nakal sekali (sejujurnya saya ingin
    mencekik leher ibu ???). dan kepsek menjawab dengan jenaka “lha ibu ditinggali anak
    ibu sehari saja puyeng, gimana kami para guru yang dititipi ratusan anak selama 6 (kepsek mengangkat enam jarinya) hari bu…” diiringi derai tawa yang hadir di ruang itu. (atau ibu itu sudah tercekik lehernya mendengar jawaban kepsek dan tawa para hadirin)

    anak saya juga bertemperamen tinnggi (kalau tidak boleh dibilang nakal)
    tapi bukan berarti saya bisa membiarkannya kelaparan dan menunggu lama di sekolah karena saya sibuk di rumah, atau membiarkannya tidak mengerti hal2 yang akan membahayakannya jika jauh dari rumah.

  3. Sisil Faisal Says:

    Kejadian kemarin membuat kita para orang tua jadi lebih mawas diri……………bener2 kejadian yang membuat saya miris…………..saya kira pengawasan untuk anak2 pulang sekolah harus lebih diperketat lagi oleh pihak sekolah….dan untuk para orang tua kalo memang terlambat tolong informasikan ke Guru kelas….pasti kita udah punya no hp masing2 guru kan……jgn biarkan anak kita menunggu tanpa ada kabar…kasian mereka…untuk si Thole untung kemarin ketemu sama Ibu2 yang baik hati dan tidak jahat sehingga kita antar lagi Thole nya ke Sekolahan dan dititipin ke Satpam……coba kalo ngga..???………pasti ibu si Thole gak akan bisa bilang kalo “Thole itu anak nakal…”

  4. Wilis Says:

    Semoga Walikelasnya Thole baca postingan ini, biar lebih diawasi si Thole ini..coz we’re care each other..

  5. Fathor Rahman Says:

    Terima kasih banyak buat ibu-ibu yg sdh care banget pada Thole, semoga menjadi contoh buat kita semua bahwa mereka adalah anak-anak kita bersama yang perlu kita jaga bersama pula, sehingga kejadian yg lebih fatal bisa dihindari, semoga ALLAH membalas amal baik ibu-ibu, sungguh sayapun sangat miris membaca peristiwa itu, mengingatkan saya pada cerita teman kantor saya. Tiga kali saya saya ketemu di Kuala Lumpur tiga kali pula dia bercerita peristiwa yg lagi hangat tentang seringnya anak-anak hilang, yang lebih mengerikan beberapa diantaranya ditemukan kembali sudah dalam kondisi tidak bernyawa dengan beberapa organ tubuh hilang, yang paling sering ginjal dan liver (kelihatannya berhubungan dengan sindikat jual beli organ tubuh).
    Saya tidak dapat membayangkan kalau itu terjadi pada anak-anak kita (semoga tidak akan pernah terjadi), naudzubillah . . .
    Seharusnya memang tidak ada yang salah dengan tingkah laku anak-anak kita, apalagi masih kelas 1 SD, kalaulah ada yg tidak benar pada mereka kitalah yang paling pantas untuk disalahkan, sampai mereka benar-benar mampu untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
    Semoga kejadian di atas semakin menyadarkan kita akan arti penting menjaga anak-anak kita, menjaga amanah yang ALLAH berikan pada kita, serta semakin meneguhkan niat kita untuk semakin mempererat tali silaturahim, amin.

  6. erna Says:

    Thole…Thole..Alhamdulillah, kamu ada dalam genggaman ibu-ibu yang care, saya jadi miris dengan kejadian tsb, membayangkan kalau terjadi pada anak saya….Dengan kejadian tsb, kita para orang tua belajar untuk lebih intens menjaga anak-anak kita terutama pada usia yang belum bisa kita lepas begitu saja. Rasanya anak nakal itu relatif, mengingat usia yang masih dini dan terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita orang tua saja sudah dapat cap NAKAL. Semoga pihak sekolah bisa belajar dari kejadian ini, mungkin perlu menginformasikan kembali tentang penjemputan siswanya khususnya bagi yang terlambat menjemput.

  7. zulfa Says:

    Subhanallah, ada tangan dingin yg menyelamatkan 1 diantara berpuluh anak di jam yg sama dan waktu yg sama di tempat yg berbeda, munyelamatkan dari tangan2 syaiton. Salut buat Mbak, n perlu dicontoh bagi ibu2 penjemput lainya.

    Kalau masalah menjemput anak2, mungkin sy orang paling resek (kali…) di kelas 1 A. karena jika sy akan mejemput terlambat, pasti anak saya sudah sy doktrin utk tidak boleh diajak siapa sj kecuali ibu n bapak, itupun sy ulangi dg sms ustadz supaya anak saya langsung nunggu di perpustakaan. walaupun ketika menjemput agak kecewa karena anak saya sudah menunggu di depan pagar sekolah, karena dg alasan diajak teman2 pada nunggu di depan pagar. Ya…tapi bolehlah, asalkan tidak kemana-mana kecuali batas max di depan pagar aja.

    1 th lalu saya dpt cerita dari teman wali murid TK tmpt anak saya sekolah, dimana ada anak SD di dekat komplek perumahan saya tinggal, namanya “Lanang” (samaran), ketika pulang sekolah dia langsung pulang karena di rumah ditunggu oleh pembantunya (kedua orang tuanya bekerja). Nah, ketika sampai di depan pagar dan belum sempat masuk rumah, lanang diajak oleh laki2 bersepeda motor yg katanya suruhan orang tuanya. E…gak tahunya tuh laki2 niatnya mau nyulik….sampai malam tiba ke2 orang tuanya bingung cari sana-sini gak ketemu. akhirnya setelah lalrut tiba si lanang ditemuka di depan sebuah supermarket dengan kondisi linglung. Si orang tua yakin katanya anaknya disodomi…..Astagrifullah……

    Dari banyak kejadian di sekitar dan di TV, tolong para orang tua/penjemput sebaiknya harus waspada, karena sekarang banyak orang2 yg menghalalkan segala cara utk memperoleh kepuasan n kenikmatan dunia.

  8. cindy Says:

    Aduh…. Bapak-bapak…… Ibu-ibu…… Please……… jangan lepas kewaspadaan dari anak-anak ya………. miris banget rasanya denger kejadian kayak gitu. Ustadz/Ustadzah, mungkin memang sudah terlalu sibuk, tapi kami mohon lebih waspada lagi pada jam-jam setelah pulang sekolah, kalau perlu mungkin ada satpam yang piket keliling sekitar sekolah pada satu atau dua jam setelah jam pulang, siapa tau ada kejadian yang seperti yang diceritakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: