Sepaket Anak Kita (Mendampingi Alif Ikut IMC 2008)

Oleh : Itho Bharata *)

….. Kalo kita mau menerima kelebihan dari anak kita, terimalah mereka dengan segala kekurangannya. Atau mungkin istilah gampangnya terimalah anak-anak kita dalam satu paket……..

100_09911Kebetulan akhir-akhir ini saya diberi kesempatan untuk mengantar dan mengikuti dari dekat kegiatan dari anak kami saat mengikuti kejuaraan Olimpiade Matematika tingkat International. Saya mulai mengikuti kegiatan mereka dari tingkat seleksi awal, karantina sampai mereka berlomba di tingkat Internasional. Dan karena hampir tiap saat bertemu dan bergaul dengan para peserta lomba tersebut, secara tidak sadar saya mulai banyak mengamati tingkah polah mereka.

Ada beberapa kemiripan-kemiripan pada mereka yang membuat saya sering tertawa geli sendiri.. Apalagi kalau mereka sudah saling bertemu . Si Jenius, para jagoan matematika ini, yang kalau kita lihat diluar terlihat seperti anak-anak yang sangat luar biasa hebatnya, yang sering membuat kita sampai terkagum kagum melihatnya karena saling berebutan menjawab soal-soal matematika yang rumit hanya dalam hitungan detik, ternyata kalo sudah tidak di ranah matematikanya, mereka akan kembali seperti anak-anak pada umumnya.

Mungkin karena mereka terlalu sering menggunakan otak kirinya, mereka jadi terlihat tidak luwes untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, hanya untuk masalah menata baju atau pekerjaan rumah yang lain yang sehari-hari biasa kita lakukan, akan terlihat rumit dipikiran mereka. Karena mungkin semua kegiatan itu mereka masukkan ke dalam teori dan logika matematikanya.

Ada beberapa peristiwa yang sering membuat saya lagi-lagi tersenyum geli. Suatu hari pada saat kita semua lagi heboh packing baju karena mau pulang kembali ke tanah air , terlihat Wira si imut, duduk diatas tumpukan baju kotornya, dan didepannya terbuka kopor besarnya yang masih melompong.

“Kenapa Sayang, dari tadi kok belum dimasukkan bajunya?” tanya deputy leadernya. Dengan tetap melihat kopernya dan dengan muka serius, dia menjawab “Iya, soalnya kalo menurut teori, harusnya baju-baju ini ndak mungkin masuk semua ke koper ini…!” hahaha. Kita yang denger pada senyum-senyum semua. “Pake teori lagi deh” kata ibu-ibu yang lain. Makan tuh teori, pikir kita.

Di lain hari, pada saat tour keliling kota Chiang Mai, yang harusnya orang-orang pada santai melihat-lihat keindahan alam Chiang Mai, Alif anak kami terlihat serius, kenapa lagi nih?

“Kenapa Mas, kok serius amat?” tanya deputynya, sambil dengan dahi menekuk, dia jawab “Kalau menurutku Tante, harusnya acaranya ini ndak begini, kalo kita punya waktu cuman sekian jam (sambil menyebutkan angka), harusnya kita kesini dulu (dia menyebutkan suatu tempat), karena kalo kesana dulu, waktunya ndak cukup. Kan jaraknya sekian km (sambil menyebutkan angka), berarti kita butuh waktu (sambil menyebutkan angka) …. .. jadi ……..” Ibu deputy leader hanya tersenyum, karena beliau sudah biasa dan hapal dengan kebiasaan berteori mereka.

Mau tahu seperti apa kamar hotel tempat mereka menginap? Mungkin yang lain sudah bisa menebak. Biar sudah ditulis besar-besar di kamar masing-masing , di briefing sebelum berangkat dari tanah air dan diomeli tiap hari oleh deputynya , tetep aja kamarnya kayak kapal pecah!

100_19851Sepatu satu didepan pintu, satunya lagi di bawah tempat tidur. Baju, buku, kertas hitungan, makanan beserta sampahnya bertebaran dimana-mana. Ibaratnya kita mau duduk aja bingung. Kalo buka lemari bajunya, baju kotor dan baju bersih memang sudah bener beda tempat, tapi sama-sama berupa gundukan baju yang tidak terlipat.

Sampah makanan berceceran dilantai, kalau ditanya, siapa yang buang sampah disini? semua pada lihat-lihatan. Jadi kalau misalnya ada 10 plastik bekas makanan disitu, ternyata juga sampah milik 10 anak yang ada di kamar itu, dan lucunya mereka semua hapal nama pemilik sampahnya. Sering kita kesel rasanya, kenapa kok enggak otomatis sih, kalau habis makan langsung dibuang ditempat sampah, kalau habis pakai baju ditaruh ditas laundry dll. Tapi hebatnya juga mereka bisa tetap belajar dengan enjoy dan tidur dengan nyenyak walaupun dengan kondisi kamar super berantakan dan diatas tumpukan sampah-sampah.

Tapi kalo soal hitung-menghitung jangan ditanya, dalam keadaan apapun langsung nyambung. Mungkin sudah otomatis kali ya. Jadi tanpa dikomando otak kiri mereka langsung bekerja. Pernah seorang Tour Guide kita sampai dibuat tersipu malu. Karena keliatannya anak-anak itu pada cuek tidak memperhatikan, tapi ternyata otaknya mikir.

Suatu hari di bus yang mengantar kita keliling kota Singapura, Si Tour Guide sedang bercerita tentang Negara Singapura, “ Penduduk Singapura itu terdiri dari beberapa ras, ras Melayu …%, ras China …%, ras India …. % ….blablabla ..”

Kita yang mendengarkan sambil ngantuk, karena udah capek ya lebih tertarik untuk melihat pemandangan kota Singapura daripada mendengarkan si Tour Guidenya ngoceh. Tiba-tiba semua kaget dengan pertanyaan dari Alif, “ Lho sisanya yang 17% ras apa dong ?” … Hah, si Tour guidenya kaget sambil malu karena ketahuan salah, hehehe. Dia ndak nyangka kalo ternyata ada yang ngitung.

Belum lagi waktu kita lagi antri mau naik kereta gantung di Sentosa Island. Pada saat kita udah berebut mau naik, Alif langsung melarang. “Sudah cukup itu dulu, keretanya ndak kuat” larangnya sambil dengan cepat berlagak yang ngatur kelompok yang naik lebih dulu. Pikir kita, sok tau amat anak ini. Iseng kita tanya, “Kok Mas bisa ngatur kelompoknya yang berangkat lebih dulu?”. Dia langsung nunjuk tulisan yang ada di kereta gantung. Attention : This train only enough taken a ride by max …. people or ….. kgs. Oh! rupanya diam-diam dia menghitung kira-kira berat badan kita dan langsung dibuatkan kombinasi kelompoknya yang paling maksimal. Si penjaga kereta lagi-lagi tersenyum. “Wow… Good Job Boy!” serunya.

Kalau saya perhatikan lagi, dalam kehidupan sehari-hari mereka cenderung cuek dengan lingkungannya , kalau berkomunikasi suka “ndak jelas” menurut saya (tapi mungkin menurut mereka juga “orang-orang ini kok susah sekali diajak ngomong ya.. “, wah, jadinya ternyata ndak nyambung ya). Kalau bicara secukupnya, tapi kalau kalimatnya panjang suka tumpuk menumpuk berlomba-lomba antara kecepatan otak dan lidahnya, jadi tidak sinkron. Suka berbicara menggunakan bahasa baku dan istilah asing populer (mungkin bagi mereka kalo istilah asing lebih tepat guna dan pas, kalo diterjemahkan lagi malah jadi ndak pas dan mungkin terlalu panjang,.. hehehe). Dan rata-rata mereka terlihat lugu dan cenderung konvensional dalam berpakaian, kalau dandan sekenanya, kadang enggak maching pun mereka pede aja (mereka pikir, ndak penting lah penampilan yang penting isi otaknya). Tapi jangan ditanya, untuk pengetahuan populer, mereka sangat up date, mereka sangat hapal nama-nama atlet, even olahraga, penyanyi maupun tembang hit, aktris dan actor popular tingkat dunia sampai nasional. Kadang kita heran, kapan baca dan liat TV nya ya?

Ya itu tadi sekelumit cerita yang bisa saya sampaikan ke pembaca. Mungkin sekilas bisa memberikan gambaran tentang keunikan dari anak-anak kita, yang bisa membuat dunia ini jadi indah dan berwarna. (Nov 2008)

100_2017

*) Ibunda dari : Alif Akbar Putra Bharata (VI-B), Amira Aulia Putri Bharata (2F), Bei Alhafizh Putra Bharata (TK B2).

Explore posts in the same categories: feature, sharing

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

7 Comments on “Sepaket Anak Kita (Mendampingi Alif Ikut IMC 2008)”

  1. agustine Says:

    dulu waktu masih sekolah, saya paling gerah berdekatan dengan anak pintar
    (hal bodoh menurut saya sekarang). kebanyakan mereka antik, aneh. dan sedikit “sinting” (bukan yang di Menur lo)
    istilah mba’ Itho hanya bisa bergaul dengan “sesama jenis” (yng sama2 “sinting”). ternyata bergaul dengan mereka banyak sekali yang kita dapat dari kesintingan mereka.hal2 yang tdk terpikir oleh kita ada di fikiran mereka. saya sring menyemangati Shafa dengan memberi contoh keberhasilan mas Alif selain talenta dia juga sangat rajin belajar.
    lambat laun Shafa mulai agak antik dan sinting. tapi belum pintar sepertti mas.

    antik : walaupun beramai ramai dia bisa fokus pada sesuatu tanpa melibatkan
    teman2nya
    sinting: nggak peduli orang lain kalau sedang berkutat dengan bacaannya

    teruslah menulis kawan, itu adalah talenta yang harus terus di pupuk
    (jangan2 darah seni anak2 mengalir dari dirimu)

    “sinting” dari bapaknya “sinting” juga dari ibunya.

    selamat buat mas Alif atas prestasi yang di raih
    mudah2an bisa nulari Shafa dan Dafa ya.
    Amiiiin

  2. wahida Says:

    Hehe geli juga membaca tulisan ini, terbayang hebohnya anak-anak selama jauh dari tanah air🙂

    Anak-anak tetaplah anak-anak…sejenius apapun mereka, sesibuk dan sepenting apapun jadwal mereka, in the end of the day, hal yang paling penting tetaplah menjadi anak-anak yang ceria ya. Alif sungguh beruntung karena masih bisa menikmati waktu berhobi dan bergembira setelah semua tugas pentingnya membela tanah air tersebut. Salut.

    Kebetulan, salah satu sepupu saya seringkali mengikuti olimpiade internasional fisika juga (banci olimpiade, begitu dia dipanggil teman-temannya) dan seringkali saya juga tertawa geli karena dalam banyak hal, dia itu tak beda dan tak lebih juga dengan anak-anak lain. Masih suka usil, bisa mentertawakan hal-hal konyol yang nggak penting, sampai berkeluh kesah tiap kali dihadapkan pada tugas2 kerapian dan pekerjaan rumah tangga. Hehe…

    Alif sudah menjadi kebanggan Sekolah Al Hikmah, kebanggaan kita semua. Keep up the good work ya, dan teruslah menikmati dunia anak-anak, walau mungkin dunia tak seindah surga (waduh terbawa lagu Laskar Pelangi banget hehehe).

    Untuk Mbak Itho, darimana lagi kita semua bisa melihat dan menikmati “sisi lain” dibelakang layar semua kegiatan Alif kalau tidak dari tulisan ibunya, ya nggak?? Jadi teruslah menulis!!😀

  3. Nuning Says:

    Waktu baca berita Alif di Jawa Pos, kami kumpulkan anak-anak ngobrol ringan tentang Alif. Semoga anak-anak bisa dapat teladan yang baik. Tapi sisi lain kehidupan Alif ternyata lebih luar biasa juga. meski ada yang tidak boleh saya ceritakan ke anak-anak. Jangan-jangan nanti ada yang hitung-hitungan dulu ketika disuruh mandi, makan, sholat, dll. Atau diam-diam mereka bikin prosentase : pekan ini berapa kali ayah ibunya marah, senyum, teriak, bertengkar, he he he

    Thanks, selamat untuk Alif dan keluarga hebatnya !

  4. Fathor Rahman Says:

    Alhamdulillah, kami ikut senang dan bangga atas keberhasilan Alif, semoga bisa menjadi pemacu semangat khususnya buat siswa-siswi Al-Hikmah dan anak-anak Indonesia pada umumnya.
    Saya setuju dengan Ibu bahwa kita harus menerima kondisi anak-anak kita secara utuh, tidak hanya menerima kelebihannya tapi juga kelemahan mereka.

  5. nyasar Says:

    saya kira bukan sinting mbak agus, cuma idiot tapi jenius.
    saya sering nemui yg kayak itu, banyak dr orang2 yg mahir IT, bisa komunikasi dg mesin pake kode2 aneh dan bisa bikin mesin jadi cerdas, dari pagi sampe pagi lagi didepan komputer , tapi idiot kalo disuruh bersosial dg manusia. suka ga’ nyambung, aneh, ga’ peka, ga’ rapi, makan cuma mi goreng dan kopi
    tapi saya yakin mereka manusia utuh bukan alien😀 hehe…

  6. Sisil Faisal Says:

    Apapun dan bagaimanapun mereka tetap anak2 dan saya yakin setiap anak mempunyai kelebihan dan keunikan sendiri2 mereka akan berperan dlm setiap epsode yang akan dilalui……untuk Alif terimakasih ya nak…..sudah bisa menjadi kebanggan buat orangtua dan sekolahnya…semoga prestasi Alif bisa menjadi inspirasi buat adik2 dan temen2 semua….Amiiiien

  7. Tica Says:

    Ibu, dimana mendaftar perlombaan yang diikuti Alif?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: