Harap Tenang, Ada Ujian

Musim ujian telah tiba. Tulisan ini reposting (sebagian) dari salah satu blog walimurid. Postingan selengkapnya, silakan baca disini.

HARAP TENANG, ADA UJIAN

Oleh : Wahida Ariffianti *)

harap-tenang1

“Harap Tenang, Ada Ujian”. Ini bunyi poster yang seminggu kemarin dipampang di tembok-tembok depan kelas di SD Al Hikmah. Dengan kelegaan yang diam-diam, aku pun mengucap syukur karena ternyata Ujian Kenaikan Kelas (UKK) yang pertama buat Abe, anak saya yang waktu itu duduk di kelas 1, sudah selesai hari Kamis (19/06/08 ) kemarin.

Kenapa saya menyebut “kelegaan yang diam-diam??” Karena ketegangan “yang sebenarnya” sudah setengah mati saya bungkus dan samarkan menjadi ketegangan yang “diam-diam” saja. Bukan rahasia lagi kalau musim ujian anak-anak menjadi saat yang sangat menegangkan bagi semua Ibu-Ibu (dan sebagian Bapak-Bapak, mungkin? :-D). Begitu menegangkannya, sampai mengakibatkan segala macam ganggaun kesehatan, dari jerawat (nggak tahu deh, ada yang sampe bisulan juga nggak ya?) sampe segala macam gangguan pencernaan tujuh rupa (susah BAB, sama sekali nggak bisa BAB, terlalu lancar BAB, warna BAB berubah dari biasanya, tekstur BAB berbeda dari biasanya..aduh banyaknya hehe).

Sedangkan anak-anak yang menjadi pelaku utama di ujian, seringkali malah bertindak sangat ironis. Mereka..cuek…santai…cool…seepp…dunia berputar dengan tenang… Atau lebih parah lagi, mereka menunjukkan sikap malas-malasan, dan cenderung susah nurut pada perintah. Dan mudah ditebak akibatnya, akhirnya kelakuan anak-anak ini dijamin bakalan bikin ketegangan di pihak Ibu2 tambah terasa nyeng-nyeng lagi…

Ada seorang teman (sesama walimurid) yang ternyata bukan hanya gemas pada anaknya, tapi juga gemas gara-gara melihat saya yang tampak santai-santai saja padahal anak-anak sedang UKK. “Kok iso tho? Anake ujian tapi sik santai-santai wae??”

Hmm…yang terjadi dirumah saya kebetulan memang agak beda dengan deskripsi di awal tulisan tadi. Mungkin karena selama ini, alhamdulillah, urusan pelajaran Abe tidak pernah terlalu merepotkan. Dalam arti, nilai-nilainya selalu memuaskan kami (atau mungkin karena saya dan suami sendiri memang berkomitmen tidak mematok standar terlalu tinggi untuk urusan nilai pelajaran kepada Abe -misalnya harus sempurna 10 atau 90- yah hanya untuk menghindari tekanan berlebihan atas dia saja, bagi kami dia bisa bersekolah dengan gembira dan menjadi anak berbudi, itu yang lebih penting).

Dalam banyak hal, Abe sangat mengingatkan pada masa kecil saya sendiri, termasuk urusan belajar. Dulu saya pun juga tidak pernah punya waktu khusus belajar (maksudnya belajar dengan cara berkutat dengan buku paket) ketika dirumah. Kecuali seputar mengerjakan tugas dan PR (yang justru tidak banyak dialami Abe karena sekolahnya memang tidak memberikan PR buat siswanya kecuali tugas akhir pekan).

Rasanya istilah buku paket memang tidak boleh selalu disamakan dengan belajar ya. Saya dan suami percaya bahwa selama kami bisa memberikan kegiatan yang baik dan berguna ketika Abe dirumah, maka intinya ketika itulah dia akan belajar. Mempelajari benda langit, tak harus dari buku paket IPA, tapi bisa dengan duduk-duduk bersama di teras samping sambil menikmati bintang dan main kartu kwartet bersama-sama. Atau browsing ke website-website yang keren dan informatif. Belajar tentang matematika tak harus dari buku paket matematika, tetapi bisa dari bermain pasar-pasaran (jual beli) atau langsung membeli snack dan susu kotak di minimarket dekat rumah. Tema pembelajarannya toh bisa disesuaikan dan disinkronisasikan dengan tema yang sedang dipelajari di sekolah.

Intinya, belajar tentang apapun dirumah (atau diluar sekolah), syaratnya satu : tidak dari buku

paket! Kenapa? Karena toh Abe sudah seharian penuh berkutat dengan buku-buku paket ketika di sekolah. Rasanya kok dia sudah tidak membutuhkannya lagi dirumah ya. Selain itu, saya nggak mau waktu berkumpul kami dirumah yang sangat berharga itu habis justru untuk urusan buku paket. (Sekali lagi ini yang terjadi dirumah kami lho, saya percaya bahwa setiap rumah mempunyai cara sendiri-sendiri yang dirasa terbaik sesuai dengan karakter keluarga dan anak-anaknya).

Jujur, yang saya takutkan adalah, bahwa ketika orangtua (terutama Ibu) mengalami ketegangan berlebihan menjelang anaknya ujian, itu akan berdampak sangat luas. Suasana rumah akan berubah (jadi lebih tegang tentunya), dan perubahan ini akan mempengaruhi cara semua orang bersikap. Si Ibu mungkin menjadi lebih sensitif, agak lebih mudah ngomel, dll. Si bapak mungkin ikutan tegang (karena liat si Ibu sensitip, hihi), apalagi si anak. Radar anak-anak akan langsung menangkap perubahan suasana ini, dan akhirnya menjadi beban tersendiri buat dia. Saya khawatir bahwa beban yang dirasakan anak-anak bisa jauh lebih besar dari yang kita semua kira. Dan beban berat ini bisa-bisa akan menjadi efek yang unproductive bagi kinerja otak, misalnya kemampuan recall memorinya ketika hari-H ujian.

Yang paling saya takutkan lagi, saya percaya bahwa kata-kata adalah doa, dan doa yang paling dahsyat adalah doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Jangankan kata-kata yang keluar dari mulut, yang masih ada di dalam hati pun, bisa menggoyang ‘Arsy Allah untuk segera terkabulkan. Percaya atau tidak, ketika hati si ibu penuh dengan kata “jangan-jangan” (jangan2 si Eneng nggak akan bisa jawab, jangan2 si Otong dapet angka merah, jangan2 si Genduk nanti nggak naik kelas, dll dll), maka itu akan menjadi energi yang terkumpul dan tanpa sadar melayang keatas ‘Arsy Allah menjadi sebuah doa…. Nah loh!!

Oya, balik lagi sama poster diatas…

“Harap Tenang, Ada Ujian”.

Saya jadi mikir. Sebenarnya sekolah pasang poster ini kira-kira untuk siapa ya?

Anak-anak (biar nggak rame dikelas)??….ataukah…kita Ibu2nya…?😀

:::::…..

*) Penulis adalah ibu dari Omar Charis Atthabrizi (Abe) kelas 2D dan Namira Bai’atifa Azzahra (Bea) kelas TK A1.

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment on “Harap Tenang, Ada Ujian”

  1. wilis Says:

    kalau saya sih memang hobi senewen saat musin UAS n UKK…mungkin begitulah orang tua…kalau lagi musim ulangan pasti jadi satpam…satpam cantik hihihihi….http://wilis.blogdetik.com/index.php/2009/01/04/jadi-satpam-dan-atau-intel-cantik/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: