Matamorfosis Sang Juara

(Inilah tulisan yang menjadi pemenang Juara 2 pada Lomba Menulis Kisah Inspiratif  Walimurid Al Hikmah)

n1570308770_70391_8947 Metamorfosis Sang Juara

Oleh : Itho Bharata *)

Dalam salah satu gerbong kereta api Ekspres Agro Anggrek Surabaya-Jakarta. Tidak terasa air mataku menetes satu demi satu , saat ku baca lagi pesan singkat dari Deputy leader anakku, “Alhamdulillah! Ananda mendapat Silver Medals”. Aku memang nekat berangkat ke Jakarta malam itu, dengan karcis terakhir yang tersisa di loket. Aku ingin menjemput sendiri anakku yang baru kembali dari Olimpiade Matematika di Singapura. Subhanallah …. Aku ingin menyambutnya dengan senyuman termanisku. Karena aku ingin dia tahu betapa aku sangat bangga padanya. Karena memang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, bahwa anakku “yang sekarang”, sudah bisa mengharumkan nama Bangsa, Negara dan Agamanya …………


Bagaimana mendidik anak supaya jadi juara? Bagaimana supaya anak gemar Matematika? Kursus-kursus apa saja yang harus diikuti supaya bisa berprestasi? Bagaimana cara mengetahui bakat anak sejak dini? dan lain lain. Pertanyaan itulah yang selalu berulang kali ditanyakan hampir semua orang yang kutemui, juga wartawan saat wawancara, maupun dalam talk show yang mengundang kami sebagai bintang tamu, setelah anakku berhasil memenangkan beberapa kompetisi yang diikutinya . Malu rasanya aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aku merasa belum pantas untuk menjawabnya. Aku bukan orang pandai yang punya beribu teori dalam mendidik anak. Aku juga bukan ibu yang sudah punya banyak pengalaman. Bagaimana kalau caraku mendidik anak ternyata salah? Bagaimana kalau jawabanku justru menjerumuskan orang tua lain? Aku tanyakan ke suamiku, dan sering kupaksa dia untuk ikut menemaniku menjawab pertanyaan mereka. Sungguh aku merasa tidak pede. Aku takut salah berteori, takut salah bicara dan sebagainya. Dan dengan berbagai alasan, suamiku selalu menolak, karena dia merasa tidak terjun langsung mendidik anak-anak. “Trus aku harus ngomong apa Pah?” Suamiku hanya berkata : “Ceritakan saja pengalamanmu apa adanya”.

Kucoba mengingat kembali peristiwa 11 tahun lalu, dan mungkin orang tidak akan percaya kalau kuceritakan bahwa anakku yang mereka lihat sekarang ini sangat berbeda dengan masa kecilnya dulu. Anakku yang saat balitanya adalah anak yang sangat aktif (cenderung hiperaktif), manja , tidak sabaran, susah konsentrasi, menang sendiri, tidak mau kalah dan sebagainya, sekarang sudah banyak “berubah”. Dan perubahan itu ternyata mengalir begitu saja, walaupun awalnya aku sendiri juga gamang, apakah aku bisa membuat anakku berubah? harus kumulai darimana dulu untuk merubahnya? Dan dengan cara bagaimana?

Sejak dinyatakan positif hamil oleh dokter, aku menyambutnya dengan perasaan gembira. Walaupun saat itu aku masih bekerja di salah satu bank BUMN di Surabaya, kehamilanku tidak membuatku jadi bermalas-malasan. Aku malah semakin rajin melakukan sholat dan puasa, dari yang wajib sampai yang sunah, juga membaca Al Quran. Aku sendiri juga heran, kenapa waktu hamil yang pertama ini aku rajin sekali beribadah. Kalau ditanya makanan apa saja yang kumakan selama hamil? aku lupa, tapi yang kuingat, aku tidak ada masalah dengan makanan. Tidak ada ngidam. Semua makanan kumakan, malahan saat itu, bila aku masih terlintas kepingin makanan tertentu, tiba-tiba makanan itu sudah ada di depanku (tiba-tiba menu rantangan makan siangku sesuai dengan yang kuinginkan, rombong makanan keliling yang tidak pernah lewat rumah tiba-tiba lewat ketika kuinginkan, buah yang bukan musimnya juga tersedia di toko buah dan kebetulan-kebetulan lainnya). Dan ternyata sampai bulan kesembilan kehamilanku, hasil USG masih memperlihatkan kalau bayiku dalam posisi sungsang. Akhirnya dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi. Di bulan Ramadhan, tanggal 14 Januari 1997, pukul 08.30, anakku lahir dengan selamat. Kata dokter yang mengoperasi, ternyata tali pusatnya pendek, sehingga membuat si bayi tidak bisa berada pada posisi normal. Tapi lucunya ada juga orang tua yang bilang ke aku, kalau kepercayaan kuno dulu, anak yang terlahir sungsang, pertanda kalau nantinya akan jadi Tabib (orang pandai pada jaman dulu atau istilah sekarang, dokter), karena sejak dalam kandungan, si jabang bayi sudah bersemedi dengan posisi kepala terbalik. Amin. Wallahualam.

Mungkin karena di dalam perut dia tidak bisa banyak bergerak (karena ada kelainan pada tali pusatnya), sehingga setelah diluar, dia bagaikan lepas dari belenggu. Kebetulan anakku yang pertama, saat itu adalah cucu pertama dari keluarga suamiku. Sehingga nenek dan kakeknya, juga tante-tantenya sangat memanjakannya (diawal menikah aku masih tinggal serumah dengan mertua). Jadi bagaikan raja kecil dengan dayang-dayangnya (1 baby sitter dan 2 orang pembantu), anakku tidak pernah bisa diam, bergerak kesana-kemari seperti tidak kenal lelah, minta ini itu cuma menunjuk dan berbicara dengan bahasa planetnya (anakku baru bisa bicara pada saat usia 2,5 tahun), dan rasanya dia juga belum puas kalau seluruh rumah belum dijelajahi dan dibuatnya berantakan. Kalau bermain dengan teman atau saudara (yang sedang berkunjung) ujung-ujungnya pasti menangis, kalau tidak berantem gara-gara berebut mainan atau anakku tidak mau kalah kalau sedang bermain. Dan karena sangat aktifnya anakku sering tidak bisa tidur hingga larut malam. Ada saja yang dikerjakannya, padahal yang menjaga sudah pada ketiduran karena kelelahan mengikuti dia seharian.

Dulu aku sering malu rasanya kalau mengajak dia bepergian keluar rumah atau ke berbagai pertemuan, karena hampir semua orang yang melihat tingkah polah anakku akan mengatakan kalau anakku “nakal sekali” (hanya beberapa orang yang mengerti bahasa psikologi akan mengatakan kalau anakku sangat aktif). Dia selalu membuat ulah yang membuat aku ingin cepat-cepat angkat kaki dari tempat tersebut, karena malu. Awalnya kupikir semuanya itu masih dalam batas wajar, namanya juga anak-anak, pikirku, tetapi lama-lama karena banyak yang mengatakan begitu, membuatku kepikiran juga.

Sejak kecil dia memang sudah terlihat cerdas. Saat usia 2,5 tahun, setelah mulai lancar berbicara, dia langsung hapal luar kepala angka, abjad, warna, nama binatang dll (dalam bahasa Inggris dan Indonesia), memasang puzzle hanya dalam hitungan detik, juga kemampuan lainnya. Sehingga saat itu, karena kuanggap sudah mampu, di usia 3 tahun sudah kumasukkan ke play group. Tapi ternyata aku salah, walaupun mungkin dia mampu mengikuti semua kegiatan, tapi emosinya tetap tidak bisa dipaksa. Sehingga waktu dia tidak dinaikkan tingkat di kelompok play groupnya, aku sempat protes , Anakku kan mampu? kenapa tidak boleh naik? dan setelah mereka menjelaskan bahwa anakku memang menonjol di hampir semua aspek, tapi emosinya masih belum stabil, baru aku bisa mengerti. Tapi saat itu aku belum menangani “masalah” anakku secara serius (karena saat itu aku masih bekerja, hingga waktuku sangat terbatas).

Aku baru bener-bener tersentak setelah anakku tidak diterima masuk ke sekolah Taman Kanak-kanak yang kami inginkan. Dan mereka memberikan catatan khusus tentang perilaku anakku pada berkas test masuknya. Sejak saat itu, baru aku sadar bahwa anakku punya masalah serius. Saat itu aku sedih sekali. Bukan karena tidak diterima di sekolah tersebut, tapi aku merasa bersalah karena tidak menyadari lebih dini apa yang terjadi padanya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, dan kebetulan aku juga baru melahirkan anak kedua, akhirnya kuputuskan aku keluar dari tempat kerjaku supaya aku lebih bisa berkonsentrasi memperhatikan keluarga. Apalagi aku juga sudah mulai diingatkan orang tuaku, “Anakmu yang satu ini harus lebih kamu perhatikan, karena dia anak yang pinter, kalau tidak diarahkan yang bener, dia akan jadi nakal dan bisa lebih berbahaya dari anak yang rata-rata” Akhirnya kumasukkan anakku ke TK Islam lain yang kuanggap baik juga. Dan aku terus berkonsultasi dengan guru kelasnya, untuk mengikuti perkembangannya. Selain itu, aku mulai banyak berkonsultasi ke orang-orang yang paham ilmu psikologi. Aku juga mulai membaca buku-buku tentang psikologi anak, dan juga banyak berkomunikasi dengan ibu-ibu yang mempunyai anak “bermasalah”. Dan kesimpulannya, sebenarnya anakku tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan, tapi memang dia sangat aktif (energinya berlebih) dan mereka menyarankan memberikannya banyak kegiatan yang dapat menyalurkan energinya.

Kucoba mulai mencari informasi beberapa kegiatan yang kira-kira sesuai dengan kemampuannya dan yang menarik minatnya. Awalnya kucoba memasukkannya ke kursus aritmatika (sempoa), dan ternyata dia suka. Kemudian berlanjut ke kursus bahasa Inggris, kursus menggambar, dan dirumah juga dibantu oleh guru privat yang menemaninya belajar dan bermain. Hari Minggunya kuajak dia kursus berenang. Sejak itu, tiada hari tanpa kegiatan untuk anakku. Orang yang melihat mungkin tidak tega. Bahkan aku disalahkan oleh beberapa orang, yang tidak setuju dengan perlakuanku. Ada yang bilang, aku terlalu mengekploitasi anakku sendiri, aku berambisi dan beberapa omongan lainnya. Aku sedih mendengarnya. Kalau mau jujur, sebenarnya aku juga nggak tega melihatnya seperti itu. Tapi demi kebaikannya juga, aku harus sabar dan mencoba bertahan. Aku hanya bisa berdoa, Semoga apa yang aku lakukan tidak salah dan berharap suatu saat pasti berbuah hasil..

Tapi boleh percaya boleh tidak, ternyata dengan semua kegiatannya itu, anakku tidak pernah mengeluh, dia melakukannya dengan senang. Bahkan kalau tidak bisa masuk dia sangat kecewa dan malah menangis karena takut ketinggalan dengan temannya. Memang kadang dia juga merajuk tidak mau berangkat (biasanya karena ada yang “lebih menarik” di rumah), tapi itu jarang sekali terjadi. Dan Alhamdulillah, secara perlahan anakku mulai banyak berubah. Tidurnya mulai lebih awal, anaknya mulai tenang, mulai focus pada kegiatan yang dilakukan dan konsentrasinya meningkat. Juga kemampuan lainnya mulai mengikuti dan berkembang dengan baik. Dan karena ketekunannya dalam berlatih, ternyata dia bisa berprestasi di semua tempat kursusnya. Di kursus sempoanya, bahkan selalu terpilih untuk mewakili lomba di tingkat Nasional (sejak duduk di TK sampai kelas 5).

Walaupun kegiatannya sangat padat, pelajaran sekolahnya tidak pernah terganggu (Alhamdulillah di kelas dia anak berprestasi). Padahal awalnya aku juga khawatir, karena dia juga mulai masuk sekolah full day. Tapi Subhanallah., Maha suci Allah yang telah membuat otak dan tubuh kita sedemikian hebatnya. Memang sering kita meremehkan dan memanjakan kemampuan otak dan tubuh seorang anak kecil. Takut mereka capek, takut jatuh sakit, takut sekolahnya terganggu dan sebagainya. Padahal kalau kita tahu, kemampuannya ternyata sangat luar biasa. Karena sebenarnya otak kita juga sama dengan anggota tubuh yang lain, yang bila dilatih sejak kecil lama-lama akan menjadi “tough” (kuat dan tangguh) . Seperti juga seorang olahragawan, karena otot mereka terbiasa diberikan latihan berat, akhirnya mereka tidak akan merasa lelah lagi ketika disuruh lari berapa ribu meter atau mengangkat beban berat sekalipun. Memang tidak ada yang instan, semuanya perlu latihan dan kesabaran.

Teori tersebut mungkin tidak bisa diberikan kepada semua anak. Terbukti teori tersebut tidak bisa kami terapkan ke anak kami yang lain. Tapi aku hanya ingin mengubah pandangan orang tua yang sering pesimis dengan kemampuan anaknya . Karena sekarang, banyak yang bilang ke aku, “Enak ya mbak anaknya pinter, jadi ndak repot kayak kita”. Sebenarnya kalau mau dibilang, anakku juga bukan anak yang sangat jenius dengan IQ 150, bahkan mungkin anak yang lebih pandai dari anakku juga sangat banyak. Mungkin mereka hanya melihat anakku sudah seperti sekarang, bukan yang dulu. Dan mungkin dulupun aku juga pernah berpikir seperti mereka bila melihat anak orang lain bisa sukses. Tapi sebenarnya kalau kita mau sabar mengarahkan anak kita, dengan pendekatan yang disesuiakan dengan karakter masing-masing anak, Insya Allah tidak ada yang tidak bisa berubah.

Aku juga selalu mencoba membangun semangat anakku untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik. Mencoba menjadikan kekurangannya menjadi suatu kelebihan yang dia miliki. Misalnya anakku mempunyai sifat tidak mau kalah (kalau bermain dengan teman, dia akan marah kalau kalah dan selalu minta jadi yang nomer satu), bagaimana caranya sisi negative itu menjadi positif? bagaimana memberi pengertian kepadanya tentang bersaing yang sehat? bagaimana menumbuhkan jiwa sportifitasnya?. Misalnya dengan sering mengikutkannya ke berbagai kompetisi. Memang awalnya dia akan kecewa kalau kalah. Tapi lama-lama dia akan terbiasa menerima kekalahan dan kemenangan. Dia akan tahu bahwa dalam suatu kompetisi, “Siapa yang lebih siap, akan menjadi yang terbaik”.

Alhamdulillah anakku saat ini sudah banyak mengalami perubahan, walaupun masih jauh dari “sempurna”. Tapi setidaknya banyak perubahan kearah yang lebih baik. Anakku masih perlu banyak belajar dan masih panjang perjalanannya. Dan biarlah proses itu dijalani secara bertahap dan aku hanya berdoa semoga berakhir dengan sempurna. Bak seekor ulat kecil yang nakal, yang harus mengalami metamorfosa menjadi kepompong dulu, supaya bisa menjadi seekor kupu-kupu yang “Indah”, yang dapat membuat senang dan kagum orang yang melihatnya, Amin.

*) Ibunda dari Alif Akbar PB-6B, Amira Aulia PB-2F, Bey Alhafizh- TK B2


Explore posts in the same categories: sharing

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

7 Comments on “Matamorfosis Sang Juara”

  1. Cindy Says:

    Siapa bilang kamu nggak bisa menerangkan sebabnya Alif bisa mendapat prestasi seperti itu mbak, buktinya,cerita diatas akhirnya menjadi salah satu bahan jujukan aku untuk mendidik anak-anak.

    Orang lain cuma bisa menilai, tapi kita yang menjalani pasti tau batasan kemampuan seorang anak.

    Masing-masing anak punya karakter yang berbeda, berarti kita harus bisa ngikutin ritme masing-masing karakter ya mbak?
    artinya, kita sebagai orang tua harus jadi “bunglon” yang bisa menyesuaikan diri dengan karakter anak.

    What a great story to share,,thank you mbak,, pastinya sangat berharga buat orang lain yang ikut baca….

    Sukses selalu buat anak-anaknya ya mbak!!!!

  2. wilis Says:

    Selamat Mbak…
    Kaum ibu tidak hanya hrs jd bunglon yaa, tp jg jd pengamat jitu. Mengamati tiap anak yg beda karakter. Benar2 hrs peka.
    Pengalaman ini bisa dicoba utk anak2 yg kelebihan energi atau hyperarktif: mengisi waktu2nya dg kegiatan yg sesuai.
    Mmg kudu jd ibu n pendamping 100% yaa…kadang ini pilihan yg sulit…sekali lg selamat. Bangga juga ada anak2 kita turut mengharumkan bangsa

  3. itho bharata Says:

    Terimakasih atas komentarnya mbak..

    Pada dasarnya kami tidak bermaksud menggurui, tapi hanya ingin berbagi pengalaman aja. Karena saya yakin temen2 yang lain pasti mempunyai kemampuan yang jauh diatas saya dalam mendidik anak2 dan mungkin juga mempunyai pengalaman yang jauh lebih spektakuler dari pengalaman saya.

    Dan saya yakin temen2 (terutama ibu2) pasti sudah dikarunia naluri yang kuat untuk mendidik anak2 mereka dengan cara yang disesuaikan dengan karektar anak mereka masing. Karena bagaimanapun feeling seorang “ibu” ( atau orang tua, bukan bermaksud mengesampingkan arti seorang bapak) yang paling pas untuk melakukan pendidikan kepada anak2nya.

  4. teti Says:

    Oh ho…seneng banget dan terharu bacanya mbak. Selamat, mdh2an pengalaman mb itho bisa menginspirasi ortu, terutama bagi ortu yang skg lg ngalamin hal spt wkt Alif kecil…Pengalamanku skg hampir spt yg mb itho alami dl, bedanya anakku kalo lg malas les ya malas gak bisa dibujuk utk brgkat les…anakku cendrung moody. Jadi aku hrs lbh byk sabar lg dibanding jenengan dl ( bisa tdk ya..) n lbh bs mensiasatinya. InsyaAllah, dengan adanya ungkapan mb itho, mdh2an aku dan ibu ibu semua bisa…selamat!!

  5. Sishiel Says:

    Seneng bisa tau cerita Alif dari kecil……wah usahamu untuk bisa membuat alif “diem” patut diacungin jempol…selamat deh mbak ….jadi sekarang ibu dan anak berprestasi ya….hehehehehehehe

  6. heni prasetyorini Says:

    saya dukung selalu gairah membina anak kita. kemarin mario Teguh di metro tv mengatakan : kita tidak bisa mengharapkan anak kita mengalami ledakan yang hebat dalam hidupnya, kita hanya bisa mendampinginya dengan perasaan disayangi. jugainti sari QS Al Furqan ttg do’a untuk anak soleh, jadikanlah mereka perhiasan mata ortunya dan jadikanlah ortunya teladan yang baik. jadi yang bisa kita lakukan adalah menjadi teladan dan mendampingi mereka. selanjutnya terserah Allah SWT. begitulah yang sudah mbak lakukan juga. terima kasih atas inspirasinya dalam cerita mbak


  7. Salam dari seorang guru di Al-Auliya Balikpapan. Nice blog..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: