Suatu Pagi Di Pasar Kaget

(Inilah tulisan yang menjadi pemenang Juara 1 Lomba Menulis Kisah Inspiratif  Walimurid Al Hikmah)

evie-maulana


4

4

Suatu Pagi di Pasar Kaget

Oleh : Evie S. Maulana *)

Anak-anak baru saja pulang dari menunaikan sholat subuh di masjid dekat rumah. Namun tidak seperti biasanya, mereka tidak pergi tidur. Ada kegiatan yang cukup mengambil perhatian mereka setelah subuh ini. Yakni menyiapkan dagangannya untuk dipasarkan dipasar kaget setiap minggu pagi.

Setiap minggu pagi setelah subuh mereka berkemas menata barang dagangannya ke dalam mobil. Kemudian kami antar mereka berdua ke pasar yang kami sebut pasar kaget. Mengapa disebut pasar kaget? Karena pasar ini adanya hanya hari minggu saja. Beroperasinya dari setelah subuh sampai kira-kira jam 10 pagi sudah bubar. Pasar ini sangat besar menurut ukuran kami, karena pasar ini tempatnya di dua jalur jalan sebuah perumahan di Sidoarjo. Panjang jalan yang ditempati untuk areal pasar ini kira-kira 2 km. masing-masing jalan ditempati para pedagang dua ruas kiri kanan. Total 4 ruas dari dua jalan ini yang dipakai pasar kaget ini sepanjang 2 km! luar biasa! Lalu apa yang diperdagangkan di sini. Kami menyebutnya pasar global, karena yang diperdagangkan disini sangat beraneka ragam. Dari bawang merah sampai almari dijual disini. Makanan?, tergantung selera kita. Dari mie kocok sampai sate klopo tersedia. Dari yang harganya seribu lima seperti kelereng, sampai 10 juta sebatang seperti gelombang cinta juga ada. Atau mau yang lebih keren diatas 10 juta seperti sepeda motor bermerekpun ada. Pokoknya komplit! Plit! Konon, para pedagangnyapun bukan dari pedagang local, namun berasal dari berbagai kota di Jawa Timur. Amboi!

Disitulah anak-anak saya berdagang. Ketika matarahari masih belum terbit itulah semangat mereka membara untuk berniaga. Ketika hawa subuh masih menyisakan dinginya, mereka menata dagangannya berbaur dengan para pedagang yang entah berasal dari mana. Berbekal tikar dan beberapa kursi kecil-kecil warna-warni yang kami sebut ‘dingklik’ mereka menyusun binatang-binang yang akan mereka jual. Yah! Mereka berjualan bermacam-macam binatang peliharaan yang lucu-lucu. Seperti hamster dari berbagai jenis, kelinci dan marmot dari berbagai jenis, kura-kura dan kelomang dari berbagai ukuran. Mereka juga melengkapi dagangannya dengan menjual makanan dari binatang-binatang yang mereka jual. Makanan ini sengaja mereka kemas kecil-kecil supaya mempunyai nilai jual yang mudah. Hal ini dilakukan untuk mempermudah para pelanggan mereka merawat binatang-binatangnya. Namun ada yang menarik untuk dicermati dua anak lelaki saya ini dalam berdagang. Mereka tak segan berbagi ilmu dan perekembangan teknologi dalam pemeliharaan binatang-binatang lucu ini. Selain itu tak ketinggalan pula mereka menyediakan pula kandang-kandang mungil untuk para hamster, kelinci, kura-kura itu.

Dua anak lelaki kami yang sedang menginjak remaja itu memang sedang belajar berniaga. Usia mereka terpaut 3 tahun. Kakaknya, saat itu sudah duduk dikelas VII SMP Al Hikmah, sedang adiknya yang merupakan anak kedua kami sudah duduk di kelas V SD Al Hikmah. Banyak yang bertanya, mengapa kami ‘tega’ melakukan ini kepada mereka?

Cerita ini bermula juga dari daratan Al Hikmah. Tepatnya di SMP Al Hikmah. Ketika itu kami di undang mengikuti ‘Parenting Class’ yang di adakan sekolah.. Salah satu bahasan dari pertemuan itu adalah bagaimana seorang remaja usia taklif (16 th–18 th) seharusnya sudah mempunyai salah satu kecakapan yang sangat penting. Yaitu kemampuan mentasaharufkan harta, yakni kemampuan untuk membelanjakan hartanya dengan baik. Lalu bapak Fauzil Adhim yang berbicara pada saat itu menyebutkan dan mencotohkan bahwa Rasulullah saw dan beberapa para sahabat sudah sangat mandiri pada usia tersebut. Lalu beliau menceritakan dirinya sendiri bahwa ketika beliau memasuki usia SMU, orang tua beliau sudah membelajari dengan sesuatu yang luar biasa. “Zi, kamu sekarang sudah dewasa. Bapak sudah tidak mempunyai tanggung jawa apa-apa padamu. Urusan bapak sekarang hanyanya menasehatimu dan mendoakan saja. Kalau sampai sekarang bapak masih mengirimi mu uang, nilainya tidak lebih dari uang yang ada di kotak masjid….” Amboi!!

Lalu saya berpikir, bisakah saya mengatakan hal itu ketika anak saya sudah memasuki usia taklif? Namun jujur saya katakan, bahwa saya belum membekali apa-apa.

Kami belum memberikan pembelajaran apapun selain memfasilitasi mereka dengan banyak hal yang menurut kami hal itu adalah kewajiban kami dan hak mereka. Sepertinya kami sudah memberikan banyak hal untuk memulian mereka. Yang ternyata ada satu hal penting yang kami abaikan. Yakni membekali mereka kecakapan mengelola diri pada usia taklif.

Lalau saya mengembara jauh kebelakang dengan pikiran saya…..

Apa yang sudah saya lakukan dengan ke tiga anak lelaki saya. Tidak mungkin rasanya saya bisa mengatakan seperti yang dikatakan bapaknya Fauzil Adhim ketika usia anak saya menginjak usia 16 th-18 th. Tidak mungkin saya katakan demikian dengan tiba-tiba.

Ada sesuatu yang harus kami lakukan sebelum usia itu tiba. Namun sulit rasanya menemukan cara yang membuat mereka berproses dalam urusan yang mendewasakan. Karena kami adalah orang kebanyakan. Suami saya adalah seorang pegawai, yang mendapatkan penghasilannya dengan bekerja diperusahaan orang lain. Pastinya anak-anak tidak bisa terlibat dengan pekerjaan seperti ini. Sedangkan saya adalah seorang wirausaha yang bergerak dibidang jasa dan perdagangan. Dan ini pun tidak bisa melibatkan mereka secara langsung karena saya hanya memantau proses usaha ini berlangsung. Kalaupun bisa, biasanya waktunya adalah pagi sampai sore hari pada saat mereka sekolah.

Alhamdulillah Allah melapangkan kami dalam hal ini. Kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan anak-anak untuk terhadap apa yang mereka ingin lakukan. Karena anak-anak sangat menyukai binatang peliharaan, maka keluarlah ide untuk berdagang binatang peliharaan ini. Tidak tanggung-tanggung, ketika keputusan untuk berdagang sudah bulat, mereka rela untuk mengambil sebagaian besar tabungannya untuk berbagi modal.

Awalnya, tidak mudah untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan ini. Tidak mudah ‘mengantongi ego’ itu ketika pertama kali kami harus turun kepasar bebas ini. Lebih mudah menata barang dagangan di dingklik-dingklik kecil itu dari pada menata hati kami. Sangat berantakan. Tapi hal baik ini harus dimulai…..

Kami mulai dengan mengantar mereka ‘kulakan’, belanja binatang-binatang imut ini di pusat perdaganan binatang hias, yakni di Jalan Irian Barat Surabaya. Belanja keperluan-keperluan dagangan yang lain seperti, kandang, makanan, serabut kayu, plastik kemasan dan lain-lain. Kami mulai dengan menginvestasikan waktu dan tenaga kami untuk mensuport mereka. Karena tanpa investasi hal ini sangatlah tidak mungkin terjadi. Kami juga harus menginvestasikan sabarnya. Karena kami tahu upaya ini perlu kesabaran yang panjang dan istiqomah di dalamnya. Dan akhirnya, bismilahi tawakaltu……..

Kata orang bijak, waktu tanam tidak bersamaan dengan waktu panen. Demikian pula kami. Proses yang mereka lalui tidaklah mudah. Ketika matahari sudah mulai tinggi, mereka harus bertahan dari rasa haus dan lapar karena mereka berangkat memang belum waktu sarapan. Emosi mereka tanpa sengaja diaduk-aduk oleh pembeli yang sepertinya mau membeli dagangannya. Mereka harus melayani begitu banyak karakter calon pembeli. Yang judes, yang baik, yang rewel, yang super pelit, atau kadang mereka harus menghadapi kompetitor sesama pedagang yang merasa tersaingi. Lengkap! Namun mereka berdagang dari minggu ke minggu……

Satu dua tiga kali kami dampingi mereka, kali ke empat, mereka sudah sangat menikmati pekerjaannya. Omset yang mereka dapatkan cukup lumayan besar untuk ukuran anak-anak yakni kisaran Rp. 400.00 – Rp. 500.000 setiap kali berdagang. Hasil yang didapatkan sangatlah luar biasa. Bukan hanya dari segi nominalnya. Namun lebih kepada proses yang dilalui anak-anak remaja ini. Banyak hal yang mereka dapatkan selama dilapangan, yang menjadikan mereka memiliki kecakapan dalam mengelola diri. Bukan hanya mengelola keungannya, namun mereka mempunyai kesempatan pula untuk mengasah kecerdasan intelektualnya, kecerdasan emosialnya serta kecerdasan spiritualnya. Dan sungguh, kami sanggat bersyukur anak-anak lelaki kami ini diberi kesempatan untuk mengalami hal yang sangat mahal ini. Tujuan kami untuk mengajarkan mereka bagaimana mereka bisa membelanjakan hartanya, InsyaAllah tertunaikan. Cukup mengharukan bagi kami kalau mereka sudah mampu memetakan keuangan sendiri. Dengan diam-diam dari hasil mereka berjualan, mereka membeli peralatan sekolah, seragam tim basket, hobby juga sodaqoh…. Subhanallah!

Minggupun berganti bulan, pasar kaget telah memberi pembelajara yang luar biasa. Sekarang mereka telah bisa mengembangkan usahanya dengan beternak hamster. Mereka tidak lagi menjual eceran dipasar, tapi kini mereka bisa menawarkan penjualan partai.

Ada pet shop besar sebagai pelanggan tetap mereka yang secara berkala mengambil hamster imut itu untuk dijual di pet shop tersebut. Disamping mereka juga melayani penjualan eceran untuk kalangan pecinta binatang lucu.

Minggu pagi di pasar kaget itu, anak-anak kami pernah menganyam pendidikan yang tidak mereka dapatkan dirumah maupuan disekolah. Kami berharap sesuatu yang kecil yang telah mereka lakukan itu, kelak menjadi sesuatu yang berguna ketika mereka menapaki kehidupan ketika kami telah tiada. Sejenak kami teringat nasihat Ali Bin Abi Thalib ra. Bahwa kita mendidik anak bukan untuk masa kita ada, namun untuk masa kita tiada…..Wallahu’alam bishowab.

*) Ibunda dari Maudy Rizky Maghfirlana (VIII B) dan Mauza Khalif Farabi (VI A)

Explore posts in the same categories: sharing

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

10 Comments on “Suatu Pagi Di Pasar Kaget”

  1. itho bharata Says:

    Selamat buat mbak Evi atas kemenangannya. Dan selamat juga kepada keluarganya yang hebat!

  2. wilis Says:

    PF Mba Evi…Selamat yaa
    Saya jd terinspirasi…what we’ll do to our children.
    Sekali lagi selamat utk inspirasi yg luar biasa

  3. Cindy Says:

    Selamat buat mbak Evi,, trims untuk ceritanya,,
    Moga2 cepet di publish ya….

  4. Saritomo&Sandra Says:

    Wow luar biasa cerita dan penulisannya ….sangat inspiratif.
    Selamat ya Bu.
    Mudah-mudahan kami bisa mencontoh nilai-nilai
    yg terkandung di dalam cerita.

  5. Mona Says:

    Asslm Mba Evy Rahimakumullah..
    Subhanallah.. Setelah baca ceritanya, No Wonder mba Evy inilah yg dipilih sbg pemenang, Luar Biasa!!! Cerita mba evy sangat menginspirasi kita semua u berani “Tega” memotivasi, memfasilitasi dan mendampingi anak2 u berlatih entrepreneur sejak dini, coz ini sama sekali bukan hal yg mudah..terutama menguatkan hati kami para mom u “kuat n tabah” melihat anaknya berjualan, pastinya u memulainya aja udah ga tega duluan yaa mbaak. Tapi saya yakin, dengan inilah anak2 menjadi tumbuh jauh Tough, Mature, lebih mandiri dan Percaya diri.. Insya Allah pengalaman mba Evy akan menjadi ilmu yg bermanfaat u kami semua.
    Keep Those Good Work Mom, u`re the best😉

  6. Fathor Rahman Says:

    Terimakasih banyak telah berbagi cerita yang InsyaALLAH akan sangat bermanfaat untuk anak-anak kita, amin . . .

  7. wuryanano Says:

    Memang kisah yang inspiratif, mendidik anak2 agar sanggup mandiri dalam kehidupannya.🙂

    Btw, setahu saya yg sangat terbatas ini, bahwa hewan yang boleh diperjual-belikan sesuai ajaran Islam itu adalah hewan yang masuk kategori hewan ternak yang tidak diharamkan.

    Sedangkan hewan piaraan, seperti burung, kucing, marmut, hamster, dsb…itu masih banyak perdebatan dan belum final “penggodokannya” di kalangan ulama.

    Mohon diinfokan lewat blog ini, jika ada penjelasan lebih update dan akurat mengenai jual-beli hewan piaraan tsb. Terima kasih.

    Salam Sukses Penuh Berkah,

    Wuryanano🙂
    Motivational Blog – Support Your Success
    Entrepreneur Campus – Support Your Future

  8. teti Says:

    Selamat buat mb Evy & jagoan2nya….anak laki laki?? 3 anak laki2 yg Allah anugerahkan jg kpd saya & suami. Inilah cerita yang membuat kami semakin terbuka hati & terinspirasi, bahwa pembelajaran tdk bisa hanya baca teori, akan ttp dipraktekan. InsyaAllah dgn jagoan2 kami yg msh kcl, kami ingin menerapkan kemandirian n belajar bersosialisasi dgn lingkungan tertentu, contohnya orang2 n lingkungan di pasar kaget…spt crt jenengan. Skl lg selamat bwt m Evy n fam….

  9. puguh Says:

    salam.

    Tulisan bagus, ^_^

  10. puguh Says:

    Tulisan bagus…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: