Skenario Untuk Fitri dan Fikri

Tulisan dibawah adalah reposting dari salah satu blog walimurid milik Ibu Wahida. Postingan aslinya bisa dilihat disini.

:::::…..

Fitri adalah salah satu teman seangkatan Abe di sekolah sejak TK A dulu sampai sekarang kelas 2 SD. Sedangkan Fikri adalah satu-satunya kakak Fitri dan sekarang duduk di kelas 6 SD. Dan tulisanku ini, adalah cerita tentang sepasang kakak beradik yang –insyaAllah- akan menjadi anak-anak yang dekat dan sangat disayangi Rasulullah.

Ketika dulu sekolah baru saja mulai untuk Abe di TK A (pertengahan 2005), waktu-waktu itulah kami (para walimurid angkatan itu) mulai mengenal Mbak Laila, ibunya Fitri. Seorang wanita cantik yang menyenangkan. Dan baru beberapa bulan juga ketika kita semua dikejutkan dengan berita tentang meninggalnya sang suami. Tak hanya terkejut, kami semua juga tak kuasa menahan airmata setiap kali melihat sosok Fitri yang waktu itu masih berumur 4 tahun.

Dan yang kami lihat dari Mbak Laila waktu itu hanyalah ketegaran, ketabahan dan keikhlasan seorang istri yang ditinggal suami dengan 2 anak yang masih kecil.

Beberapa saat kemudian, setelah lama nggak muncul di sekolah, Mbak Laila muncul dengan beberapa tester kue kering. “Aku bikin-bikin kue mbak, siilakan cicipi, dan kalo berminat telpon saja aku ya” katanya. Dia sempat bercerita kepada seorang teman, betapa dia sangat memerlukan kesibukan itu. Harta peninggalan almarhum suaminya yang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tidak membuatnya lantas berleha-leha. Konon dia memang termasuk wanita yang tidak betah duduk diam.

Diam-diam, kami para walimurid sering rasan-rasan betapa Mbak Laila memang wanita yang tegar. Dan ketegarannya itu, kembali dia buktikan kepada kami semua.

Sekitar 2 tahun lalu, kami mendengar bahwa dia menikah lagi. Tentu semua turut berucap syukur untuknya. Apalagi menurut cerita-cerita, suami yang sekarang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak. Beberapa kali kami juga melihat si bapak ini menjemput Fitri dan Fikri di sekolah. Life seems back to ‘normal’ for Mbak Laila, Fikri dan Fitri.

Tetapi, rupanya memang hidup ‘normal’ hanyalah untuk orang-orang yang ‘normal’. Hidup normal bukanlah untuk manusia-manusia pilihan Allah yang luar biasa. Manusia-manusia seperti Mbak Laila, juga Fitri dan Fikri.

Luar biasanya, Mbak Laila ternyata sempat juga ‘mencurangi’ kami semua. Ketika suatu hari seorang teman datang membawa berita bahwa Mbak Laila sakit dan harus menjalani kemoterapi, kami cuma bisa istighfar dan melongo. Istighfar karena ternyata sudah beberapa bulan dia dinyatakan terkena kanker getah bening, dan tak ada satupun dari kami mengetahuinya. Melongo karena bahkan hanya beberapa hari sebelumnya, seorang teman masih melihat Mbak Laila menjemput anak-anak sekolah, dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit parah. Dia masih ceria dan menyenangkan seperti biasanya.

Astaghfirullah…

Akhirnya, bergantian kami menjenguknya. Siapa yang sempat, datang membezuk bergantian dalam selang waktu tertentu. Aku pribadi, setelah sekali membezuknya, selama setahun terakhir ini tidak pernah lagi membezuk. Alasan klasik yang membuatku malu sendiri, yaitu kesibukan. Beberapa kali dengan beberapa teman aku juga sempat janjian untuk menjenguknya, tapi nggak tahu kenapa, belum terlaksana juga.

Sampai Kamis malam kemarin, datanglah sms pilu itu..

“Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker, Mbak Laila akhirnya menghadap Allah, Rabu malam dan langsung dimakamkan jam 23.00 WIB”

Mbak Laila, bahkan kaupun tak mengijinkan kami untuk meratapimu di hari pemakamanmu… Hari Kamis malam kami semua baru mendengar kabar duka itu, padahal Rabu malam jenazah Mbak Laila sudah dimakamkan.

Ya Allah…kami sadar hanya atas ijin dan kuasaMu sajalah yang bisa membuat ini semua terjadi. Tapi tak urung, sangat pilu hati kami membaca sms itu. Sebagai seorang ibu, yang langsung terlintas di pikiranku tentulah Fitri dan Fikri. Ampunilah kami karena kali ini kami hanya bisa menyaksikan skenarioMu dengan hati yang hancur dan pilu.

Jumat pagi 24 Oktober 2008 kemarin, akhirnya ramai-ramai kami bertakziah kerumah duka. Dan kepiluan kami pun bertambah dengan cara yang tak bisa kami bendung lagi. Apalagi ketika dari lantai 2 muncul seorang anak 7 tahun yang cantik dan masih tersenyum ceria, yang kemudian bersalaman dengan kami semua satu per satu… Diantara tangis air mata pilu kami dan neneknya, kami hanya bisa menyebut nama Allah tanpa henti. Bertambah menusuk pagi itu ketika kemudian satu persatu cerita meluncur dari ibunda Mbak Laila dan suaminya…

“Laila tidak pernah mengeluh, sudah lama dia merasa siap apapun yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah pasrah sama Allah. Dia hanya akan sedih ketika mengingat anak-anak… Kami selalu bilang, jangan lah kamu sedih dan khawatir, banyak yang akan menjaga anak-anak. Dan terutama, Allah akan menjaga mereka. “

Sebelum meninggal, mbak Laila sempat koma selama 3 hari. Dan setiap kali Fitri dan Fikri datang, setiap kali itu juga bulir airmata selalu menetes dari matanya yang tertutup. Si nenek juga cerita bahwa yang paling mengagumkan adalah Fikri. Bocah laki-laki 11 tahun itulah yang selalu mengelus tangan ibunya selama koma, membisikkan kata sayang dan ikhlas kalaupun Allah akan memanggil sang bunda. Kata nenek, nafas terakhir Mbak Laila terhembus beriringan dengan setetes airmata dari mata yang tertutup koma, tepat ketika Fikri menyelesaikan bacaan Yasinnya untuk sang bunda…

Nenek bilang, pantaslah alm ayah Fikri wanti-wanti berwasiat bahwa anak-anak harus terus bersekolah di AL Hikmah (sekolah Islam). Almarhum tak lagi menginginkan apa-apa selain Fiktri dan Fikri menjadi anak-anak sholih/sholihah yang akan terus mendoakan orangtuanya. Untuk itulah dia percaya bahwa salah satu caranya adalah terus menyekolahkan anak-anak di sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dan apa yang dilakukan Fikri di saat-saat terakhir Mbak Laila, rasanya sungguh menjadi jawaban atas doa dan keinginan almarhum ayahbundanya…

Dalam tangis pilu, kami hanya bisa turut berdoa,

Untuk almarhum Mbak Laila, teman yang telah menunjukkan pada kami pelajaran terdalam..

Tentang ketegaran dalam menjalani hidup, bagaimanapun skenarionya..

Juga keikhlasan dalam menerima skenario hidup kita masing-masing…

Semoga semua amal ikhlas dan ibadahmu diterima oleh Allah

Dan diampukan semua kesalah dan dosa…

Juga untuk Fikri dan Fitri,

Kami percaya pemilik semua skenario hanyalah Allah semata…

Kami juga percaya bahwa Allah juga yang Maha Penjaga…

Semoga kalian berdua menjadi anak sholih/ah yang selalu berdoa untuk ayahbunda…

Banyaklah berdoalah Nak, karena sungguh kami percaya, doa-doa anak sholih dan anak-anak yatim, akan selalu dijawab oleh Allah SWT…

Aminn

T_T

:::::…..

(Cat : Ibu Wahida adalah walimurid dari Abe – 2D dan Bea – TKA1)

Explore posts in the same categories: berita, sharing

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Comments on “Skenario Untuk Fitri dan Fikri”

  1. zulfa Says:

    Inna illahi wa innaillahi roji’un…

    Membaca cerita mbak, tak terasa air mata meleleh dari kedua pelupuk mataku. Subhanallah, hanya Allah yang bisa membuat cerita hidup kita manusia dalam senang dan sedih. Betapa dengan ketabahan yang diberikan kepada almarhumah bisa membuat kita bersyukur dengan kehidupan kita sekarang. Hati terasa sedih luar biasa ketika ikut memikirkan fikri dan fitri. Sungguh, benar kata mbak bahwa mereka adalah hamba pilihan Allah. Aku yakin, almarhumah akan berada di sisi kanan Allah SWT dengan memiliki anak seperti mereka (anak sholeh n sholehah).

    Sebagai pengingat kita pula, bahwa cobaan datangnya tidak kenal waktu, tiba2 kita bahagia, tiba2 pula kita akan merasakan kesedihan yang luar biasa. Ketika kita berada disaat bahagia, jangan lupakan sedetikpun rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala, sehingga disaat kesedihan kita datang, setidaknya kita tidak akan malu menunduk-nunduk mohon jalan keluar dari kesusahan kita. Dan sesungguhnya “Allah tidak akan melupakan umatnya yang yang selalu mengingat-Nya, dan Allah Tidak akan memberikan cobaan, sekirannya umatnya tidak mampu”.

    Mbak Laila….
    Engkau adalah hamba pilihan Allah, yang telah mampu menerima cobaan dari-Nya. InsyaAllah pusaramu akan terus bersinar dengan uraian doa kedua anak yang sholeh. Hanya amal dan doa anak sholeh-lah yang akan membuatmu bahagia di alam barzah…

    InsayaAllah…..
    Nanti malam kami sekeluarga akan memanjatkan doa khusus kepada almarhumah….
    dan keluarga yang ditinggalkanya khususnya fikri dan fitri….Allah akan selalu melindungi kalian berdua…..amin.

  2. wahida Says:

    iya mbak, apa yang mbak zulfa rasakan juga kurang lebih sama dengan saya,
    yahhh kita sama2 sebagai orangtua lah gimana menyaksikannya…

    saya setuju kata salah satu teman di sekolah
    bahwa sekarang, sesungguhnya Fitri dan Fikri sudah menjadi anak kita semua, seluruh walimurid Sekolah Al Hikmah

    semoga ananda berdua tumbuh dewasa menjadi manusia sholih sholihah kebanggaan kita semua, aminnn

  3. wilis Says:

    Beruntung Fikri n Fitri ada di lingkungan yang sangat baik, dan semoga kita tetap saling menjaga satu sama lain.

  4. mnurdin Says:

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu
    nanda fikri & fitri
    semoga tetap tabah dalam menghadapi kehidupan ini,
    saya jadi mikir apabila ini terjadi pada keluarga saya apakah anak-anak saya sudahkah mampu menghadapi cobaan seperti ini?
    semoga nanda fikri & fitri tetap jadi anak-anak yang soleh & solehah dan tetap terus mendo’akan kedua orangtuanya agar diampuni dosanya dan dimasukkan dalam surgaNya amin ya robbal alamin

  5. Wuryanano Says:

    Assalamu’alaikum…

    Baru tau ada blog ini dan coba mampir. Wah…sungguh mengejutkan, langsung terbaca berita duka ini. Sungguh, meskipun saya ini seorang pria, ayah dari ananda Rafidh Rabbani V-A SD Al-Hikmah dan Riyadh Ramadhan X-1 SMA Al-Hikmah, sulit membendung air mata membaca kisah nyata yang mengharu-birukan jiwa ini.

    Di kisah ini, juga disebutkan bahwa ibunda Fitri dan Fikri sempat menikah lagi, bagaimanakah keadaan ayahanda nya yang sekarang ini? Apakah beliau baik-baik saja dan bisa merawat kedua ananda ini?

    Sungguh menyesal, saya tidak tau berita duka ini, baru tau setelah baca blog ini. Apakah pihak sekolah tidak memberikan edaran pemberitahuan berita duka ini?

    Saya do’akan semoga ananda Fitri dan Fikri benar-benar selalu tegar dan diberikan rahmat oleh ALLAH, serta selalu dilindungi dalam setiap langkahnya oleh ALLAH. Amiin…yaa robbal ‘alamiin…

    Mungkin perlu diadakan semacam Paguyuban Orang Tua Asuh Al-Hikmah, yang bisa bermanfaat buat membantu kasus duka seperti ini. Saya siap mendukung. InsyaAllah.

    Wassalamu’alaikum,
    Wuryanano

  6. venni Says:

    Ya Allah.. hanya Engkau yang Maha Tahu atas segala yang terjadi di sekeliling kami, Hanya Engkau yang Maha Kuasa atas segala kejadian yang akan atau yang telah kami alami..Sesungguhnya kami ini hanya debu-debu yang beterbangan tak tentu arah, jadikanlah kami manusia yang saling mengingatkan tentang kebaikan dan jadikanlah kami manusia yang selalu bersyukur atas segala nikmatMu, menjadi manusia yang tabah dan sabar menjalani takdir dariMu.. Amin.. Buat anakku Fikri dan Fitri, Insya Allah kalian akan selalu dijaga olehNya dalam mengarungi hidup ini..Do’a kalian akan selalu mengiringi orangtua kalian di SurgaNya. Amin..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: